• News

  • Pendidikan

Kemenristekdikti Akan Hentikan Tunjangan Guru Besar Jika Tak Produktif

Guru besar diwajibkan melakukan publikasidi jurnal internasional (Tekno Fans)
Guru besar diwajibkan melakukan publikasidi jurnal internasional (Tekno Fans)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemerintah berencana menghentikan tunjangan kehormatan guru besar para profesor yang tidak produktif melaksanakan publikasi di jurnal internasional. Kebijakan tersebut diambil untuk  mendorong peningkatan jumlah publikasi internasional Indonesia.

“Guru besar harus buat publikasi internasional. Kalau tidak ada publikasi maka tunjangan akan diberhentikan sementara,” kata Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir, seperti dilansir dari laman Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (31/1/2017).

Nasir menjelaskan, tunjangan kehormatan profesor dan profesi dievaluasi setiap tiga tahun oleh  Direktorat Jendral Sumber Daya Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Untuk pertama kalinya, evaluasi tunjangan ini akan dilakukan pada November 2017.

“Evaluasi kinerja dan produktivitas profesor/guru besar ini dilakukan dengan memperhitungkan karya ilmiah sejak tahun 2015 lalu,” terangnya.

Nasir mengatakan dosen dengan jabatan akademik profesor akan memperoleh tunjangan kehormatan guru besar dengan ketentuan harus menghasilkan paling sedikit 3 karya ilmiah dalam jurnal internasional dalam waktu 3 tahun. Selain itu , juga harus menghasilkan paling sedikit 1 karya ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal internasional bereputasi, paten, atau karya seni monumental dalam waktu tiga tahun.

Nasir menyebutkan ke depan pihaknya akan terus menggenjot jumlah publikasi internasional.  Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Kemenristekdikti 2015-2019, tahun 2017 ditargetkan akan dihasilkan 8.000 publikasi internasional. Namun, saat ini publikasi internasional yang dihasilkan sudah mencapai angka 10.500.

“Target 2017 diangka 8.000, tapi sekarang sudah terlampaui 10.500. Ke depan kita genjot bisa mencapai 15-16 ribu publikasi internasional,” tukas Menteri Nasir.

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Lince Eppang