• News

  • Pendidikan

FSGI Nilai Kekerasan dalam Pendidikan Semakin Masif dan Mengerikan

Ilustrasi penyerangan dengan senjata tajam (Public Domain Pictures)
Ilustrasi penyerangan dengan senjata tajam (Public Domain Pictures)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengaku prihatin dengan kasus kekerasan yang dilakukan oleh siswa yang terjadi di SMAN 1 Karangnongko, Karangnongko, Klaten.

"Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan dan terjadi justru disaat bangsa Indonesia sedang memperingati Hari Pendidikan Nasional," ujar Retno di Jakarta, Kamis (4/5/2017).

FSGI menyampaikan duka mendalam kepada keluarga korban kekerasan dalam peristiwa penyerangan tersebut, baik korban luka ringan maupun berat.

FSGI juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas berbagai kekerasan dalam pendidikan, baik yang terjadi di dalam sekolah maupun di luar sekolah yang terus terjadi, bahkan semakin masif dan mengerikan.

"Kami mendorong pihak-pihak terkait di pendidikan seperti Kemdikbud, inspektorat, kepala daerah, dinas-dinas pendidikan untuk tidak menyelesaikan ini secara parsial dan seperti memadam api, tapi sebenarnya tidak menyelesaikan masalah sehingga kejadian serupa terus berulang, bahkan semakin masif," imbuh dia.

Keempat, saatnya menerjemahkan revolusi mental dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam wujud yang aplikatif, mudah dipahami, melibatkan banyak pihak untuk memberikan kontribusi pemikirannya dan menyelesaikan langsung ke jantung masalahnya.

Selanjutnya, kepala-kepala sekolah dan birokrat pendidikan di seluruh Indonesia harus dipersiapkan, dilatih dan dibekali kemampuan mencegah dan mengatasi kekerasan di berbagai sekolah karena semakin masif.

"Selama ini cara mengatasinya adalah dengan mengeluarkan pelaku dan memindahkan ke sekolah lain, akibatnya pelaku tidak dibina untuk berubah tapi pelaku justru menularkan virus kekerasan di sekolah barunya. Akibatnya kekerasan semakin masif," katanya.

Kemudian, sekolah harus membangun hubungan baik dengan orangtua siswa agar dapat bersinergi mencegah dan mengatasi berbagai bentuk kekerasan yang mungkin terjadi di pendidikan. Kekerasan di pendidikan dalam bentuk dan tujuan apapun semestinya tidak terjadi lagi di pendidikan, sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk peserta didik.

Kemudian, penting sekali menyosialisasikan UU Perlindungan anak kepada guru, kepala sekolah, pengawas, birokrat pendidikan dan peserta didik, termasuk ancaman pidana yang mungkin dihadapi akibat tindakan kekerasan tersebut.

Untuk diketahui, pada Selasa (2/5/2017), sekitar pukul 14.00 WIB, sekelompok siswa dari sekolah yang berbeda mengeroyok siswa dan masyarakat yang berada di sekitar SMAN 1 Karangnongko, Klaten. Penyerangan dilakukan dengan menggunakan senjata tajam berbagai jenis. Akibatnya, lima luka berat karena tertusuk benda tajam dan 11 lainnya mengalami luka ringan.

Editor : Lince Eppang
Sumber : Antara