• News

  • Pendidikan

FSGI : Memprihatinkan Santri Yang Disandera YPI Al Zaytun

FSGI : Santri yang disandera YPI Al Zaytun tidak dapat jatah makan.(Dok:Pariwisata)
FSGI : Santri yang disandera YPI Al Zaytun tidak dapat jatah makan.(Dok:Pariwisata)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nasib santri IF (18 tahun) dan PR (15 tahun) yang disandera oleh pihak YPI Al Zaytun hingga Selasa (30/5/2017) masih belum diizinkan meninggalkan Mahad Al-Zaytun. 

Kondisi PR, anak perempuan  yang kelas IX, saat ini  tinggal di kamar sendirian karena teman-teman angkatannya sudah meninggalkan asrama sejak 2 minggu lalu. Yang mengenaskan,  IF maupun PR saat ini sudah tidak mendapatkan jatah makan lagi dari YPI Al-Zaytun.

Informasi ini berasal dari  ayah kedua santri yaitu PB. Saat ini PB dan istrinya berkebun  dan menjual hasilnya ke pasar. Uang hasil penjualan itu dikirim ke IF dan PR agar keduanya dapat membeli makanan saat sahur dan berbuka puasa. 

Sebelumnya Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menyampaikan bahwa  mulai Mei 2017, seharusnya santri  IF dan PR sudah libur dan dapat berkumpul dengan keluarganya, istilahnya “belajar dimasyarakat”. Namun, ketika santri lain mendapatkan haknya berkumpul dengan keluarga, kedua anak PB  “disandera”, hanya boleh meninggalkan Mahad Al Zaytun jika orangtuanya  sudah membayar lunas tagihan sekolah yag totalnya mencapai Rp 43 juta. PB tidak mampu membayar karena kehilangan pekerjaan akibat PHK sepihak oleh Al Zaytun sendiri. 

“Padahal, urusan bayaran sekolah adalah kewajiban orangtua, jadi sangat tidak patut jika pihak yayasan menahan dan menyandera anak-anaknya karena alasan uang tagihan sekolah. Hal ini jelas melanggar hak-hak anak dan prinsip-prinsip pendidikan itu sendiri. Apalagi ini kan bulan Ramadan yang seharusnya anak-anak itu bisa menjalankan ibadah puasa bersama orangtuanya tercinta.” ujar Sekjen FSGI, Retno Listyarti, seperti dalam laporan tertulis yang redaksi terima, Rabu (31/5/2017).

Saat ini, IF yang kelas XII seharusnya setelah Ujian Nasional (UN) sudah diperkenankan pulang ke rumahnya, terhitung mulai 24 April 2017, artinya sudah “disandera” selama 33 hari. Sedangkan PR yang kelas IX seharusnya pasca UN juga sudah diperkenankan pulang 14 Mei, berarti sudah “disandera” selama 13 hari. Namun hingga, 28 Mei 2017  keduanya tidak mendapatkan hak pulang dan menjadi sandera pihak YPI Al Zaytun sampai orangtuanya bisa melunasi seluruh tagihan, padahal orangtuanya tidak memiliki kesanggupan karena di PHK Al Zaytun sendiri.

PB dan istri berupaya mengurus ijin kepulangan anaknya dengan minta kebijakan pengurus Yayasan Al Zaytun, namun ditolak kecuali melunasi seluruh tagihan.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Sulha Handayani