• News

  • Persona

Tokoh Indonesia yang Konsisten Berkiprah di Bidang Lingkungan Hidup

Prof DR Emil Salim, foto bersama keluarga usai menerima penganugerahan Wirakarya Adhitama, Kamis (2/6) di kampus FEB UI Depok. (Netralnews/Farida Denura)
Prof DR Emil Salim, foto bersama keluarga usai menerima penganugerahan Wirakarya Adhitama, Kamis (2/6) di kampus FEB UI Depok. (Netralnews/Farida Denura)

Berita Terkait

Hari ini tepatnya Rabu, 8 Juni 2016 Prof DR Emil Salim genap berusia 86 tahun. Meski demikian mantan guru besar Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UI yang mengecap pendidikan dasar di Lahat, sebuah kota kecil di pinggir sungai Lematang, Sumatera Selatan ini masih tampak segar bugar. Segar jasmaninya dan bernas pula pemikirannya. 

Kamis 2 Juni 2016 lalu Prof Emil Salim mendapat penganugerahan Wirakarya Adhitama di kampus Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) UI Depok, sebuah penghargaan yang diberikan untuk tokoh FEB UI yang sudah sangat besar jasanya dan pengabdiannya untuk civitas akademika FEB UI serta bagi bangsa dan negara tanpa putus-putus. Hasil karyanya selalu mengharumkan nama bangsa dan negara serta mendapatkan prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.

Emil Salim adalah keponakan Haji Agus Salim, salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia, dilahirkan di Lahat, sebuah kota kecil di pinggir sungai Lematang, Sumatera selatan pada 8 Juni 1930. Di kota yang kala itu masih dikelilingi hutan lebat, itulah keakraban Emil Salim kecil dengan alam mulai terasah. Kebiasaan berburu durian hutan sambil bermain di hutan dan pemelajaran praktis untuk memahami alam yang diberikan oleh guru kelasnya di Sekolah Dasar di kota tersebut secara perlahan  membentuk kecintaan Emil Salim kecil terhadap alam. Sementara itu, kecerdikan gurunya untuk memancing minat baca para siswa didiknya dengan cara membacakan penggalan berbagai cerita seruyang kemudian harus dilanjutkan sendiri oleh para siswa didiknya tersebut tak pelak ikut berperan dalam membangkitkan minat untuk mencari dan membaca buku yang dianggap menarik pada diri Emil Salim kecil. Akibat pengaruh gurunya pulalah Emil Salim kecil kemudian menjadi “kutu buku”, melahap semua karangan Karl May serta secara perlahan memperoleh pelajaran mengenainilai-nilai kedamaian, keikhlasan, keadilan, kebenaran, dan ketuhanan yang kemudian terpatri dalam sanubarinya. Kenangan masa kecil yang begitu indah terhadap keasrian, keindahan, dan manfaat hutan sebagai suatu keseimbangan ekosistem bagi seluruh makhluk hidup inilah yang kelak sangat mewarnai pengambilan kebijakan yang dilakukan Prof. Emil Salim ketika menjabat sebagai Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup bertahun-tahun kemudian.

Meski ayahnya, seorang kepala Pekerjaan Umum (PU) tergolong mampu, Emil sempat mengalami hidup prihatin. Masih duduk di SMP, di Palembang, ia ditunjuk menjadi Ketua Tentara Pelajar dan Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI). Tamat SMP, Emil merantau ke Bogor, masuk ke SMA Republik, menjadi Ketua Cabang IPPI dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi. Tidak heran jika di balik bajunya selalu terselib sepucuk pistol. Emil, yang menyukai kisah petualangan karangan Karl May, menemukan kesamaan antara cerita dalam buku dan kenyataan yang dialaminya ketika berjuang dahulu. Kalau dalam buku terdapat adegan tidur di tengah hutan, makan daging bakar, dan melihat orang tertembak mati, ''Semua itu juga kami alami. Mengerikan memang, tapi mengesankan,''ujarnya.

Setelah lulus SMA, Emil masuk Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Tempat kuliah waktu itu di Gedung Kesenian, Pasar Baru. Suatu ketika, gedung tempat Emil dan kawan-kawan kuliah dipakai untuk kegiatan lain. ''Terpaksa kami ramai-ramai naik sepeda ke suatu tempat, dan kuliah di bawah pohon,'' tuturnya mengenang.

Sebagai mahasiswa, ia aktif dan tercatat sebagai pelopor pembentukan Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia. Emil sempat pula menjadi asisten dosennya, Sumitro Djojohadikusumo. Lulus UI, Emil dikirim ke Universitas California, Berkeley, AS, dan meraih gelar doktor dengan disertasinya Institutional Structure and Economic Development, 1964.

Semasa menjadi mahasiswa, Emil Salim kembali mengasah kemampuan organisasinya. Bakat kepemimpin Emil Salim ditunjukkannya ketika memelopori pembentukan Dewan Mahasiswa di Universitas Indonesia dan sekaligus menjadi ketua dari tahun 1955 hingga tahun 1957. Dalam bidang akademik Emil Salim juga menunjukkan prestasi yang menonjol yang menyebabkannya terpilih sebagai asisten dosen Prof. Sumitro Djojohadikusumo. Emil Salim kemudian dikirimkan ke University of California, Berkeley, salah satu perguruan tinggi yang sangat prestisius di Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikannya pada tahun 1959. Emil Salim memperoleh gelar Master of Arts pada tahun 1962 dan gelar PhD pada tahun 1964 di Universitas yang sama dengan disertasi berjudul “Institutional Structure and Economic Development”. Sekembalinya ke Indonesia, Emil Salim ikut bergabung bersama para ekonom muda di bawah pimpinan Prof. Widjojo Nitisastro, yang selanjutnya seringkali dijuliki sebagai “Mafia Berkeley”, memikirkan berbagai stategi baru untuk memacu pembangunan setelah perekonomian Indonesia mengalami karut marut di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno.

Di antara para ekomom muda tersebut Emil Salim termasuk yang menonjol sehingga tak kurang dari Prof. Widjojo Nitisastro sendiri yang menagkui bahwa di antara murid Prof. Sumitro Djojohadikusumo, Emil Salim lah yang paling setara dengan gurunya dalam kecerdasan, daya anlisis, pengambil keputusan, penyampaian pendapat, dan daya argumentasi, hingga keterbukaan sikap dan keterusterangan. Di luar berbagai stigma yang dilekatkan pada “Mafia Berkeley”, Emil Salim sendiri dengan jernih tetap memandang bahwa model pembangunan yang diperlukan oleh Indonesia saat itu adalah yang tidak kapitalis seperti pola Amerika Serikat ataupun komunis seperti pola Rusia, namun yang bersifat campuran dan khusus Indonesia dengan nuansa Islam. Pandangan Emil Salim saat itu tidak terlepas dari ketertarikannya akan gagasan Gamal Abdul Nasser dalam menerapkan sosialisme Islam.

Penulis : Sesmawati
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari berbagai sumber