• News

  • Persona

Tokoh Indonesia yang Konsisten Berkiprah di Bidang Lingkungan Hidup

Prof DR Emil Salim, foto bersama keluarga usai menerima penganugerahan Wirakarya Adhitama, Kamis (2/6) di kampus FEB UI Depok. (Netralnews/Farida Denura)
Prof DR Emil Salim, foto bersama keluarga usai menerima penganugerahan Wirakarya Adhitama, Kamis (2/6) di kampus FEB UI Depok. (Netralnews/Farida Denura)

Berita Terkait

Cemerlang di Pemerintahan                

Karir Emil Salim di pemerintahan dimulai dengan pengangkatan sebagai anggota Tim Penasihat Ekonomi Presiden pada tahun 1966, yang kemudian dilanjutkan sebagai Deputi Ketua Bappenas pada tahun 1968 hingga 1971. Pada saat yang sama, Emil Salim juga merangkap sebagai anggota MPRS dan DPRGR. Emil Salim kemudian mendudki jabatan sebagai Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara, sekaligus sebagai Wakil Kepala Bappenas pada tahun 1971 hingga 1973. Emil Salim kemudian dipercaya untuk menjadi Menteri Perhubungan pada Kabinet Pembangunan II pada tahun 1973 hingga 1978.

Kenangan masa kecil Emil Salim terhadap pesona hutan sebagai ekosistem bagi seluruh makhluk hidup kembali muncul ketika dirinya dipercaya untuk memegang jabatan Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada kabinet Pembangunan III, yaiti dari tahun1978 hingg 1983. Jabatan inilah yang melambungkan nama Emil Salim dan mengidentikkannya dengan pahlawan lingkungan hidup.

Konsep Amdal (Analisi Mengenai Dampak Lingkungan) yang diprakarsai dan yang kemudian dikukuhkan lewat UU Amdal tahun 1986 berhasil menyelamatkan berbagai kerusakan lingkungan akibat proyek-proyek raksasa. Salah satu yang terselamatkan adalah candi Muara Takus yang akan tenggelam apabila pembangunan PLTA di Kota Panjang, Provinsi Riau, dilakukan tanpa Amdal. Pada kesempatan lain Emil Salim juga menjadi pemrakarsa translokasi gajah dari Air Sugihan  ke hutan Lebong Hitam di Palembang, Sumatera Selatan pada bulan November 1982, ketika daerah pengembaraan gajah-gajah tersebut dijadikan lokasi trasmigrasi. Menurut Emil Salim, seorang ekonom tidak boleh melupakan tempat berpijak, yaitu bumi. Mengingat bumi berarti memahami kelestarian lingkungan hidup  yang harus selalu dijaga. Komitmen terhadap lingkungan juga dibuktikannya dengan mmebnetuk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bapedal) pada tahun 1991. Pada tahun 1983 itu pulalah Emil Salim diangkat sebagai Guru Besar oleh  FEB UI. Dengan keberhasilan gebrakan kebijakan yang dilakukannya terhadap pelestarian lingkungan hidup, Prof. Emil Salim pun kemudian diangkat sebagai Menteri Negara Pengawas Pembangunan dan Lingkungan Hidup pada kabinet Pembangunan IV dan V, yaitu tahun 1983 hingga yahun 1993. Dengan demikain Prof. Emil Salim menjadi meteri pada bidang lingkungan hidup yang terlama di Republik Indonesia, yaitu selama 15 tahun atau 3 kali masa kabinet pemerintahan.

Pada tahun 1993 Prof. Emil Salim mengakhiri masa pengabdiannya yang terbilang sangat panjang sebagai menteri di Republik Indonesia, yaitu selama 22 tahun. Setelah masa Orde Baru berakhir, nama Prof. Emil Salim kembali mencuat pada pertengahan tahun 1998 ketika Gerakan Masyarakat Madani mencalonkannya sebagai kandidat Wakil Presiden.

Walaupun tahu bahwa kemungkinan untuk terpilih sangat kecil dalam konstelasi politik pada masa itu, Prof. Emil Salim tetap maju dengan tegar dengan tujuan untuk memberikan pembelajaran politik kepada bangsa Indonesia mengenai dimungkinkannya kehadiran calon lain di luar yang telah ditunjuk selama prosesnya bersifat kosntitusional. Sekalipun tidak lagi menjabat sebagai menteri, tidak berarti bahwa pemerintahan tidak lagi membutuhkan kepakaran beliau. Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman wahid mengangkat Prof. Emil Salim sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional yang beranggotakan 13 pakar ekonomi dengan berbagai bidang keahlian.

Karir Prof. Emil Salim sebagai penasihat Presiden untuk berbagai kebijakan ekonomi berlanjut ketika beliau kemudian diangkat kembali sebagai Kepala Dewan Ekonomi, sekaligus sebagai anggota Dewan Penasihat Pemerintah RI semenjak tahun 2000 hingga berakhir pada tahun 2004. Sosok Prof. Emil Salim sebagai pakar di bidang ekonomidan lingkungan hidup yang mumpuni dapat dikatakan tak terbantahkan. Hal ini barangkali tercermin dari pengangkatan Prof. Emil Salim sebagai Dewan Pertimbangan Presiden dan anggota bidang Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan selama periode tahun 2007 hingga 2010, yang kemudian dilanjutkan dengan pengangkatan beliau kembali sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Presiden yang sekaligus merangkap pula sebagai anggota Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup dari tahun 2010 hingga 2014.

Walaupun sebagian besar kiprah Prof. Emil Salim dihabiskan pada bidang pemerintahan, beliau tetap tidak lupa untuk membagi perhatiannya sebagai akademis. Pada tahun 2006 beliau terpilih sebagai anggota Bidang Pengembangan Ilmu Ekonomi pada Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia. Jabatan tersebut dipegangnya hingga tahun 2009. Perhatian Prof. Emil Salim terhadap almamaternya juga ditunjukkannya dengan terpilihnya beliau sebagai anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia dari tahun 2007 hingga tahun 2012.

Sebagai seorang akademisi, Prof. Emil Salim menuangkan pemikirannya  pada berbagai karya yang ditulisnya seperti Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan (1974), Masalah Pembangunan Ekonomi Indonesia (1976), Lingkungan Hidup dan Pembangunan (1981), dan Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi (2010). Tulisan-tulisan beliau menunjukkan konsistensi perhatian dan pemikiran kritis beliau terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pada tahun 1994, setelah meyelesaikan jabatan sebagai Menteri Negara dan Lingkungan Hidup dan Kependudukan, Prof. Emil Salim mengajak sejumlah koleganya, seperti Koesnadi Hardjasoemantri, Ismid Hadad, Erna Witoelar, M.S.Kismadi, dan Nono Anwar Makarim mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan KEHATI), sebuah organisasi non pemerintah yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati.

Prof. Emil Salim dapat dikatakan merupakan salah satu dari sedikit tokoh Indonesia yang secara konsisten mampu berkiprah dalam bidang lingkungan hidup yang bahkan telah mencapai taraf internasional. Sepanjang tahun1984 hingga tahun 1987 beliau terpilih sebagai anggota Komisi Lingkungan dan Pembangunan (Komisi Brundland) pada 

Perserikatan Bangsa-Bangsa mewakili Asia bersama Saburo Okita dari Jepang. Pada tahun 1992 Prof. Emil Salim menduduki jabatan Deputy Chairperson pada Dewan Penasehat Tinggi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan. Co-chair pada Komisi Dunia untuk Hutan dan Pembangunan Berkelanjutan dijabatnya pada tahun 1994.

Berbagai Prestasi yang ditorehkan Prof. Emil Salim selama perjalanan karirnya yang begitu panjang mengantarkannya meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti Bintang Mahaputera Adipradana yang disematkan kepadanya pada tahun 1973, J. Paul Getty Wildlife Conservation Prize yang diperolehnya pada tahun 1990, Zayed International Prize for the Environment dari Uni Emirat Arab yang dianugerahkan kepadanya pada tahun 2006, serta Blue Planet Prize ke 15 yang diperolehnya dari yayasan Asahi Glass, Jepang, pada tahun 2006.

Dalam perjalanan karirnya yang begitu panjang Prof. Emil Salim dapat dikatakan merupakan tokoh tiga zaman yang lengkap, yaitu sebagai pejabat pemerintah, sebagai begawan ekonomi, sebagai politisi/tokoh masyarakat, serta sebagai pejuang lingkungan. Tokoh yang senantiasa ramah, murah senyum, dan selalu tampak rapi dalam berbusana, hingga pernah memperoleh penghargaan  sebagai Pria Berbusana Terbaik pada tahun 1980 ini, kini hidup tenang bersama sang istri tercinta, Ny Roosminnie Roza, yang senantiasa setia mendampinginya. Pada usianya yang tidak lagi muda Prof. Emil Salim tetap aktif berkiprah dan berkarya untuk bangsa dan negara yang dicintainya.[#next}

Kebanggaan di Masa Purnabakti 

Jika ada pejabat negara risi dengan hibah yang dicantumkan dalam daftar kekayaannya, lain halnya dengan Prof Dr Emil Salim. Mantan Meneg KLH di masa pemerintahan rezim Orde Baru itu mengaku terharu dan bangga atas hibah yang diterimanya. "Saya bangga dan mengucapkan terima kasih atas pemberian hibah cincin ini," ujar   Emil Salim beberapa waktu yang lalu.

Emil merupakan salah satu guru besar FEB UI yang memasuki purnabakti. Sebagai wujud tali kasih, FEB UI memberikan hibah cincin kepadanya. Selain Emil, guru besar FEB UI yang purnabakti lainnya adalah Prof Dr Subroto, Prof Dr Saleh Afiff, Prof Dr Rustam Didong, Prof Dr B.S. Muljana, dan Prof Dr Moh. Arsjad Anwar.

Emil termasuk salah satu peletak dasar ekonomi  Orde Baru. Dia dikenal lurus dan bersih. Karena itu, saat memberikan pidato perpisahan, ia meminta para sarjana FEB UI peduli terhadap nasib rakyat. Dia minta agar para sarjana UI tidak menjadi pekerja otak yang berusaha mendapatkan penghasilan maksimal.

"Dan, keliru besar jika sarjana ekonomi kemudian jadi koruptor. Keliru besar dan sesat juga jika menjadi bajingan-bajingan seperti itu," katanya. Tak jelas betul siapa yang kena tohok anggota Komnas HAM itu sebagai koruptor bajingan. "Sarjana FEB UI harus berpikir, bekerja, dan mengabdi dengan landasan hati nurani," tambahnya.

Meski resmi purnabakti, ia tampak masih disegani civitas akademika UI. Karena itu, civitas akademika tampak keberatan atas kepergiannya dari almamater. Lalu, apa kata Emil? "Sudah lama saya mengabdi pada almamater ini. Sekarang, giliran anak-anak muda," kata Emil.

Revolusi Berhenti Hari Minggu, demikian judul yang dipakai untuk merangkum kumpulan tulisan para sahabatnya dalam menyambut 70 tahun usia Prof Dr Emil Salim. Hasil kerja keras panitia lima; Koesnadi Hardjasoemantri, Alwi Dahlan, Sabam Siagian, Wisaksono Nuradi, dan MS Kismadi, diterbitkan Penerbit Buku Kompas dan diluncurkan 16 tahun yang lalu di Jakarta.

Tentang pemakaian istilah tersebut, Emil Salim berkata, "Bertolak dari anggapan, kerja harus berhenti pada hari Minggu dan perlu dicurahkan untuk kegiatan non-dinas. 

Pekerjaan saya selalu menumpuk dan sudah jadi kebiasaan, bekerja 12 jam sehari. Keluarga saya masih muda dan anak-anak berteriak, cukup, biarkan 'revolusi' berhenti hari Minggu. Tak ada teori serius di balik ini, sekadar menarik garis antara tugas kantor dan kewajiban keluarga..."

Emil Salim bertemu Roosminnie Roza pada masa perpeloncoan Gerakan Mahasiswa Djakarta (GMD) tahun 1956. Dua tahun kemudian mereka menikah dan sekarang, keluarga bahagia tersebut sudah disemarakkan dengan kehadiran dua putra dan tiga cucu.

Emil Salim salah satu ekonom yang dipercaya menjadi penasihat ekonomi presiden di awal Orde Baru berkuasa. Kepakarannya di bidang ini memang mumpuni. Ilmu ekonomi ia timba dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 1958. Gelar doktor bidang ekonomi ia raih dari University of California, Berkeley, AS. Emil termasuk arsitek ekonomi dan pembangunan Orde Baru.

Ketika menjabat sebagai Menteri KLH, ia tampak sangat mencintai tugas- tugasnya. Terlihat dari lukisan-lukisan yang tergantung di dinding ruang kantornya, hampir semuanya dari bahan bekas. Seperti lukisan burung cenderawasih dari bungkus rokok. Tidak ketinggalan foto-foto satwa dan hutan. Satu-satunya lukisan pastel di ruang kerjanya adalah lukisan gajah karya Gilang Cempaka, pelukis cilik dari Bandung. Selamat ulang tahun ke-86, Pak Emil! 

 

BIODATA

Nama: Prof Dr Emil Salim

Lahir:Lahat, Sumsel, 8 Juni 1930

Agama:Islam

Isteri:Roosminnie Roza (12 Januari 1934)

 

Anak:

Amelia Farina (1 Februari 1962)

Roosdinal Ramdhani (17 Desember 1966)

 

Pendidikan:

Frobel School, Banjarmasin (1935-1936)

Europesche Lagere School, Banjarmasin (1936-1940), Lahat (1940-1942)

Dai Ichi Syo-Gakko, Palembang (1942-1944)

Sekolah Menengah Umum Pertama, Palembang (1945-1948)

Sekolah Menengah Atas I, Bogor (1948-1951)

Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1951-1958)

University of California, Berkeley, AS, Department of Economics (1959-1964),(Master of Arts, 1962; Ph.D, 1964 dengan disertasi berjudul Institutional Structure and Economic Development)

 

Karir:

Asisten Dosen FEB UI

Dosen, dan selanjutnya Guru Besar FEB UI

Tim Penasihat Ekonomi Presiden (1966)

Anggota DPR GR (1967-1969)

Anggota Tim Penasihat Menteri Tenaga Kerja (1967-1968)

Ketua dan Anggota Tim Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967-1969)

Dosen Seskoad dan Seskoal (1971-1973)

Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap Wakil Kepala Bappenas (1971-1973)

Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973-1978)

Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan III 1978-1983)

Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet Pembangunan IV-V 1983-1993)

Guru Besar FEUI (1983)

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN-1999-2000)

Anggota Dewan Penasihat Presiden (2007-2009)

 

Kegiatan Lain:

Anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1950)

Ketua IPPI Bogor (1949)

Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949)

Ketua Perhimpunan Peningkatan Kebudayaan Masyarakat (1983)

Anggota Komisi Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Komisi Brundtland) mewakili Asia bersama Saburo Okita dari Jepang (1984-1987)

Deputy Chairperson pada Dewan Penasehat Tinggi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan (1992)

Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Indonesia (1992)

Co-chair pada Komisi Dunia untuk Hutan dan Pembangunan Berkelanjutan (1994)

Pendiri dan Ketua Yayasan Pembangunan Berkelanjutan

Program Kepemimpinan Mengenai Lingkungan dan Pembangunan

LEAD (1994)

Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Keragaman Hayati

Kehati (1994)

Ketua Tim Screening UNDP (1999)

Anggota Komnas HAM

 

Organisasi:

Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Sumatera Selatan (1946-1949)

Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949)

Ketua IPPI Bogor dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1949)

PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) 1954

 

Karya/Buku:

Collection of Writings 1969-1971, Secretariat of Bappenas, 1971

Masalah Pembangunan Ekonomi Indonesia (1976)

Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, Idayu, 1974

Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Mutiara, 1981

Kembali ke Jalan Lurus (kumpulan esai 1966-1999)

 

Penghargaan:

Bintang Mahaputera Adipradana (1973)

Pria Berbusana Terbaik (1980) - Golden ARK (Comandeur) of Netherlands (1982)

J Paul Getty Wildlife Concervation Prize (1990) Doctor Honoris Causa dari University Kebangsaan Malaysia (1996)

Zayed International Prize for the Environment dari Uni Emirat Arab (2006)

Blue Planet Prize ke-15 dari Yayasan Asahi Glass, Jepang (2006)

Penganugerahan Wirakarya Adhitama (Juni 2016)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis : Sesmawati
Editor : Farida Denura
Sumber : Diolah dari berbagai sumber