• News

  • Persona

Hasto, Pengabdian Dokter yang Pernah Jadi Bupati Kulon Progo

Dokter dr H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K).
Teraswarta
Dokter dr H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K).

Berita Terkait

KULON PROGO, NETRALNEWS.COM - Di Indonesia, sangatlah jarang dokter kandungan yang juga menjabat sebagai seorang bupati.

Dia adalah dokter H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K). Ia terkenal dengan konsep "Bela dan Beli Kulon Progo", batik gebleg renteng, dan "One Village One Sister Company".

Sosoknya sederhana, namun prestasinya mendunia. Tercatat telah lebih dari 55 penghargaan ia peroleh semasa menjabat sebagai Bupati Kulon Progo. Alam pedesaan beserta kehidupannya nan asri begitu mewarnai Hasto. Ia memelihara ayam, burung, kambing dan sapi. Mencarikan makan alias ngarit untuk kambing dan sapi, menggembalakan ternak sambil belajar di sudut hutan yang sepi adalah aktivitas keseharian Hasto kecil.

Hasto menghabiskan masa kecil dan remaja di Desa Hargowilis dan Kokap. Kehidupan Hasto boleh diibaratkan sebagai bianglala. Warna-warni kehidupan memang mudah sekali berganti tiada terduga. Manusia hanya berupaya, namun Allah jua yang Maha segalanya. Hasto kecil menempuh pendidikan SD Negeri Sremo III dan lulus di tahun 1976.

Selepas tamat SMA, Hasto diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes dan memperoleh beasiswa yang ada ikatan kerja. Hampir bersamaan, Hasto juga mengikuti tes di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), dan lolos. Ia memilih FK UGM meskipun sudah menjalani matrikulasi selama tiga bulan di IPB.

Belum berpihak Dewi Fortuna rupanya masih belum berpihak kepada Hasto. Hal ini terbukti saat ia berkuliah di fakultas kedokteran umum. Sejak semester tiga, ia sudah tidak mampu membayar kos. Sampai-sampai tidur pun terpaksa menumpang dan makan juga meminta.

Sejak kecil, hasto memang telah sering menempuh jalan berliku. Padahal, jika mau, ia dapat melalui jalan yang bertaburan bunga. Saat berkuliah di FK UGM, Hasto aktif berorganisasi. Ia pernah terpilih sebagai Ketua I senat Fakultas Kedokteran periode 1985-1987. Di sela-sela berorganisasi dan berkuliah, ia meluangkan waktu untuk bekerja. Ia memberikan les kepada anak-anak SMA. Ia lulus dari FK UGM di tahun 1989.

Seusai lulus menjadi dokter, Hasto memilih mengabdikan dirinya di luar Pulau Jawa. Ia menerima tugas, tanggung jawab, dan panggilan kemanusiaan ini dengan ikhlas. Ia ditempatkan di Puskesmas Kahala, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur.

Di puskesmas tersebut, Hasto tidak hanya menjadi dokter, tetapi juga mengajari anak-anak tentang Pramuka dan senam. Di daerah itu memang tidak ada dokter yang mau menetap, karena daerahnya amat terpencil, dekat dengan rawa-rawa dan danau.

Beruntung karirnya mulai menanjak. Kehidupannya pun mulai membaik. Hasto dipercaya menjabat sebagai kepala Puskesmas Kahala, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur tahun 1990, kepala Puskesmas Melak, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur tahun 1991, dan kepala Puskesmas Lok Tuan Bontang Utara, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, 1994. Di Bontang, ia memiliki banyak pasien.

Seperti dilansir Antara, Jumat (17/11/2017), romantika kehidupan mendewasakan Hasto. Saat ia mau menikah, apalah daya hanya memiliki uang Rp300.000 dan itu pun diperolehnya dengan membanting tulang siang-malam, mengabdikan diri, berbakti dan berdedikasi membangun negeri di puskesmas selama setahun.

Roda kehidupan manusia berputar. Demikian pula Hasto. Pada 1992, di luar dugaan, ia terpilih sebagai dokter teladan tingkat nasional. Padahal ia baru menjadi dokter selama dua tahun.

Di tahun 1994, pemerintah memberinya kesempatan berhaji gratis, dengan cara menjadi petugas kesehatan. Diakuinya, hal itu sebagai jawaban dari Allah atas doanya meminta dimudahkan naik haji, meskipun tidak memiliki tabungan.
Pada tahun 2000, seusai berproses selama lima tahun sebagai PPDS Obsgin, Hasto ditawari menjadi dosen. Ia menjalaninya dengan hati yang gembira. Hingga ia ditunjuk sebagai ketua program studi calon dokter spesialis. Sambil menjadi dosen, Hasto juga berpraktik di Yogyakarta.

Berkat pelayanan prima yang diberikan Hasto, pasiennya kian hari kian bertambah. Puncaknya saat ia berhasil membangun rumah sakit swasta di bawah Yayasan Semar. Kesibukan sebagai dokter kandungan tidak lantas membuatnya lupa belajar.

Terbukti ia mengikuti kursus persiapan program doktor dari tanggal 28 Agustus hingga 7 Oktober 2000 di FK UGM Yogyakarta. Pada 2006, Hasto berhasil lulus dari program spesialis II (konsultan) dari FK UGM. Tahun 1996-2012, Hasto tercatat telah mengikuti lebih dari 15 pelatihan dan pendidikan berkelanjutan, baik di dalam nageri maupun di mancanegara.

Misalnya, Assisted Reproductive Technology (ART) Course for Clinicians tanggal 23-25 September 2008 di Hangzhou China, Twelfth Course on Assisted Reproductive Techniques tanggal 14-18 Mei 2001 di Department of Obstetrics and Gynecology National University of Singapore.

Editor : Sulha Handayani