• News

  • Persona

Mengenal Khofifah, Arek Wonocolo yang Melenggang Jadi Gubernur Jatim

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansyah.
suaradewan
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansyah.

SURABAYA, NNC - Khofifah Indar Parawansa lahir di Surabaya, 19 Mei 1965. Sejak kecil perempuan itu sudah tinggal di rumah yang ditempatinya saat ini, Jalan Jemursari VIII, Kelurahan Jemur Wonosari, Kecamatan Wonocolo, Surabaya.

"Ini adalah rumah warisan dari orang tua. Jadi sejak kecil saya sudah tinggal di sini. Saya 'Arek Wonocolo' asli," katanya.

Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya itu menghabiskan masa anak-anak hingga masa remajanya di kampung tersebut.

Maka tak heran jika para tetangga di sekitar rumahnya mengenal Khofifah dengan akrab.

Itu ditunjukkan dengan kemenangannya yang terbilang telak di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 016, Kelurahan Jemur Wonoasri, yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya. Di TPS itu pula Khofifah bersama keluarganya menggunakan hak pilih selama tiga kali periode Pilkada Jatim yang diikutinya.

Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS setempat Muhammad Mabrur mengumumkan Khofifah, yang di Pilkada Jatim 2018 berpasangan dengan Emil Elestianto Dardak, memperoleh 413 suara. Sedangkan rivalnya, pasangan Saifullah Yusuf - Puti Guntur Soekarno, di TPS tersebut memperoleh 56 suara.

"Kemenangan pasangan Khofifah-Emil di TPS 016 Kelurahan Jemur Wonosari pada Pilkada Jatim 2018 mencapai 76 persen dari total jumlah pemilih," katanya.

Mabrur menjelaskan total daftar pemilih tetap (DPT) di TPS 016 adalah 631 orang. Namun tercatat yang hadir menggunakan hak pilihnya sebanyak 497 orang, 10 suara di antaranya dinyatakan tidak sah.

Dia menandaskan, selama tiga kali periode Pilkada Jatim yang diikuti KHofifah di TPS 016 selalu membuahkan kemenangan yang terbilang telak. "Rata-rata kemenangannya di tiga kali periode Pilkada Jatim di TPS ini selalu mencapai 76 persen," ucapnya.

Hidup Sederhana Warga Kampung Jemursari VIII Surabaya mengenal Khofifah sebagai sosok yang sederhana. Salah satunya Rodhy Nina Abarhum, warga setempat, menyebut kesederhanaan KHofifah tergambar dari rumahnya yang sampai saat ini masih menempati tanah warisan dari orang tuanya.

Bahkan, Trisnadi, kerabat dekat Khofifah, memastikan meski beberapa kali menjabat sebagai anggota DPR dan menteri, perempuan 53 tahun itu tidak pernah memiliki mobil yang dibelinya untuk kepentingan pribadi.

"Sampai sekarang tidak pernah membeli mobil sendiri untuk keperluan pribadinya. Mobil yang dipakai selama menjabat anggota DPR RI maupun menteri adalah mobil dinas," katanya.

Konon, mobil yang digunakan Khofifah selama masa kampanye di Pilkada Jatim 2018 pun adalah pinjaman dari pendukung atau pengusungnya.

Khofifah selama masa kampanye Pilkada Jatim 2018 di Surabaya memang selalu menekankan bahwa menjadi pejabat tidak boleh untuk tujuan kekayaan. Jabatan, menurut dia, adalah amanah yang harus dijalankan dengan tulus untuk mengabdi kepada masyarakat.

"Jika hanya mengandalkan gaji dari jabatan, susah untuk bisa menjadi kaya raya. Karenanya jabatan itu harus diniati dengan tulus untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat," tuturnya.

Maka Khofifah menegaskan dirinya bukan orang kaya. Dia mengenang semasa kecilnya dulu harus membantu meringankan beban orang tua dengan menjual es lilin keliling kampung di sekitar rumahnya, wilayah Kecamatan Wonocolo. Itu dilakoninya sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Dia menjajakan es lilin kepada teman-teman sekolah hingga teman-teman mainnya di lingkungan perkampungan Wonocolo.

"Wonocolo ini kampung saya. Dulu saya berkeliling kampung jualan es lilin. Kalau uangnya kumpul, saya belikan buku-buku," ucapnya, mengenang.

Kini, dia menandaskan, kalaupun bisa menyekolahkan anak-anaknya sampapi ke luar negeri, semuanya juga bukan dari hasil kekayaannya.

Khofifah mencontohkan, putri pertamanya, Patimasang Mannagalli Parawansa, bisa kuliah di Singapura, Australia dan Inggris, berkat beasiswa. Begitu pula putra keduanya, Jalaluddin Mannagali Parawansa, bisa berkuliah sampai ke negeri Cina karena mendapat beasiswa.

"Saya ini nggak kaya. Rumah di Jemursari itu adalah warisan dari orang tua. Busana yang saya pakai sampai sekarang juga masih 'ndeso'," ujarnya, melansir Antara.

Editor : Lince Eppang