• News

  • Persona

Di Tangan Hermin, Lukisan Wayang Beber Bertahan dari Gempuran Zaman

Hermin Istiariningsih saat menjadi bintang tamu acara talkshow
Twitter.com/KickAndyShow
Hermin Istiariningsih saat menjadi bintang tamu acara talkshow

SURAKARTA, NETRALNEWS - Kesenian asli masyarakat Jawa itu bernama wayang beber. Biasanya, pertunjukan wayang beber dimainkan oleh seorang dalang dengan diiringi instrumen musik seperti gong, kenong, gendang, dan rebab.

Wayang beber lahir dan berkembang sejak sekitar abad ke-9 dan sempat berjaya hingga abad ke 18. Kini, kesenian itu nyaris punah karena benturan dan kemajuan zaman yang semuanya mengandalkan teknologi digital.

Di zaman kejayaannya, wayang beber menjadi tontonan idola dari mulai anak kecil, dewasa, hingga orang tua. Namun kini, anak-anak sepertinya lebih menggandrungi sajian-sajian youtube.  

Meminjam istilah budayawan Taufik Rahzen dalam sambutannya di Bentara Budaya Pacitan beberapa waktu lalu, “Pada zaman dulu, wayang beber yang Anda lihat, setara dengan tontonan digital (zaman sekarang).”

Asal-usul wayang beber dapat dilihat dari dari ukiran-ukiran pada dinding relief candi-candi yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di era Kerajaan Jenggala abad ke13, lukisan seperti dalam relief candi kemudian dituliskan juga ke daun siwalan atau daun lontar.

Lukisan wayang beber dengan menggunakan bahan kertas dari kulit kayu, pertama kali justru terjadi di zaman Prabu Suryahamiluhur, saat ia memindahkan keratonnya ke daerah Pajajaran, Jawa Barat. Sejak itu,  bahan kertas sebagai media gambar semakin populer.

Hingga zaman berakhirnya Majapahit sebagai penanda berakhirnya peradaban Hindu-Budha, wayang beber tetap jaya. Bahkan di zaman selanjutnya, yaitu era kerajaan Islam berkembang di Nusantara, wayang beber tetap bertahan dan dijadikan sebagai media syiar.

Hanya ada beberapa perubahan yang mendasar. Bentuk wayang yang semula realistis berubah menjadi simbolik.

Gambar anatomi tubuh dan wajah wayang tidak lagi sama seperti anatomi tubuh manusia asli atau sewajarnya. Model inilah yang kemudian menjadi prototype pewayangan hingga sekarang.

Sayangnya, wayang beber sempat seolah terlupakan atau tenggelam dari keriuhan kemajuan zaman. Keberadaannya sempat dikhawatirkan akan punah.

Namun kita patut bersyukur, kini mulai bermunculan pegiat seni yang mencoba mentransformasikan wayang beber dengan sentuhan teknologi agar bisa bersaing dan kembali dinikmati generasi milenial.

Kini, pertunjukan wayang beber disuguhkan tidak hanya dengan alat musik berlaras pelog dan slendro, tetapi juga ditambah instrumen modern seperti keyboard, lengkap dengan beberapa penyanyi sebagai sinden, dan penyanyi latar.

Kita juga tidak boleh melupakan, orang-orang yang tetap tekun dalam mempertahankan kesenian wayang beber agar tidak terlupakan.

Salah satu pejuang itu adalah seorang ibu yang kini disebut-sebut sebagai maestro lukisan wayang beber. Hingga usia senja, ia tetep setia melukis wayang beber. Nama lengkapnya Hermin Istiariningsih atau biasa disapa Bu Ning.

Namanya mungkin tidak akan dikenal seperti pelukis-pelukis kondang, kalau masyarakat Indonesia dan para pemimpin negeri ini benar-benar tidak mau berusaha mengembalikan kejayaan wayang beber.

Wanita kelahiran Jombang yang kini berusia 67 itu menjadi sorotan, ketika publik tahu, ternyata ia adalah satu-satunya perempuan yang hingga usia senja setia berusaha mempertahankan dan memajukan wayang beber agar tetap dikenal masyarakat

Rumahnya yang terletak di di Kampung Wonosaren, Jagalan, Surakarta, Jawa Tengah,  sejak 1985 hingga kini menjadi saksi bisu, bagaimana Hermin hari demi hari ini melewatinya dengan duduk tenang membuat goresan-goresan gambar yang kelak akan dimainkan oleh Sang Dalang.

Suaminya, Sutrisno atau biasa dipanggil Mbah Tris, adalah teman spesial bagi Hermin karena mereka berdua memiliki minat dan bidang profesi yang sama. Dengan ketekunan dan kesabaran, mereka berhasil ikut melestarikan budaya bangsa.

Karyanya banyak bertebaran dan dipajang di berbagai hotel mewah di Nusantara. Sebagian bahkan diekspor ke Perancis dan Suriname. Ada pula yang dikoleksi oleh tokoh dan pejabat penting di Indonesia.

Hermin sebenarnya tidak pernah mengenyam pendidikan khusus. Keahlian diperoleh dengan cara otodidak. Mungkin karena suaminya juga mendukung, maka Hermin bisa menguasai teknik lukis wayang beber dengan sempurna.

Hermin pernah memamerkan karyanya pada 2004 di Hotel Lor In. Pameran itu adalah pameran tunggal yang ia biayai sendiri, tanpa sponsor, dan hanya dibantu suaminya.

Ketenarannya adalah hasil jerih payah panjang yang berhasil ia lewati. Bila orang menyebutnya sebagai maestro lukisan wayang beber atau menyetarakan dengan tokoh perempuan lain, sebaiknya tanpa melupakan jalan terjal yang telah ia lalui.

Ketika ia menjadi bintang tamu di sebuah acara talkshow di televisi swasta, pengalaman itu ia anggap sebagai semacam bonus kehidupan. Ia tetap menghayati karyanya sebagai semacam tanggung-jawab sosial dalam melestarikan kesenian tradisional sehingga tidak dilupakan.

Suatu ketika, saat ia menerima penghargaan sebagai perempuan Kartini masa kini, dengan rendah hati di hadapan awak media, ia berpesan kepada perempuan di seluruh Indonesia.

Katanya, “Perempuan Indonesia itu bisa menjadi perempuan yang mandiri, kuat, bisa berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat. Tapi jangan sampai melupakan kodratnya sebagai perempuan yang mampu mendampingi suami dalam suka maupun duka.”

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber