• News

  • Persona

Yulius Setiarto: Ngabekti Ora Korupsi dan Konsisten Menjadi Orang Baik

Yulius Setiarto sedang bercakap-cakap dengan seorang pedagang
Netralnews/dok.pribadi
Yulius Setiarto sedang bercakap-cakap dengan seorang pedagang

SEMARANG, NETRALNEWS.COM - Yulius Setiarto, akrab disapa Yus, sangat menyadari pepatah “Yang patah, tumbuh; yang hilang, akan berganti.”

Baginya, waktu tak ada yang abadi dan akan selalu berganti. Oleh karena itu, tidak akan ada yang bisa mencegah perubahan.

Generasi tua akan berakhir dan akan segera digantikan generasi muda. Masa pengabdian para pemimpin generasi tua di negeri ini, apapun alasannya, akan selesai.

Maka, “Alangkah disayangkan jika pemimpin dari generasi tua, yang terbukti baik melayani masyarakat, malah digantikan oleh pemuda yang tidak baik,” renung Yus.

Karena pertimbangan akan pentingnya regenerasi, Yus memutuskan untuk menceburkan diri sebagai pendatang baru dalam perpolitikan nasional. Ia menyalonkan diri sebagai Caleg DPR RI Dapil Jawa Tengah I, nomor urut 8.

Tentu saja, kesadaran pentingnya regenerasi para pemimpin dan wakil rakyat bukan alasan dan modal satu-satunya. Yus memiliki segudang pengalaman baik di dunia profesional dan organisasi kemasyarakatan.

Yus pernah menjadi aktivis mahasiswa Universitas Gajah Mada dalam memprotes dan melawan tindak represif rezim Soeharto selama tahun 1997-1998.

Selama akhir tahun 1990-an dan awal 2000-an, ia terlibat dalam berbagai gerakan mahasiswa, termasuk menjadi relawan pengungsi di tengah konflik Timor-Timor dan Ambon.

Ia juga terlibat dalam aktivitas politik membela PDI Mega di Wonogiri dan ikut mensukseskan terpilihnya Presiden Jokowi-JK pada Pemilu 2014 yang lalu.

Pandatang Baru, Ingin 'Ngabekti Ora Korupsi’

Tak mau tinggal diam ketika mendengar rakyat sebangsanya di Asmat, Papua mengalami gizi buruk, Yus yang sejak kecil juga aktif dalam komunitas gereja merangkul mahasiswa dalam FMKI Keuskupan Agung Jakarta untuk menggalang bantuan.

Tercatat beberapa kali FMKI kemudian mengirim logistik untuk meringankan beban bencana kelaparan yang  melanda masyarakat di Papua. Kepekaan sosialnya terasah dalam keterlibatan dalam berbagai ormas yang selama ini ia ikuti.

Dalam dunia profesional, Yus merupakan seorang advokat SNP Law Firm yang telah malang melintang dalam pelayanan hukum kepailitan, korporasi, pasar modal, perdata, dan pidana selama belasan tahun.

Kepakarannya dalam dunia hukum memberanikan dirinya untuk terjun dalam dunia politik. Bila terpilih, Yus berkomitmen memajukan dunia usaha, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mendorong peningkatan pelayanan publik dan layanan hukum, serta ikut memajukan bidang pertanian.

Menjadi wakil rakyat bukanlah kendaraan untuk mengeruk kekayaan, keuntungan pribadi atau kelompok, namun murni untuk mewujudkan pengabdian kepada masyarakat.

Oleh sebab itu, Yus sengaja memilih semboyannya dalam bahasa Jawa:  Ngabekti Ora Korupsi. 

Jika ia terpilih dan dipercaya masyarakat untuk mewakilinya di Dewan, maka Ia akan buktikan bahwa pengabdiannya akan bersih dari praktik korupsi. Ia menyadari bahwa sistem yang baik akan terbentuk dari etos prinsipal tiap-tiap politisi.

Usai Operasi Usus Buntu, Langsung Tancap Gas Lagi

Sebagai pendatang baru, ia ditantang untuk bekerja lebih keras menyapa masyarakat yang belum mengenal dirinya. Dari pagi, siang, hingga malam, ia mendatangi rumah warga untuk memperkenalkan diri dan mengutarakan niatnya.

Bahkan, ia berani pulang pergi Jakarta-Semarang tiap minggu, agar di sela urusan kerja dan keluarga,  agenda kampanyenya di daerah tetap berjalan.

Pada hari Kamis (14/2/2019), Yus terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Sakit yang dideritanya tak mungkin lagi ditahan. Vonis dokter menyatakan, ia harus menjalani operasi usus buntu.

Pramoedya: "Kewajiban manusia adalah menjadi manusia"

Sekuat apapun, kemampuan manusia ada batasnya. Ada saatnya ia harus tunduk pada kekuatan lain. Di saat itulah, manusia diajak untuk rendah hati, mawas diri, dan merenung.

“Itulah yang saya rasakan. Selama dua hari dirawat, saya lebih banyak merenungkan bahwa tak seorang pun mampu melawan usia. Sekuat apapun kita, pada akhirnya tubuh akan membusuk dan mati,” kata Yulius Setiarto, pria kelahiran Wonogiri 16 Juli 1978.

Namun, ia bersyukur, karena dengan sakitnya itu, ia belajar untuk menghargai tubuh dan mendisiplinkan diri kembali.

Terbiasa siap membantu orang lain, sehari setelah operasi, tiba-tiba ditodong ibu-ibu organisasi Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) untuk suatu keperluan.

Para ibu itu terkejut ketika tahu pria yang diminta tolong itu adalah seorang caleg yang perutnya masih terbalut perban.

Sekali Melayani Itu Biasa, Konsisten Baru Hebat

“Melayani itu sebenarnya perkara sederhana. Melakukan kebaikan sekali adalah hal yang biasa, namun bila kebaikan tersebut konsisten dijalankan, barulah hebat namanya,” ujarnya.

Bagi Yulius, Pemilu 2019 adalah bagian dari proses regenerasi dan proses penyaringan untuk menentukan pemimpin yang baik

Karena berfungsi untuk menyaring, maka sistem penyaringan tersebut perlu diisi oleh kemampuan analisa, nalar, dan penglihatan rakyat Indonesia.

Rakyat kini sudah pandai menilai rekam jejak pemimpin. Dalam pertemuan dengan warga, Yus tetap tampil apa adanya, agar masyarakat yang ditemuinya dapat mengenalnya dengan baik.

Ia yang terbiasa berkomunikasi dengan kaum tani, kelompok milenial, para pekerja UKM, kaum ibu, komunitas pengajian, dan sebagainya berpendapat, “Pemimpin tidak hanya mampu mendengar tetapi mendengarkan.”

Dalam mendengarkan ada kesadaran untuk membuka diri untuk menampung semua aspirasi, keluh kesah, harapan, keinginan, dan kebutuhan rakyat.

Pemimpin harus memiliki kemampuan mendengarkan. Pemimpin juga harus memiliki jiwa visioner yang jelas.

Ia harus mampu membaca tanda-tanda zaman dan mengantisipasi apa yang akan terjadi jauh ke depan. Ia harus memiliki rancangan dan solusi tiga atau empat langkah lebih maju, agar ia mampu melayani masyarakat dengan kebijakan-kebijakan yang tepat. 

Editor : Taat Ujianto