• News

  • Persona

Pemegang Polis Jiwasraya: Kami Dibiarkan Seperti Anak Ayam Kehilangan Induk

Diskusi bertajuk Jiwasraya dan Prospek Asuransi di kawasan Menteng,
Netralnews.com/Adiel Manafe
Diskusi bertajuk Jiwasraya dan Prospek Asuransi di kawasan Menteng,

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Salah satu pemegang polis Jiwasraya, Rudyantho Deppasau menceritakan awal mulanya mengikuti produk JS Saving Plan dari PT. Asuransi Jiwasraya (Persero) yang berujung pada kasus gagal bayar seperti sekarang. 

Rudy mengatakan, dirinya mulai menjadi nasabah Jiwasraya pada 2017 lalu karena tawaran dari marketing salah satu bank dengan meyakinkan bahwa asuransi Jiwasraya merupakan badan usaha milik negara (BUMN) sehingga uang nasabah dijamin aman.

"Awalnya kita ditawarkan oleh bank. Kalau mau jujur yang disampaikan ke kita itu kan lewat bank. Jadi kalau bicara bunga saya cuma 6,5 persen tidak beda jauh dari deposito, cuman saat itu marketingnya mengatakan ini jauh lebih aman karena milik pemerintah,” kata Rudy dalam diskusi bertajuk 'Jiwasraya dan Prospek Asuransi' di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (18/1/2020).

Karena jaminan aman itu, tanpa menaruh curiga Rudy pun akhirnya sepakat untuk memindahkan dana Rp 7 miliar miliknya yang di deposito di bank itu ke asuransi Jiwasraya. Ia mempunyai 2 polis dengan dana Rp 7 miliar itu.

Namun berjalannya waktu, Rudy mengaku mulai curiga ada yang tidak beres di asuransi plat merah itu ketika ingin mencairkan dananya pada awal Januari 2019 lalu.

"Sebenarnya awalnya kita enggak curiga. Tapi pas jatuh tempo kita datang mau mencairkan sesuai perjanjian kita dengan Jiwasraya, tapi enggak ada tanggapan. Marketing-nya sudah menghilang semua. Sebagian  marketing-nya malah sudah resign," ujarnya.

Saat itu, lanjut Rudy, ia hanya bisa mencairkan dana Rp 2 miliar, sedangkan Rp 5 miliar masih nyangkut di Jiwasraya hingga saat ini.

"Waktu itu kita punya dua polis anggap saja Rp 7 miliar dan pada awal Januari 2019 itu diselesaikan polis yang pertama Rp 2 miliar, sehingga masih nyangkut Rp 5 miliar," ungkapnya.

Atas persoalan yang dihadapi, Rudy dan sekitar 300 pemegang polis lainnya yang juga mengalami hal serupa membentuk forum untuk memperjuangkan nasib mereka. Namun, kata Rudy, saat itu pihaknya tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah, DPR dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Pada 2019, Desember, kita membentuk satu forum yang terdiri dari sekitar 300 lebih pemegang polis. Memang tidak ada tanggapan, tak ada tanggapan dari pemerintah, dari DPR, OJK apalagi. Itu membiarkan kita seperti anak ayam kehilangan induk, ini kita mau kemana nih," terangnya.

"Sehingga satu tahun lebih kita berupaya dan cape sendiri akhirnya kita berjuang masing-masing, ibaratnya tetap satu rumah tapi beda kamar," pungkasnya.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati