• News

  • Persona

Srihadi Soedarsono Ikut Usir Penjajah dengan Senjata Melukis


Foto: Salihara.org

Berita Terkait

JAKARTA, METRALNEWS.COM – Para pejuang kemerdekaan memanggul senjata dan bambu runcing untuk mengusir penjajah Belanda saat mempertahankan kemerdekaan. Maestro seni lukis Srihadi Soedarsono (84) yang kala itu masih berusia 14 tahun   tak mau ketinggalan ikut berjuang. 

Srihadi yang lahir di Solo pada 4 Desember 1931 ikut terjun ke medan perang. Tapi ia tak memanggul senjata, juga bukan bambu runcing. Ia membawa kertas, tinta dan kuas. Untuk apa? Mau mengusir Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia yang baru saja merdeka pada 17 Agustus 1945.

Apa yang bisa dilakukan remaja Srihadi waktu itu? Ia berjuang lewat “kata”.  Ketika tahu memiliki bakat melukis, lantas ia diminta untuk membuat poster anti NICA (Belanda) dan mengobarkan semangat para pejuang lewat gambar atau mural. 

Srihadi menuturkan kepada Netarlnews.com di Jakarta beberapa waktu lalu, dirinya diminta untuk membuat poster-poster perjuangan. Ia menulis slogan-slogan perjuangan di tembok-tembok kota untuk membangkitkan semangat para pejuang untuk mengusir Belanda waktu itu. Ia antara lain menulis poster “Hancurkan kolonialisme” atau “Anjing NICA” dan banyak lagi. 

Ia juga mencatat perisitwa perang mempertahankan kemerdekaan itu lewat sketsa-sketsa di atas kertas yang disimpannya dengan apik sampai sekarang dan beberapa waktu lalu dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia dalam pameran tunggalnya. Pada masa perjuangan, kanvas tak ada dan jadi barang mewah.  “Adanya kertas, pakailah kertas,” kata dosen Seni Rupa ITB itu. 

 Sebagai pengajar  dan pelukis ia merasa tertantang untuk membuat lukisan dengan berbagai media. Juga media kertas. Banyak sketsa dan drawingnya di atas media kertas yang telah dibuatnya.

Belakangan ini lukisan-lukisannya di atas kanvas banyak menampilkan para penari dari berbagai latar belakang budaya.  Ia melukis penari yang sedang membawakan tari srimpi dari Jawa, legong dari Bali, bahkan dari Papua juga. Juga ada lukisan tarinya yang terkenal, yaitu “Bedaya Ketawang-The Energy if Beauty”, cat minyak di atas kanvas, 2007. Lewat lukisan-lukisan tari itu ia mau menegaskan bahwa bangsa kita punya budaya. Tari dapat membuat manusia jadi makin berbudaya. “Ya, tari itu dapat menghaluskan akal budi manusia,” katanya. 

Selain banyak membuat lukisan tari, Srihadi juga banyak melukis rumah-rumah ibadat. Ia banyak melukis candi Borobudur dan lukisannya itu telah menjadi   ikonnya. Lukisan Borobudurnya antara lain  “Borobudur-The Wind from the Mountain”  (2004), “Horizon-The Serenity of Borobudur” (2004), dan “Borobudur- Dari Gelap Terbitlah Terang” (2015).  Ia juga membuat lukisan “Upacara di Kuil” dengan tinta dan pastel (2007).

Srihadi yang telah bergelut di dunia seni lukis selama 50 tahun mengatakan, apa yang dilakukannya itu adalah bentuk pencarian spiritualnya. Dan, itu erat kaitannya dengan perkembangan usianya yang sekarang telah memasuki kepala delapan. 

Pencarian spiritual, menurut dia, tidak mungkin dilakukan oleh pelukis muda. Sebagai pelukis yang sudah matang baik dalam pengalaman maupun usia, Srihadi merasa terpanggil untuk mencari dunia spiritual lewat karya-karyanya. “Masalah spiritual itu masuk dalam diri saya erat kaitannya dengan perkembangan usia,” kata Srihadi yang masih semangat dalam usia 84 tahun. 

Dalam rangka pameran tunggalnya yang terakhir, ia menerbitkan buku bertajuk Srihadi Soedarsono, 70 Tahun Rentang Kembara Roso yang diluncurkan saat ia melakukan pameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia beberapa waktu lalu. 

 

BIODATA SRIHADI SOEDARSONO

Lahir:  Solo, 4 Desember 1931

Istri: Dra Farida Srihadi S.M.Hum

Pendidikan

-1945-48: SMP Negeri Solo

-1948: SMA, Solo

-1950-1952: SMA, Solo

-1952-59: Fakultas Seni Rupa ITB

- 1962: Master of Arts, The Ohio State University, AS

Pekerjaan

1945- sekarang: Pelukis

-1959 – 98: Dosen ITB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Willy Hangguman