• News

  • Persona

CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman Tawarkan ARMS, Solusi Investasi Aman (1)

CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman Tawarkan ARMS, Solusi Investasi Aman
CEO Generali Indonesia Edy Tuhirman Tawarkan ARMS, Solusi Investasi Aman

Berita Terkait

Menanamkan investasi saat ini, banyak berisiko. Tetapi, orang pintar selalu menemukan solusinya. Apa gerangan solusi investasi aman dimaksud?

PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia (Generali) merupakan bagian dari Generali Group yang berdiri sejak 1831 di Trieste, Italia. Masuk ke pasar Indonesia pada| 2009 dan kini sudah memasuki tahun ke-6.

Meski di Indonesia tergolong pemain baru, kinerjanya terbilang kinclong. Tahun 2014 Generali berada di rangking ke-7 dari seluruh perusahaan asuransi joint venture dengan pertumbuhan pendapatan premi baru mencapai 1,4 triliun.

Dalam perbincangan dengan Netralnews.com belum lama ini di ruang kerjanya, CEO Generali Indonesia, Edy Tuhirman menjelaskan bahwa dalam asuransi selalu ada dua komponen, yaitu proteksi dan investasi.

Untuk proteksi, Generali menyediakan berbagai program perlindungan, seperti family protection plan, perlindungan cacat tetap, kebutuhan rumah sakit dan pembedahan, melahirkan, rawat jalan hingga perawatan gigi.

Sementara dari sisi investasi menurut Edy, investasi ini ibarat  menyetir mobil, sehingga perlu rem, setir, persneling, dan sebagainya. Sebab, jika tak dilengkapi, bisa jadi investasinya anjlok.

Misalnya, seseorang yang telah mempersiapkan masa pensiunnya dengan membeli produk asuransi. Diperkirakan, pada waktu tertentu ketika ia mempersiapkan masa pensiun, nilai investasinya mencapai Rp 1 miliar. Akan tetapi, tiba-tiba pasar modal ambruk. Nilai investasi orang tadi turun tinggal hanya, misalnya Rp 200 juta.

"Di Generali pemegang polis kita berada di blue ocean, unit link yang punya rem dan itu yang membuat kita beda. Kalau naik, biarin naik, kalau turun langsung amankan posisi dari resiko yang parah. Siapa yang bisa kendalikan pasar? Pasar bisa naik, bisa turun. Pemegang polis kita kasih robot, pegang satu-satu untuk amankan," ujar Edy.

Menurut Edy, Auto Risk Management System (ARMS) bisa menjadi solusinya. Ia mengklaim, solusi ARMS ini merupakan yang pertama di Indonesia. Pada dasarnya ARMS ini adalah sistem otomatis untuk memantau investasi nasabah.

Jadi, dengan adanya ARMS, nasabah dapat menentukan level untuk mengambil untung dan level aman agar tak merugi besar (cut loss). Nasabah tak perlu lagi memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari, karena ARMS yang melakukan secara otomatis.

"Ide pengembangan ARMS ini terinspirasi pengalaman beberapa investor saat terjadinya krisis finansial tahun 2008, ketika kondisi pasar di seluruh dunia anjlok," ungkap Edy.

Menurut Edy, ini adalah sistem perlindungan nasabah di mana saat pasar modal turun secara otomatis keranjang investasi dipindahkan ke tempat lebih aman. "Portofolio nasabah harus aman. Sistem ini membuat nasabah lebih leluasa untuk mengatur sendiri asset investasinya sesuai dengan profil risiko.

Ada beberapa modul dalam ARMS. Pertama, Automatic Trading Plan, merupakan fitur dalam berinvestasi, yaitu untuk mencapai target pengembangan dana investasi pada titik tertentu untuk meraih keuntungan (profit taking) atau menghindari terjadinya penurunan kerugian investasi lebih jauh (cut loss).

Ibarat Rem
Modul ini diibaratkan dengan sistem rem dalam menjaga investasi agar tidak melewati batas kerugian yang dapat ditolerir. Di sini, nasabah bisa menentukan sendiri nilai profit yang ingin dicapai dan nilai toleransi kerugian yang mampu ditanggung.

Modul kedua, Automatic Asset Rebalancing, merupakan fitur untuk menyeimbangkan komposisi alokasi dana investasi investor sehingga tetap berada dalam batas toleransi yang telah ditetapkannya. Modul Auto Balancing diibaratkan sebagai setir atau cruise control yang bekerja untuk menjaga pergerakan investasi selalu dalam profil risiko yang sudah ditetapkan.

Jadi, modul ini mampu menjaga pergerakan portofolio investasi nasabah tetap stabil dan sesuai dengan yang ditentukan.

Ketiga, modul Automatic Re-entry, merupakan fitur penentuan momentum bagi investor untuk kembali berinvestasi dengan alokasi masing-masing dana investasi sesuai dengan yang ditetapkan investor. Modul Automatic Re-entry diibaratkan sebagai persneling otomatis (automatic gear) yang membantu mendeteksi saat yang tepat untuk kembali ke pasar.

Dengan modul ini, nasabah secara otomatis dimungkinkan untuk menentukan waktu yang tepat untuk kembali berinvestasi di pasar modal, ketika kondisi pasar sudah mencapai titik yang dikehendaki.

Pengembangan ARMS telah memberikan beberapa manfaat, baik kepada nasabah maupun perusahaan. Manfaat paling utama dari ARMS adalah memberikan perasaan aman bagi nasabah dan keleluasaan dalam merancang perjalanan finansial.

"Oleh karena merasa aman, impact-nya orang jadi lebih berani berinvestasi, sehingga return lebih tinggi. Investasi jangka panjang jadi lebih bagus," ujar Edy. "Bagi perusahaan, dengan adanya ARMS ini, cost jadi lebih murah, sehingga jauh lebih efisien," tambahnya.

Secara alamiah kata Edy, seorang investor memiliki karakteristik greedy atau penakut. Namun, ARMS membuat nasabah bisa disiplin.

Ia menggambarkan contoh seorang investor tamak yang menempatkan modal Rp 100 juta, lalu nilainya naik menjadi Rp 150 juta. Nah, ketika ditawarkan diambil atau tidak, ia tidak mau ambil karena diperkirakan masih bisa naik lagi. Namun, ternyata pasar goyang sehingga modalnya hanya tinggal Rp 60 juta.

"Ketamakan dan ketakutan investor ini bisa terjadi di tempat lain, karena tidak punya disiplin. Di Generali ada disiplin, seperti Auto Trading Plan," ucap Edy.

Misalnya, seorang investor masuk dengan modal Rp 100 juta. Sebelumnya, investor telah membuat persetujuan dengan planner: ia akan take profit jika naik 40%, dan cut loss jika minus 10%. Lalu, ia mendapat untung 20%, naik lagi menjadi 30%.

Akan tetapi, sistem belum merespons. Nah, ketika keuntungannya naik 40% menjadi Rp 150 juta, sistem secara otomatis akan mengunci untuk ambil keuntungan. Sebaliknya, ketika modalnya turun menjadi Rp 90 juta, sistem langsung melakukan cut loss, untuk dipindahkan ke money market supaya tidak kebablasan.

"Bagaimana caranya? Sistem TI yang melakukan monitoring setiap hari. Ketika sampai pada angka tertentu yang disepakati, sistem secara otomatis akan mengunci dan melakukan switching," ujar Edy. "Jadi, setiap nasabah tidak perlu memantau pasar saham dan pasar uang setiap hari. Biarkan sistem kami yang bekerja."

Klaim Edy diamini salah satu nasabahnya, Ariyanto Erlangga. Menurut pria berumur 43 tahun yang telah menjadi nasabah Generali sejak April 2011 ini, ARMS yang dikembangkan Generali sangat membantu.

Sebab, selama ini ia menjadi pemegang polis dari beberapa perusahaan asuransi, tetapi tidak ada yang memiliki "sistem rem" seperti ARMS di Generali.

Akibatnya, kalau saham anjlok, investasi juga menurun. "Saat ini saya tidak takut lagi dalam berinvestasi," ucap Ariyanto. "Tetapi, perlu sosialisasi secara detail agar kita semua lebih tahu kegunaan ARMS," tambah Ariyanto menyarankan.

Sekarang, kata Edy, Generali juga memiliki sebuah portal yang dapat digunakan oleh nasabah Generali Indonesia untuk memantau maupun mendapatkan informasi detail dari polis mereka.

Untuk menjaga pertumbuhan kinerja pada masa awal menggarap pasar Indonesia, Generali memiliki strategi sendiri. Generali, kata Edy, tidak langsung menggarap seluruh saluran distribusi yang ada, melainkan mengembangkannya satu per satu atau segementasi. Melalui segmentasi, Edy dapat melihat berapa jumlah potensi, lalu produknya apa sehingga fokus pada customer.

Generali percaya pada kekuatan multichannel distribution namun tidak menggarap seluruh channel ketika hadir di Indonesia.

"Kami garap channel satu demi satu. Pertama kami hadir di Indonesia pada Januari 2009, kami mulai dengan dengan asuransi kesehatan employee benefit. kami tes modelnya untuk mengetahui kinerjanya. Saat ini, untuk new business, kami sudah menempati posisi 6 besar di Indonesia dari 45 perusahaan asuransi atau ranking ke-7 dari seluruh perusahaan asuransi joint venture. Dalam menjalankan bisnis asuransi ini, kami tidak menekankan pada pricing, melainkan pada service,’’ ujarnya.

Pada tahun kedua, yaitu 2010, Generali cerita Edy mulai bekerja sama dengan bank sebagai salah satu saluran asuransi (bancassurance). Perkembangan di bisnis ini juga berkembang pesat. Sementara pada 2011, kami mulai mengembangkan agensi. Agensi kami juga mengalami booming. Saat ini sudah memiliki lebih dari 2000 agen yang memiliki license dan sudah memiliki 37 cabang di seluruh Indonesia.

Penulis : Farida Denura
Editor : Marcel Rombe Baan