• News

  • Persona

Belajar Bisnis Properti di Inggris

APAC Operation Director Mt. Helix Holdings,Claire Lisin (Istimewa)
APAC Operation Director Mt. Helix Holdings,Claire Lisin (Istimewa)

Berita Terkait

Sejak kecil Claire Lisin memang sudah akrab dengan dunia bisnis. Dulu, ketika ayahnya meeting di kantor, Claire selalu diajak ayanhnya. Claire duduk  diam di sebelah ayahnya sambil memperhatikan ayahnya meeting.

Claire memang tumbuh di lingkungan kantor. Tidak seperti anak-anak yang umumnya bermain dengan teman sebayanya. Claire justru lebih sering menghabiskan waktu bersama ayahnya.

Kebiasaan itu turut mempengaruhi Claire menjadi pribadi yang sangat serius dan tidak suka bercanda dan juga kurang suka bergaul dengan teman-temannya di sekolah.

Tidak salah jika naluri bisnisnya pun mulai menggeliat semenjak remaja. Di usia 16 tahun Claire sudah dipercaya ayahnya untuk berbisnis gula. Setahun kemudian ia membuka travel agency.

Namun saat berumur 18 tahun, Claire memutuskan untuk hijrah ke Inggris untuk sekolah lagi. Ini karena dirinya merasa tidak cocok dengan kultur di Malaysia serta tidak bisa bergaul dengan lingkungannya. Beruntung ia tes di London dan akhirnya mendapatkan beasiswa di sana. Pergilah ia ke London setelah menjual aset yang ia miliki.

Ketika menimba ilmu di London, kedua orangtuanya meminta Claire untuk mulai mandiri. Jadi mereka tidak akan mengirim uang saku lagi kepadanya. Di situlah Claire pun mulai berpikir bagaimana caranya mendapat uang saku tambahan. "Kalau melihat tabungan saya saat itu tiga tahun lagi saya pasti bangkrut jika tidak memiliki pemasukan tambahan,"cerita Claire.

Hasrat untuk berbisnis pun semakin kuat ketika ia bertemu dengan sepupunya Susan. Susan kebetulan seorang agen properti. Sepupunya itu sempat terkejut ketika mengetahui bahwa Claire ternyata sangat paham tentang ekonomi, capital gain dan cash flow

Susan pun akhirnya berusaha mengajak Claire untuk terjun ke dalam bisnis properti. Awalnya Claire tidak mau. Mereka sempat berdebat sengit. Namun, pada suatu hari Claire menemani Susan ke sebuh rumah yang sedang Susan jual. Rumah itu tampak buruk dan butuh renovasi. 

Claire bertanya pada Susan, apakah dirinya bisa membeli rumah ini tersebut karena seperti kita ketahui, DP (Down Payment) rumah ini tidak murah. 

Susan lalu menjawab,"Tentu bisa kamu mengajukan KPR dengan nama ayahmu. "Lalu apakah bisa saya merenovasi rumah ini, membayar cicilan rumah dan mendapat uang saku tambahan?"tanya Claire lagi. 

"Tentu bisa Claire, kamu bisa membujuk ayahmu untuk berinvestasi di sini". 

Rupanya Claire tidak memenuhi permintaan Susan membujuk ayahnya. Claire punya uang pribadi sendiri dan lantas memutuskan untuk mengambil sebuah rumah atas nama dirinya. Namun, lantaran masih berstatus pelajar mau tidak mau ia harus menggunakan nama orangtuanya. 

Pada tahun 1998 itulah akhirnya Claire membeli rumah pertamanya seharga 600.000 poundsterling (sekitar Rp 1 miliar). Ia membelinya secara kredit dengan DP mencapai 20% (sekitar Rp 2 miliar).

Rumah itu langsung ia sewakan. Ternyata keuntungannya pun sangat besar. Cash on Cash Return yang ia dapatkan sekitar 24%. Dengan pemasukan itu, Claire sudah bisa mencicil rumah, membiayai uang sakunya serta bergaya hidup di atas rata-rata.

Enam bulan berselang, Claire memberanikan diri meminjam uang ke bank atas nama dirinya guna membeli rumah kedua. Rumah kedua ia beli seharga 1,4 juta poundsterling (sekitar Rp 26 miliar) dengan  DP 30% yakni 420.000 poundsterling (Rp7,8 miliar). Ia pun kembali menyewakannya. Pendapatannya semakin melonjak tajam. Setiap minggunya ia mendapatkan rental  2100 ( Rp 29,9 juta). Cash on Cash Return yang ia dapatkan malah bertambah 1% yakni 26% per tahun.

Editor : Farida Denura