• News

  • Politik

Ormas Konservatif Ada Kepentingan Dibalik Klaim Kemenangan Prabowo-Sandi

Ketua Setara Institute, Hendardi
dok.reportase
Ketua Setara Institute, Hendardi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ketua Setara Institute, Hendardi mengatakan yang mengklaim dan menggaungkan kemenangan di kubu Prabowo-Sandi adalah para penunggang kepentingan politik selama ini. Yakni elit-elit ormas vigilante seperti Front Pembela Islam (FPI), tokoh-tokoh eks dan simpatisan HTI, dan tokoh-tokoh Islam konservatif.

Demi kepentingan politik mereka sehingga mengabaikan mekanisme dan tahapan-tahapan elektoral formal yang sedang berlangsung di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Mereka mengklaim kemenangan dengan mengabaikan mekanisme dan tahapan-tahapan elektoral formal yang sedang berlangsung di KPU. Termasuk dengan melakukan propaganda-propaganda delegitimasi dan kontra prosedur dan institusi demokrasi konstitusional yang ada,” kata Hendardi di Jakarta, Senin (22/4/2019).

Lebih lanjut Hendardi menyebutkan sebagian besar pollsters atau lembaga survei bereputasi telah melakukan finalisasi laporan polling hasil Pemilihan Umum 2019 dan membuka ‘dapur data’ pada 20 April 2019, difasilitasi oleh Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi).

"Hitung cepat Pemilu 2019 yang dilakukan pollsters terpercaya tersebut menyimpulkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin unggul atas pasangan Prabowo-Sandiaga Uno," ujarnya.

Tapi, anehnya Prabowo semakin kencang melakukan klaim kemenangan dalam Pilpres, bahkan sudah tiga kali melakukan deklarasi kemenangan.

“Hasil hitung cepat versi pollsters dimaksud jelas bukan hasil akhir hajatan elektoral kita, sebab hasil resmi Pemilu secara konstitusional akan diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dijadwalkan akan dilaksanakan pada 22 Mei 2019,” jelas Hendardi.

Hendardi juga menjelaskan hitungan cepat (quick count) merupakan prosedur ilmiah yang memberikan gambaran awal hasil Pemilu sekaligus bagian dari kontrol ilmiah atas kinerja penghitungan hasil pemungutan suara, sebagaimana juga menjadi tren elektoral di negara-negara demokratis dunia.

"Selain itu, secara objektif sejarah elektoral kita menunjukkan bahwa hasil hitung cepat pollsters tidak jauh berbeda dengan Pemilu," pungkasnya.

Karena itu, Hendardi menilai tiga kali deklarasi kemenangan Pilpres 2019 yang dilakukan Prabowo nyata-nyata bermasalah, pada aspek substantif maupun prosedural. Deklarasi tersebut secara faktual diikuti klaim-klaim kemenangan para pendukungnya.

"Terutama di dunia maya dan forum-forum pengajian, dan propaganda-propaganda yang mendelegitimasi penyelenggara Pemilu, mendestruksi secara sosial integritas Pemilu dan tata kelola demokrasi Indonesia beserta perangkat institusi dan mekanisme di dalamnya," ujarnya.

Reporter : Sesmawati
Editor : Tommy Satria Ismaya Cahya

Apa Reaksi Anda?