• News

  • Politik

Ini Alasan Demokrat DKI Tolak Rencana KLB yang Digulirkan Max Sopacua Cs

Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta, Santoso.
Netralnews/Didit
Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta, Santoso.

JAKARTA, NRTRALNEWS.COM - DPD Partai Demokrat DKI Jakarta menegaskan menolak secara tegas wacana diadakannya Kongres Luar Biasa (KLB).

Penolakan tersebut ditegaskan Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta, Santoso. Dirinya meminta DPP Partai Demokrat, dalam hal ini Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memberikan sanksi tegas terhadap beberapa politisi partai berlambang mercy itu, karena dinilai dapat memecahkan belah partai.

"Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pak SBY masih berada di jalur yang tepat, sehingga usulan KLB ini kami tolak dengan keras," kata Santoso saat konferensi pers di kantornya, Cipayung, Jakarta Timur, Sabtu (15/6/2019).

"Bagaimana bentuk sanksinya, itu kami serahkan kepada DPP Partai Demokrat," lanjutnya.

Seperti diketahui, sejumlah pendiri dan senior Partai Demokrat mendorong partai berlambang mercy ini untuk segera menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Mereka diantaranya Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat, Max Sopacua, Ahmad Mubarok, Ahmad Jaya dan Ishak.

Max mengaku langkah ini ditempuhnya lantaran prihatin dengan anjloknya perolehan suara Demokrat di Pemilu Legislatif tahun ini.

Ia merinci dari 10,9 persen di tahun 2014 lalu menjadi 7.7 persen di tahun 2019, sehingga menurutnya, Demokrat perlu melakukan evaluasi mendalam.

Ia turut menyinggung soal orang orang yang berada di sekitar lingkaran SBY, yang kerap menimbulkan kontroversi, padahal dimatanya sikap tersebut bukan representasi Partai Demokrat, orang orang itu diantaranya Rachland Nashidik, Ferdinand Hutahaean, dan Andi Arief.

"Mereka kerap melontarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan Marwah karakter dan jati diri Partai Demokrat sehingga melahirkan inkonsistensi dan kegaduhan membenturkan Partai Demokrat dengan partai tokoh dan komunitas lainnya khususnya terhadap ulama dan umat yang berdampak adanya antipati dan kontra produktif terhadap Partai Demokrat," jelas Max.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Sulha Handayani