• News

  • Rebranding

Rebranding Kepemimpinan ala Jack Welch

Jack Welch
Youtube
Jack Welch

JAKARTA, NNC - Paul Kazarian, CEO (Cheaf Executive Officer) Sunbeam Oster tahun 1960, tiba-tiba mengangkat segelas jeruk di hadapannya, lalu melemparkan gelas itu ke arah anak buahnya. Ia marah terhadap seorang karyawan bagian keuangan karena hasil kerjanya tidak beres.

Manajemen kepemimpinan Paul Kazarian terbukti berdampak besar. Bentakkan, perlakuan kasar, penghinaan terhadap anak buah, melahirkan budaya “asal menyenangkan bos”. Hari-hari kerja anak buahnya dihantui oleh ketakutan akan celaan.

Di akhir kerja, para bawahannya sering menarik nafas panjang, “Huh, lewat juga satu hari. Dan puji Tuhan, tidak mendapat semprot dari Bos.” Para kepala bagian, dengan alasan agar masa kerjanya bisa diperpanjang, selalu takut menyampaikan gagasan berbeda kepada sang CEO.

Alih-alih ingin memacu kinerja anak buahnya, seorang CEO justru merusak mentalitas kerja anak buahnya. Di tangan kepemimpinan tipe CEO semacam ini, niscaya perusahaan justru sulit dibawa maju. Mengapa? Kerja tim dalam perusahaan telah terjangkit kanker kronis.

Jack Welch, bertolak belakang dengan Kazarian. Sosok ini pasti tidak asing bagi sarjana jurusan Ekonomi. Ia diangkat menjadi adalah CEO termuda kala itu di General Electric (GE) tahun 1980.

Perusahaan multinasional ini didirikan oleh Thomas Edison tahun 1890. GE bergerak di banyak bidang mulai dari produksi plastik, alat elektrik rumah tangga, perbankan, manufaktur, penerbangan, hingga media massa. Tahun 2010, GE dinyatakan sebagai salah satu perusahaan terbesar dunia, versi Forbes.

Jack Welch lahir di Peabody, Massachusett, tahun 1935. Sejak kecil, sudah mempunyai kemampuan bernegosiasi, memimpin, dan menggerakkan teman-temanya dalam olah raga basket dan hoki.

Ia termasuk anak beruntung. Sementara banyak temannya tidak mampu melanjutkan sekolah, ia berhasil meraih gelar PHD jurusan teknik kimia. Setelah itu, ia diterima bekerja di GE di Pittsfield, Massachuesett.

Di GE yang meproduksi dan mendistribusikan plastik, awalnya ia kecewa berat atas perlakuan atasannya. Ia sempat ingin pindah kerja. Namun, atas saran Gutoff, salah satu atasannya yang melihat kemampuan dan potensinya, ia bertahan. Dan terbukti, karena prestasi kerjanya, 12 tahun kemudian, ia diangkat menjadi CEO.

Pasti, banyak orang melihat Jack Welch dari keberhasilannya merubah GE. Tahun 1980, GE yang dihargai Wall Street US$14 miliar, setelah 20 tahun dipimpin Jack, berhasil berubah menjadi US$480 miliar. Namun, banyak orang belum tentu mencermati bagaimana pergumulan di balik kesuksesan tersebut.

Seperti dikisahkan Carol S. Dweck, dalam bukunya, Change Your Mindset (2007), kesuksesan Jack adalah hasil bedah, bongkar, dan pasang cara berpikir serta pandangan hidupnya (mindset). Langkah pertama, dimulai dari dirinya. Ia terus berusaha membuat dirinya rendah hati yang menggerakkan banyak orang, khususnya anak buahnya.

Pernah suatu ketika, saat dorongan hatinya ingin dihargai laksana bangsawan atau raja, tiba-tiba jas yang ia kenakan tertumpah oli. Tanpa malu, ia lanjutkan tugasnya.  Bisa saja ia marah dan menyalahkan orang lain, namun kejadian itu ternyata justru memaksa dirinya menjadi low profile.

Dalam catatan biografinya, ia menyebutkan, “Begitulah saya, ketika saya berpikir bahwa saya ini orang hebat, sebuah tamparan datang mengingatkan hingga menyadarkan saya kembali.” Ia mengaku dirinya cenderung congkak, dengan bersusah payah ia bongkar watak tersebut.

Suatu ketika, dengan kepercayaan diri berlebih, ia membeli Kidder, Peabody, sebuah perusahaan perbankan di Wall Street. Keputusan tersebut ternyata membuat, GE merugi jutaan dolar. Ia menulis, “Kadang antara kepercayaan diri dan keangkuhan sangat tipis jaraknya. Kali ini, keangkuhan menang, dan itu menjadi pelajaran berharga bagi saya”.

Bagi Jack, seorang pemimpin seharusnya memayungi, mengarahkan, dan bukanlah hakim. Ia menyadari, bisa menjadi besar salah satunya berkat bimbingan atasan sebelumnya. Saat ia belum menjadi CEO, ia pernah melakukan kecerobohan. Karena salah prosedur produksi, terjadi ledakan kimiawi dan menghancurkan salah satu gedung GE.

Ia dipanggil di kantor pusat. Dengan tergopoh-gopoh, ia datang siap diadili. Ia jelaskan apa adanya atas kesalahan fatal yang diperbuat. Namun ternyata bukan penghakiman yang ia dapatkan. Charlie atasannya, justru membantu dan mengarahkan apa yang perlu diperbaiki. “Kepada anak buah yang sudah ketakutan atas kesalahannya, pemimpin harus membantu agar ia mampu mengatasinya.”

Pembinaan anak buah sangatlah penting. Jack kemudian melembagakan program pembinaan karyawan GE secara sistematis. Melalui pembinaan tersebut, kesalahan kerja makin dapat diminimalisir. Baginya, SDM/karyawan adalah modal utama perusahaan.

Ia benci birokrasi dan mentalitas bangsawan dalam GE. Ia merubah budaya itu mulai dengan merubah mindset dalam dirinya. Ketimbang hanya duduk di singgasana dalam ruangan tertutup dan cukup main perintah, ia memilih mendengarkan para eksekutif bawahannya, bahkan hingga bawahan yang terbawah.

Apa yang ia lakukan terbukti mematahkan mentalitas asal bos senang dalam tubuh GE. Ia terus menaburkan benih semangat dan harapan baru di semua lini perusahaan. Budaya baru tersebut bernama budaya tim kerja, bukan budaya teror. Hakikat merek bernama manajer, ia rubah. GE pun melambung di bawah kepemimpinan Jack Welch.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : suwarno
Sumber : Dari berbagai sumber