• News

  • Religi

Manusia Angkuh: Ingin Pindahkan Air Samudera ke Lubang Galian di Pantai

Gereja Paroki BMV Katedral Bogor
foto: gembalamasakini.com
Gereja Paroki BMV Katedral Bogor

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Sekali peristiwa, seorang calon Pastor (imam Katolik) sedang bepergian menuju ke suatu kota. Sebelum bus berangkat, ia berdoa dengan mengawalinya dengan “Tanda Salib”. Usai berdoa, ia didekati oleh seorang lelaki paruh baya.

Bapak itu menanyakan ke pemuda apakah ia beragama Katolik. Sang pemuda mengiyakan. Terjadilah percakapan yang akrab dan hangat. Si Bapak kemudian menanyakan tentang iman Katolik terkait keyakinan “Tri Tunggal Maha Kudus”.

Dalam ajaran Kristiani, Tuhan Yang Maha Esa juga diyakini memiliki kodrat atau hakikat yang satu tetapi memiliki tiga pribadi yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Bapak yang non-Katolik itu mengaku ingin tahu bagaimana penjelasan dan penalarannya.

Mulanya, Sang Pemuda itu menjelaskan dengan pendekatan doktrin gereja namun hasilnya justru membuat Sang Bapak bertambah bingung. Ia tak bisa memahami misteri ajaran Katolik.

Akhirnya sang pemuda itu membuat analogi. Katanya, “Bukankah Bapak mempunyai anak? Apa sebutan anak kepada Anda? Apa sebutan istri kepada suaminya? Apa sebutan keponakan kepada Anda? Apa sebutan murid-murid dan rekan guru kepada Anda yang menjabat kepala sekolah?”

Di akhir pertanyaan, Sang Pemuda kemudian menguncinya dengan pertanyaan, ”Bapak mendapat sebutan banyak. Ada ayah, suami, pak de, pak guru, rekan guru, dan sebagainya. Tetapi, bapak itu ada berapa? Hanya ada satu bukan?”

Sang Bapak yang ternyata menjabat kepala sekolah di suatu kota itu mulai manggut-manggut. Ia mulai paham akan istilah “tiga tetapi satu” dalam iman Katolik.

RD Mikael Endro Susanto (foto: bmvkatedralbogor.org)

Penjelasan di atas adalah cerita dalam kotbah (homili) RD Mikael Endro Susanto saat memimpin misa (ibadat) memperingati perayaan “Tri Tunggal Maha Kudus” dalam kalender liturgi gereja Katolik yang jatuh pada hari Minggu (16/6/2016) di Paroki BMV Katedral Bogor, Jawa Barat.

Pemuda dalam kisah itu tak lain dan tak bukan adalah RD Mikael Endro Susanto yang kala itu masih menjalani pendidikan calon Pastor (Frater). Dalam cerita itu, ia berhasil menjelaskan konsep “Tri Tunggal Maha Kudus” secara lebih sederhana dan mudah dipahami.

Akan tetapi, “Tri Tunggal Maha Kudus” tetaplah menyimpan misteri yang tak sederhana dan tak terkira agungnya. Manusia yang hanyalah sebutir debu di alam semesta sebenarnya tak akan mampu memahami Sang Maha Tak Terhingga.

Tuhan Yang Esa dalam iman Katolik memiliki tiga fungsi (pribadi) yakni Sang Pencipta (Bapa), Sang Penebus dosa manusia (Putra), dan Sang Pembimbing umat manusia (Roh Kudus). Tiga pribadi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Mengenai betapa tak terhingganya Tuhan, RD Mikael juga mempertegas dengan mengambil kisah filsuf gereja yakni Santo Agustinus. Di suatu hari, Agustinus menyaksikan ulah seorang anak yang sedang menggali lubang di pasir pinggir pantai.

Lukisan Santo Agustinus

Anak kecil itu sedang berusaha memindahkan air dari laut ke dalam lubang itu. Kata anak itu, ia ingin memindahkan (menguras) air samudera ke dalam lubang pasir. Agustinus pun tertawa sambil mengatakan bahwa itu adalah pekerjaan sia-sia.

Tiba-tiba, anak itu berpaling dan berkata kepada Agustinus. “Bukankah ini sama seperti pekerjaan Anda untuk mencoba mengetahui siapa Tuhan?” Agustinus pun terkejut dan mengakui kebenaran pernyataan anak itu.

Manusia sering angkuh dengan berusaha mengandalkan otaknya untuk bisa mengetahui seluruh seluk beluk Sang Maha Tak Terhingga.

Mendalami terus menerus adalah wajib tetapi manusia harus sadar diri (rendah hati) bahwa otaknya memiliki keterbatasan. Dengan kerendahan hati barulah bisa memahami misteri Sang Maha Tak Terhingga.

Hal terakhir yang tak kalah penting adalah tentang makna “Tiga yang menjadi Satu”. Itu juga melambangkan persatuan. Umat Katolik wajib menjunjung arti persatuan. Bukan hanya dalam lingkup satu umat Katolik saja, tetapi wajib memperjuangkan persatuan dengan umat lain.

Sesuai dengan semangat Konsili Vatikan II tentang Aggiornamento yang memiliki makna “bukalah jendela itu agar udara bisa masuk”.  Artinya, Gereja memiliki keterbukaan bahwa sesama umat manusia di dunia adalah satu tujuan yakni keselamatan menuju Tuhan, apapun agamanya.

Sama halnya pula dengan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman budaya, suku, agama, ras namun harus memiliki semangat untuk bersatu di bawah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Dalam persatuan, ada unsur kerendahan hati dan bukan menonjolkan egoisme diri.  

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?