• News

  • Religi

Diprotes, Malia Bouattia Menjadi Pempimpin Muslim Pertama di Inggris

Malia Bouattia
bbc indonesia
Malia Bouattia

LONDON, NETRALNEWS.COM - Mahasiswa dari sejumlah universitas, termasuk Oxford dan Cambridge, mengancam akan melangsungkan pemungutan suara untuk memisahkan diri dari Serikat Mahasiswa Nasional Inggris, National Union of Students (NUS).

Ancaman dilontarkan menyusul terpilihnya presiden NUS yang baru, Malia Bouattia, pemimpin Muslim perempuan dan kulit hitam pertama dalam sejarah NUS.

Bouattia dituduh telah melontarkan berbagai pernyataan anti-Semit - termasuk menyebut Universitas Birmingham "semacam garda Zionis". Bouattia menegaskan itu adalah pernyataan politik dan bukan terkait agama.

Harry Samuels, delegasi NUS dari University of Oxford, mengatakan kepada BBC Newsnight, penunjukan Bouattia tidak demokratis, karena ia tidak terpilih di bawah sistem satu anggota, satu suara. "Ini bukan hanya khusus tentang Malia," katanya.

"Jelas pemilihannya menunjukkan fakta bahwa NUS tidak lagi mewakili semua mahasiswa. Lebih dari itu ada sejumlah masalah yang membuat kami prihatin bahwa seakan tak ada lagi pembaharuan yang bisa dilakukan di organisasi ini.

"Ini berbagai alasan mengapa kita berkampanye untuk meninggalkan NUS."

Kampanye Malia Bouattia untuk menjadi presiden NU mencakup "Mengapa Kurikulum saya kulit putih?" Dia juga menentang strategi kontra-ekstremisme pemerintah.

Politik bukan agama

Pada tahun 2011, ia ikut menulis blog untuk Friends of Palestine yang menyebut bahwa "Universitas Birmingham adalah semacam garda Zionis di Pendidikan Tinggi Inggris."

Friends of Palestine ini juga menyebut bahwa universitas itu "membangun lagi sebuah pos pemeriksaan Israel di halaman perpustakaan utama universitas."

Dalam video tahun 2014 dari acara Gaza dan Revolusi Palestina ia mempertanyakan nilai pembicaraan perdamaian damai Timur Tengah dan memperingatkan pengaruh 'media arus utama yang dipimpin Zionis.'

Malia Bouattia kemudian mengatakan dia 'sangat tidak nyaman dengan tudingan anti-Semitisme,' dan : "Bagi saya mempermasalahkan politik Zionis tidak membuat saya mempermasalahkan ke-Yahudian."

Dia mengatakan sikapnya itu adalah 'argumen politik, bukan tentang iman.'

Di sisi lain, Malia Bouattia juga dituduh tidak mendukung gerakan mengutuk ISIS -kelompok yang mengaku sebagai Negara Islam.

Tapi NUS mengatakan penolakan Bouattia terarah pada rumusan kata-katanya dan tidak pada prinsipnya.

Editor : Hila Japi
Sumber : BBC Indonesia