• News

  • Ritel

Ingin Hemat Biaya Listrik, Baran Energy Punya Solusinya

Founder dan CEO Baran Energy, Victor Wirawan.
BS
Founder dan CEO Baran Energy, Victor Wirawan.

JAKARTA, NETRALNEWS.COMM – Anak milenial Indonesia kembali menghasilkan produk bermutu dan canggih. Tergabung dalam naungan Baran Energy, mereka meluncurkan teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) berupa energy storage system atau baterai penyimpanan energi skala besar bernama PowerWall.

Founder dan CEO Baran Energy, Victor Wirawan, mengklaim jika menggunakan energy storage system ini lebih hemat dibandingkan berlangganan listrik. Perusahaannya juga menyediakan garansi selama 10 tahun.

"Dengan energi storage biayanya bisa empat kali lipat lebih rendah," tutur dia saat acara launching PowerWall, di Epicentrum Walk, Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Victor berasumsi orang menggunakan listrik 2.000 watt dengan tagihan Rp1,5 juta per bulan. Dalam 20 tahun mendatang maka tagihan yang perlu dibayar sebesar Rp360 juta.

"Dengan energi storage, daya 2.000 watt dibanderol dengan harga Rp234 juta yang bisa bertahan sampai 20 tahun," imbuhnya.

Lebih lanjut, Victor juga mengatakan bahwa pihaknya saat ini sedang mengembangkan tiga varian produk teknologi energi yang tergolong ramah lingkungan, yaitu PowerWall berkapasitas 8.8 KWh, PowerPack 126 KWh, dan PowerCube 1.2 MWh. Ketiga perangkat ini dapat digunakan, mulai dari rumah tinggal, pabrik, real estate, perkebunan, pertambangan, hingga industri sekala besar.

"Peluncuran teknologi ini juga selaras dengan komitmen pemerintah yang terus mendorong pemakaian energi yang bersumber dari EBT yang lebih ramah lingkungan," kata Victor.

Pria yang mengidolakan Elon Musk itu menambahkan, proses pengalihan pemanfaatan sumber energi berbasis fosil ke EBT di Indonesia tentunya memerlukan waktu, sama seperti di sejumlah negara Eropa dan Tiongkok.

"Namun, pada waktunya nanti, sumber-sumber energi berbasis fosil akan tergantikan oleh sumber energi terbarukan," tambah Victor.

Victor menyampaikan keinginan untuk membuat baterai sudah cukup lama, namun baru terealiasi beberapa waktu terakhir. Pasalnya, tidak mudah membuat baterai tersebut, karena dibutuhkan research and development yang mendalam dan memakan waktu. Selain itu, biaya produksinya juga cukup besar.

"Namun demikian, masyarakat luas masih bisa menggunakan alat tersebut, sebab kami telah menyediakan program Rp 1," sambung Victor.

Menurut Victor, pihaknya mencoba melakukan inovasi model kepemilikan, supaya teknologi ini menjadi terjangkau. Sehingga, lebih banyak lagi orang yang bisa berpindah ke energi terbarukan. Program ini, diharapkan dapat membantu percepatan peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan.

"Visi kami adalah mendorong penggunaan energi terbarukan dan mobilitas elektrik di Indonesia, namun menyediakan teknologinya saja tidaklah cukup," jelas Victor.

Oleh karena itu, tambah Victor, pihaknya berusaha agar pengembangan teknologi ini sesuai dengan market dan kondisi di Indonesia. "Sekaligus juga, kami ingin mempercepat proses agar produk ini bisa dimiliki oleh banyak orang," pungkas Victor.

 

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Widita Fembrian