• News

  • Singkap Budaya

Inilah Suku Dayak Punan, Primitif yang Takut Mandi Pakai Sabun

Suku Dayak Punan
banuadayak.wordpres
Suku Dayak Punan

KUTAI, KALIMANTAN TIMUR, NETRALNEWS.COM - Suku Dayak terdapat banyak sub suku, yang dalam sejumlah penelitian dikatakan ada sekitar 450 sub suku  Dayak. Dayak Punan adalah salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Suku Dayak Punan juga tersebar di Sabah dan Serawak, Malaysia Timur yang menjadi bagian dari Pulau Kalimantan

Populasinya paling banyak ditemukan di Kalimantan Timur diperkirakan berjumlah 8.956 jiwa suku Punan yang tersebar pada 77 lokasi pemukiman, dan terpecah lagi dalam sub-sub kecil.

Punan sendiri memiliki 14 sub rumpun di antaranya Punan Hovongan, Punan Uheng Kereho dan Punan Kelay. Dihitung dari populasi keberadaan Dayak Punan ini kian tahun kian menurun bahkan cenderung punah. 

Tetapi, meskipun demikian mereka tetap saja tidak pula berubah dengan pola adat istiadat dari leluhur mereka yang dipercayai. 

Suku Dayak Punan memiliki asal-usulnya datang dari Tiongkok. Dalam riwayat atau cerita, leluhur suku unan memiliki asal-usulnya datang dari negeri yang bernama “Yunan “ sebuah daerah dari daratan Tiongkok atau China Selatan. 

Mereka berasal dari keluarga salah satu kerajaan di China yang kalah berperang yang kemudian lari bersama perahu-perahu, sehingga sampai ke tanah Pulau Kalimantan. Karena merasa aman, mereka lalu menetap di daratan tersebut. 

Suku Primitif
Dari keseluruhan Suku Dayak, orang Punan inilah yang paling terbelakang baik budaya maupun kehidupan mereka. Secara umum mereka ini agak primitif dengan tinggal di goa-goa, anak-anak sungai dan lain sebagainya. 

Mereka juga tak mengenal pakaian bagus dan kemajuan zaman. Lebih aneh lagi dari kehidupan masyarakat Punan ini adalah secara umum mereka merasa takut dan alergi terhadap Sabun. Entah apa sebabnya tak ada yang mengetahui secara pasti.

Keadaan hidup primitif ini membawa mereka selalu berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dan terus menghindar dari kelompok manusia lain. Dalam kepercayaan mereka para leluhur lah yang menghendaki demikian.

Ada banyak tanda yang diberikan semisal ada diantara mereka yang meninggal. Setelah dikubur, serentak mereka berpindah menuju daerah lain. 

Mereka sangat percaya kalau roh yang meninggal akan bergentayangan membuat mereka tak akan merasa tenteram. Warga Punan ini disebut juga warga pengembara dan hidup dalam satu kelompok tanpa berpisah-pisah.

Mereka juga senang dengan makanan yang masih mentah seperti sayur-sayuran hutan yang berasal dari pohon nibung atau banding (teras dala). Begitu pula dengan daun pakis, atau labu hutan yang memang tersedia banyak di hutan. Mereka senang petik dan langsung memakannya.

Soal beras tak terlalu perlu bagi mereka. Makanan utama mereka adalah umbi dan umbut-umbutan hutan, ditambah dengan daging buruan yang mereka temukan atau mereka tangkap. 

Untuk daging ini pun jarang mereka masak. Jika ada binatang buruan yang didapat mereka lebih suka menjemur daging-daging tersebut di matahari panas sehingga menjadi daging asin atau dendeng. 

Intinya mereka tidak terlalu suka makan makanan yang dimasak. Namun, apakah itu masih berlangsung sampai sekarang? Itu akan diulas pada tulisan lain.



Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?