• News

  • Singkap Budaya

Unik, Tapi Ngeri, Tradisi Selesaikan Masalah dalam Sarung, Suku Bugis

Dua orang dalam satu sarung
thedreamers.blogspot
Dua orang dalam satu sarung

MAKASAR, SULAWESI SELATAN, NETRALNEWS.COM - Ada sebuah tradisi yang sangat unik, tetapi mengerikan terjadi di tana Bugis, yang dikenal dengan istilah menyelesaikan masalah dalam sarung ada lipa. 

Pertarungan biasanya dilakukan di arena sebagai sebuah sesi olahraga di lapangan. Namun, tidak dengan suku yang ada di Sulawesi ini. Suku Bugis memiliki tradisi pertarungan yang dilakukan oleh kaum pria dengan cara berbeda, sebagai simbol kejantanan,  yaitu bertarung dalam sarung.

Sigajang Laleng Lipa, merupakan tradisi yang dijalani oleh kaum lelaki suku Bugis, Makassar saat menyelesaikan masalah. Tradisi tersebut berupa pertarungan antar lelaki, namun dilakukan di dalam sarung. 

Tradisi ini dilakukan pada masa kerajaan Bugis dahulu, dan ini merupakan upaya terakhir menyelesaikan suatu masalah adat yang tidak bisa diselesaikan dengan cara lain, cara damai, atau cara yang tidak menelan korban nyawa.

Tradisi lama yang sudah mulai ditinggalkan yang dinamakan Sigajang Laleng Lipa' ini dijalani oleh kaum lelaki Bugis untuk menyelesaikan masalah antara kedua belah pihak. Tradisi ini benar-benar berbahaya. Kenapa? Karena diselesaikan dengan cara saling tikam dalam sarung, dimana ketika masuk dalam sarung kedua-duanya memegang badik untuk saling menikam. Anda bisa bayangkan sendiri.

Dalam gambar yang tertera di atas, memang tidak memegang badik, tetapi kalau kita google, memang aslinya kedua belah pihak dalam sarung itu memegang badik dan sedang berancang-ancang menikam ke lawan sebelahnya yang ada dalam sarung berdua. Tentu itu sangat mengerikan.

Penyelesaian ini kerap dilakukan jika musyarawah mufakat tidak menemui titik terang kedua belah pihak.  Kedua belah pihak misalnya tidak ada yang mau mengalah, masing-masing pihak menganggap  dirinya yang paling benar.

Konon, Sigajang Laleng Lipa' atau saling badik di dalam sarung ini banyak terjadi pada masa lalu ketika sebuah keluarga merasa harga dirinya terinjak. Karena kedua keluarga merasa benar, maka diselesaikan dengan Sigajang Laleng Lipa'.

Meskipun ini berisiko kematian, tetapi Suku Bugis Makassar tetap memiliki cara-cara khusus untuk menyelesaikan permasalahan dengan bijak. Sebagaimana dalam pepatah Bugis Makassar, 'Ketika badik telah keluar dari sarungnya, pantang diselip dipinggang sebelum terhujam di tubuh lawan.'

Makna filosofis adat ini mengingatkan agar suatu masalah selalu dicari solusi terbaik tanpa badik. Hal ini bisa dilakukan dengan musyawarah melibatkan dua belah pihak bermasalah serta dewan adat.

Selain itu, nilai-nilai dari ritual Sigajang Laleng Lipa' yaitu sarung diartikan sebagai simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat Bugis Makassar. Jadi sarung dianggap sebuah ikatan yang bersifat menjerat.

Semakin majunya pemikiran masyarakat, tradisi ini telah lama ditinggalkan oleh suku Bugis Makassar. Namun, tradisi Sigajang telah dilestarikan sebagai warisan budaya leluhur Sulawesi Selatan dengan dipentaskan di atas panggung, yang dieksplorasi lewat karya seni, seperti seni teater, drama, dan lain-lain.

(Disarikan dari Seni Budaya.Blogspot)

 

Editor : Thomas Koten