• News

  • Singkap Budaya

Inilah Tradisi Unik Suku Laut, Berburu Buaya dengan Mantra Magis

Penangkapan buaya
poshariini.blogspot
Penangkapan buaya

RIAU, NETRALNEWS.COM - Sesuai dengan namanya, Suku Laut senantiasa mencari penghidupan mayoritas dari air, baik lautan, maupun sungai. Itulah seperti yang sudah dikatakan pada tulisan sebelumnya di Netralnews, yaitu bahwa filosofi hidup orang suku laut, adalah lahir, kawin dan mati di laut.

Di dalam suku Laut, terdapar satu istilah yang digunakan untuk memancing, baik itu memancing ikan maupun memancing binatang-binatang lainnya. 

Ada lagi bermacam-macam istilah memancing ikan yang dipakai di daerah ini, antara lain: mengail, mengedik, menganggang, dan mewarnai. Mengail, mengendik, mengagang, dan mewarnai adalah istilah-istilah yang dipakai untuk memancing ikan yang beratnya kurang dari 20 kg. 

Sedangkan mengale adalah istilah yang dipakai untuk memancing ikan dan binatang-binatang lainnya yang beratnya lebih dari 20 kg. 

Oleh karena itu, menangkap buaya dengan jalan memancing sering disebut dengan istilah ‘megale’.

Upacara Mengale buaya ini terbagi atas beberapa tahap, yaitu: upacara melabuh ale, upacara mengambil buaya, upacara membunuh buaya, upacara membaca doa  selamat

Orang-orang bersepakat akan menangkap buaya, apabila buaya mengganggu ketentraan kampung misalnya menangkap ternak-ternak dan menakut-nakuti orang kampung dengan seingkali menampakan dirinya di hadapan orang banyak. 

Uniknya, menurut kepercayaan orang Laut, bahwa buaya yang telah banyak melakukan kesalahan, biasanya menyerahkan dirinya untuk segara ditangkap.

Tanda-tanda buaya menyerahkan diri adalah sang buaya seringkali mengebur-ngeburkan air sungai dengan ekornya di sekitar tenoat kediaman seorang pawang. 

Apabila buaya telah memberikan tanda-tanda seperti tersebut, pawang segera bermusyawah dengan beberapa orang pemuka masyarakat di daerah itu untuk segera melaksanakan upcara mengale buaya.

Di samping untuk menjaga ketentraman orang-orang kampung, upacara ini juga dilaksanakan dengan maksud untuk mengambil kulitnya. Kulit buaya sangat baik untuk bahan membuat tas, tali pinggang dan sebagainya. 

Oleh karena itu harganya sangat mahal. Adapun maksud penyelenggaraan masing-masing tahap upacara tersebut sebagai berikut: 1) Melabuh ale, yaitu melengkapi umpan pada kail.  2) Megambil buaya setelah tersangkut ale lalu dibunuh dengan sopan. 

Membunuh buaya itu untuk mencegah agar buaya tidak membuat onar mengganggu penduduk desa orang Laut yang memang perkampuannya di atas laut. 

Membunuh buaya juga selalu diikut dengan doa, dengan tujuan sebagai ucapan rasa syukur, sekaligus memohon perlindungan dari segala mara bahaya bagi seluruh warga kampung. 

Biasanya, apabila terdengar berita bahwa ale telah dimakan oleh buaya, maka pawang harus memperhitungkan saat yang tepat untuk menjemput sang buaya yang terkena ale tersebut.

Biasanya sang pawang cukup mengetahui saat-saat yang baik untuk berangkat dan saat-saat yang dapat mendatangkan bahaya.

Waktu pelaksanaan upacara membunuh buaya sangat tergantung pada kapan buaya yang dijemput oleh pawang beserta pembantu-pembantunya sampai di teapt pembunuhan.

Oleh karena itu, seandainya buaya yang dieput sampai ke kampung pada malam hari, pembunuhan sang buaya tetap ditangguhkan pada keesokan harinya. 

Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan yang seluas-luanya kepada orang kampung untuk menyaksikan peristiwa yang bersejarah itu, juga untuk mengindari dari bahaya-bahaya luka atau yang lainnya yang mungkin timbul akibat terbatasnya cahaya pada malam hari.

Upacara membaca dia selamat lazim dilaksanakan pada malam jumat selepas sholat magrib. Menurut kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun upacara ini dilaksanakan sekurang-kurangnya tiap tiga malam jumat secara berturut-turut.

Upacara membunuh buaya biasanya dilakukan di lapangan terbuka. Maksudnya supaya seluruh masyarakat kampung dapat menyaksikan peristiwa yang cukup mengesankan bagi orang kampung itu. Upacara membaca doa selamat dilaksanakan dirumah pawang atau pun di suarau-surau.

Adapun mantera yang dibacakan pada upacara melabuh ale ialah sebagai berikut:

Assalamualaikum kutahu asalmu mule menjadi rotan sage. Ramput putih dayang musinah, jatuh ke laut berjurai-jurai. Sudah diizinkan Nabi Nuh, hendak bertemu dengan janjian. Bujang singong, bujang singyang putih dade hitam belakang. Kias di gunung batang, kias di gunung batu, rambut putih pancung muari turun mandi.

Sambut senandung tuan puteri seberang laut. Kala engkau tidak menyambut, ke hulu kau tak makan, ke hilir kau tak dapat minum. Tunduk ke bawah engkau muntahkan nanah. Kalau engkau tidak menyambut engakau disumpah tuan putri malin kohar.

Neng zab raden kerinci, raden amali. Hulubalang sri rantam. Kumpullah engkau di sini, aku nak bekerja ramai. Jika engkau tidak berkumpul di sini engakau di sumah ptri malin kohar.

Mantera-mantera tersebut dimaksudkan agar umpan tersebut disambut buaya. Dipercaya bahwa setiap mantera yang diucap dalam upacara ini mengandung unsur magis yang dapat mendorong buaya untuk memakan umpan dalam rakit atau ale.

 

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Dielaborasi dari berbagai sumber