• News

  • Singkap Budaya

Inilah Kisah Skandal Janda Cantik, Asal-usul Tarian Perang Tarkam, Sumba

Tarian Tarkam
olandlapatau.blogspot
Tarian Tarkam

WAINGAPU, NETRALNEWS.COM – Seperti pada tulisan sebelumnya, bahwa asal usul tarian Tarkam, dalam tradisi Suku Sumba yang disebut Pasola, itu bermula dari skandal janda cantik nan jelita yang ada di tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur. 

Itu dilihat dari apa yang dikisahkan dalam hikayat orang Waiwuang di tanah Sumba. Alkisah ada tiga bersaudara: Ngongo Tau Masusu, Yagi Waikareri dan Umbu Dula memberitahu warga Waiwuang bahwa mereka hendak melaut. Tapi nyatanya mereka pergi ke selatan pantai Sumba Timur untuk mengambil padi. 

Setelah dinanti sekian lama dan dicari kesana-kemari,  tidak membuahkan hasil. Warga Waiwuang merasa yakin bahwa tiga bersaudara pemimpin mereka itu telah tiada. Mereka pun mengadakan perkabungan dengan belasungkawa atas kepergian atau kematian para pemimpin mereka. 

Dalam kesedihan yang mendalam itu, si janda cantik nan jelita `almarhum’ Umbu Dulla, Rabu Kaba mendapat lapangan hati Rda Gaiparona, si gatotkaca asal Kampung Kodi. Mereka terjerat dalam asmara dan saling berjanji menjadi kekasih. 

Namun, adat tidak menghendaki perkawinan mereka. Karena itu sepasang anak manusia yang tak mampu memendam rindu asmara ini nekat melakukan kawin lari. 

Kawin lari artinya, kawin yang dilakukan bukan di kampung dan disaksikan oleh umum, tetapi dilakukan secara sembunyi di tempat lain. Juga karena perkawinan yang tidak mendapat restu dari pihak keluarga.

Janda cantik jelita Rabu Kaba diboyong sang gatot kaca Teda Gaiparona ke kampung halamannya. Sementara ketiga pemimpin warga Waiwuang kembali ke kampung. Warga Waiwuang menyambutnya dengan penuh sukacita. 

Namun, mendung duka tak dapat dibendung tatkala Umbu Dulla menanyakan perihal istrinya. ‘Yang mulia Sri Ratu telah dilarikan Teda Gaiparona ke Kampung Kodi,’ jawab warga Waiwulang pilu. Lalu seluruh warga Waiwulang dikerahkan untuk mencari dua sejoli yang mabuk kepayang itu.

Keduanya ditemukan di kaki gunung Bodu Hula. Walaupun berhasil ditemukan warga Waiwuang di kaki gunung Bodu Hula, namun Rabu Kaba yang telah meneguk madu asmara Teda Gaiparona dan tidak ingin kembali. Ia meminta pertanggungjawaban Teda Gaiparona untuk mengganti belis  atau mas kawin yang diterima dari keluarga Umbu Dulla.

Teda Gaiparona lalu menyanggupinya dan membayar belis pengganti. Setelah seluruh belis dilunasi diadakanlah upacara perkawinan pasangan Rabu Kaba dengan Teda Gaiparona.  

Pada akhir pesta pernikahan keluarga, Teda Gaiparona berpesan kepada warga Waiwuang agar mengadakan pesta nyale dalam wujud pasola untuk melupakan kesedihan mereka karena kehilangan janda cantik Rabu Kaba.

Atas dasar hikayat ini, setiap tahun warga kampung Waiwuang, Kodi dan Wanokaka Sumba Barat mengadakan bulan (wula) nyale dan pesta pasola dalam bentuk perang yang disebut Perang Tarkam dalam budaya pasola itu. 

Akar pasola yang tertanam jauh dalam budaya masyarakat Sumba Barat menjadikan pasola tidak sekadar keramaian insani dan menjadi terminal pengasong keseharian penduduk yang bernuansa religius sebagai bentuk pengabdian terhadap leluhur.

Artinya, pasola adalah perintah para leluhur untuk dijadikan penduduk pemeluk Marapu dalam bentuk perang Tarkam itu. Sehingga, pasola pada tempat yang pertama adalah kultus religius yang mengungkapkan inti religiositas agama Marapu, sebuah agama atau tradisi kepercayaan suku Sumba. 

Apabila terjadi kematian yang disebabkan oleh permainan pasola, dipandang sebagai bukti pelanggaran atas norma adat yang berlaku, termasuk bulan pentahiran menjelang pasola. 

Pada tempat kedua, pasola merupakan satu bentuk penyelesaian krisis suku melalui `bellum pacificum’ perang damai dalam permainan pasola.  

Sumber: Disarikan dari Olandlapatau.blogspot

 

Editor : Thomas Koten