• News

  • Singkap Budaya

Suku Tiociu dalam Kisah Pergaulan di Indonesia

Tiociu
pegipegi
Tiociu

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang sahabat bertanya kenapa saya tidak mengucapkan selamat Imlek pada teman-teman saya di media sosial hari ini. “Kenapa? Haram ya?” begitu tanyanya setengah menyindir.

Saya jawab maksud saya bukan demikian. Biarkan saya mengucapkan itu dengan cara saya sendiri sebagai seorang penulis: dengan menulis.

Sejak dulu saat di kota asal, Kudus, sudah banyak orang keturunan Tionghoa dan produk budaya Tiongkok yang saya kenal. Di kota kretek itu, saya belajar perbedaan dan toleransi atas perbedaan yang ada. 

Seingat saya, belum pernah saya jumpai larangan mengucapkan selamat Imlek, selamat Natal, atau selamat hari raya apa pun pada mereka yang berbeda keyakinan. Baru beberapa tahun terakhir ini saja rasanya wacana itu berhembus dengan keras. Ada-ada saja memang.

Saya masih ingat ada sebuah kelenteng yang berdiri dalam jarak 200-300 meter dari masjid Sunan Kudus dan Menara Kudus yang kita semua kenal fotonya lewat kalender-kalender dan buku-buku sejarah dulu saat masih sekolah. Saya juga banyak memiliki teman etnis Tionghoa. 

Saya pernah dijamu seorang teman berdarah Tionghoa di rumahnya dalam rangka belajar kelompok dan ibunya berkata dengan penuh pengertian kepada saya saat menyajikan santapan siang,”Kamu makan ya, halal semua kok.”

Hanya saya di kelompok kami yang berkulit sawo matang dan berkelopak mata lebar. Begitulah kira-kira saya bisa menggambarkan suasana penuh toleransi di tempat saya tumbuh.

Salah satu hal yang unik dan membuat saya kerap bertanya-tanya ialah banyaknya teman-teman yang berdarah keturunan Tionghoa yang memiliki dua nama. Satu nama Indonesia mereka pakai di Kartu Tanda Penduduk. 

Sementara itu, saat saya membaca berita duka (obituari) di sebuah koran misalnya, saya menemukan sejumlah orang yang memiliki nama Tionghoa selain nama Indonesia mereka.

Mengenai nama ini, masyarakat Tionghoa asli biasanya menggunakan dua, tiga hingga empat suku kata. Namun, yang lebih lazim ialah nama dengan dua dan tiga suku kata. Nama keluarga atau marga disebut xìng (姓) dan dicantumkan di depan dengan satu karakter. 

Nama-nama marga yang paling umum ditemui misalnya Li, Zhang, Chen, Wang, dan Liu. Ada sejumlah nama marga yang berkarakter dua tetapi sangat jarang, misalnya Ouyang dan Sima. 

Kedua nama marga itu lazim ditemui sebelum masa Dinasti Song (sekitar 960-1279 M) lalu dianggap usang dan sering disingkat menjadi satu karakter (kebanyakan Hu (胡), yang maknanya dekat dengan “sesuatu yang bersifat barbar” untuk menunjukkan asal muasal yang bukan dari suku Han. 

Dengan makin membludaknya penduduk dan terbatasnya nama marga, uniknya masyarakat Tiongkok modern menciptakan nama marga baru untuk memudahkan pemberian nama dan menghindari kesamaan nama antarindividu.

Nama marga ini diikuti dengan satu atau dua (dalam beberapa kasus, tiga) míng (名), atau nama diri. Míng yang berkarakter satu mendominasi wilayah Tiongkok daratan daripada wilayah lainnya. 

Namun, seiring dengan makin banyaknya orang yang bernama sama, míng dengan karakter dua kini makin digemari untuk menghindarikan dari kebingungan.

Di Barat, banyak pendatang Tionghoa yang membuat nama mereka tertulis sesuai dengan norma yang berlaku di sana, yakni nama diri dulu baru nama keluarga. Praktik pembalikan semacam ini berpotensi menimbulkan kebingungan ekstra.

Makin banyak pula warga berdarah Tionghoa di luar negerinya yang memakai nama Barat. Di dalam budaya Tionghoa, tidak ada daftar nama yang bisa dipilih sebagaimana yang ditemui dalam kebudayaan Anglo Saxon (misalnya nama John, Jack, William, Thomas, Sarah, Mary).  

Alih-alih, orang tua memilihkan satu atau dua karakter berdasarkan makna atau pelafalan dan mengubahnya menjadi sebuah nama.

Nama-nama Tionghoa memiliki makna harafiah yang indah sebab tersusun dari karakter-karakter dan kalimat percakapan sehari-hari. Contohnya, sebuah nama lazim di Tiongkok bisa berarti “Gelombang Samudera”, “Fajar Merekah”, “Putri”, “Berbudaya”, “Harimau”, Salju”, dan sebagainya. Semua itu membantu kita mengingat nama dan wajah orang dengan lebih baik.

Semua orang berdarah Tionghoa mulanya sah-sah saja menggunakan nama asli mereka di sini. Namun, begitu peristiwa politik 1965 yang berdarah itu terjadi di negeri ini, semua hal yang berbau Tionghoa menjadi unsur yang dibenci.

Hingga kemudian sebuah keputusan pemerintah di masa rezim Orde Baru mengharuskan semua orang berdarah Tionghoa mengganti nama mereka dengan nama yang lebih Indonesia. Bila mereka menolak ganti nama, warga keturunan Tionghoa serta merta dicap sebagai pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI). 

Penggunaan bahasa Mandarin, dialek Kanton, Hokkian, perayaan imlek, barongsai dan sebagainya sama sekali dilarang di tempat-tempat publik. Pelarangan semua produk kebudayaan Tionghoa itu membuat kebudayaan Tionghoa di Indonesia tersembunyi di balik warna-warni kultur setempat.

Semua itu dialami oleh generasi baby boomers. Bagi mereka yang seusia saya (generasi X), nama Tionghoa menjadi semacam formalitas belaka. Seorang teman bermarga Zheng (baca “cen”) dan nama dirinya Jia Ling (baca “cia ling”) mengatakan nama Tionghoanya ditulis sebagai “曾嘉玲”. 

“Pemberian nama itu tidak wajib sih. Hanya untuk kesenangan,” katanya sembari bangga masih bisa ingat penulisan karakter nama Tionghoanya sendiri. Lebih lanjut ia menjelaskan nama-nama yang bermakna bagus mencerminkan tingkat pendidikan orang tua seseorang. 

“Tidak sampai menjadi kebanggan tetapi memang zaman dulu bisa terlihat latar belakang dan pendidikan keluarga dari nama. 

Mirip kita membedakan latar belakang orang yang namanya Ijah sama Agnes Monica gitu deh,” jelas teman saya yang namanya jujur mengingatkan saya pada sebuah brand sepeda motor dari negeri tirai bambu.

Masih menurut Zheng Jia Ling, nama Tionghoa seseorang bisa mencerminkan asal sukunya juga. “Apakah seseorang suku Kanton, Hokkian, Tiociu.

Kalau aku sendiri dari Hakka, suku yang asal muasalnya kaum petani dari daerah utara lalu jadi nomaden terusir ke Selatan sampai daerah Kanton. Karena terbiasa diusir dan dirundung (bully), suku ini dikenal sangat erat. 

Laki-lakinya menjaga keluarga, perempuannya dikenal rajin dan bisa mengurus rumah,” jelas teman saya itu panjang lebar.

Lain lagi dengan kisah Cai Zongqi蔡宗豈 (baca “Chai Cong Chi”). Ia mendapatkan namanya setelah lulus SMA dari seseorang yang paham perhitungan tanggal lahir dan peruntungan nasib. 

“Mesti bayar buat dapat nama itu,” terang Cai yang mengatakan nama Zongqi artinya “leluhur” dan “kebahagiaan”. 

Lain dari Zheng Jia Ling yang berasal dari garis keturunan suku Hakka, Cai Zongqi dari suku Hokkien yang banyak berkonsentrasi di pulau Sumatera, sebagian Jawa dan Kalimantan. 

“Kalau di Singapura dan Malaysia kebanyakan suku Hokkian, dan di ibukota Malaysia kebanyakan Kanton,” imbuh Cai yang bekerja sebagai pengajar bahasa Mandarin itu. 

Dengan ibunya, ia masih berkomunikasi dalam dialek Hokkien, sesuatu yang tidak saya jumpai di keluarga-keluarga Tionghoa di Jawa, apalagi di Kudus. 

Teman-teman saya di Jawa itu malah sering mengadopsi dialek Jawa yang jauh lebih kental daripada saya yang Jawa ini. Heran juga saya.

Mereka sangat melebur dengan tanah dan budaya setempat sementara saya lebih mirip bunglon yang menyulitkan orang mengenali warna asli saya. 

Meski teman saya ini lancarnya bukan kepalang saat berbahasa Mandarin, ia masih menunjukkan dialek Melayu saat berbahasa Indonesia. 

Pantas saja saat saya berbahasa Jawa, seorang teman sesama orang Jawa malah mengecam saya,”Bahasa Jawa kamu wagu (aneh). Lebih pantas pakai bahasa Indonesia atau Inggris.” Di sini saya merasa mereka jauh lebih ‘pribumi’ dari saya.

Teman saya yang ketiga lebih aneh lagi karena ia mengaku tidak ingat lagi nama Tionghoanya. “Karena setelah dewasa baru diberikan nama (Tionghoa – pen). Nama Tionghoa harus sesuai dengan tanggal lahir dan jam lahir. 

Jika keliru bisa membebani orang yang bersangkutan,” ucap pria bergaris keturunan suku Tiociu dan Hokkian. Menurut Zheng Jia Ling, suku Hokkian dan Tiociu memiliki kemiripan dalam bahasa.

Suku Hokkian dikenal pandai berdagang dan kaya raya sementara laki-lakinya pintar mencari uang dan kaum perempuannya pandai bersolek.

Cerita unik mengenai nama Tionghoa berlanjut dengan pengalaman seorang teman bernama Tom, sebut saja begitu. Lalu kenapa ia bisa mendapatkan nama Tionghoa? “Itu dibuat saat sekolah di China,” ucapnya lalu mengetikkan tiga karakter. “Itu dari huruf Kanji. 

Kalau di Jepang bacanya Shiro Tetsuya.” Tim menceritakan setiap pelajar asing di Asia Timur diberi nama versi lokal atau nama aliasnya agar lebih mudah diingat. 

Lain dari nama Tionghoa dua teman saya yang pertama, pilihan nama untuk pelajar asing di Tiongkok dibebaskan saja, tak perlu menyesuaikan dengan hari lahir, peruntungan dan sebagainya.

Kemudian saya bertanya,”Tapi orang tua punya darah China nggak?” Tukasnya,”China, Melayu, Belanda”. Ternyata dia campuran.

 

Reporter : Albert Adji
Editor : Thomas Koten
Sumber : Dari berbagai sumber