• News

  • Singkap Budaya

Sosok Dayak Seperti Inilah yang Membuat Belanda Takut

Pasukan Hantu dari Suku Dayak
Kuririnfo
Pasukan Hantu dari Suku Dayak

Nilai luhur perjuangan dalam bertahan hidup adalah sejenis tuntutan untuk bertahan hidup. Suku Dayak yang merupakan suku yang hidup di pedalaman hutan yang dipenuhi binatang liar, seakan menekan kehidupan Suku Dayak untuk dapat bertahan hidup.

Untuk itulah mereka menciptakan sebuah senjata yang dapat melumpuhkan binatang liar dalam sekejap. Konon, sebuah anak sumpit dapat melesat sejauh 200 meter ketika ditiup. Untuk itulah sumpit menjadi senjata yang ampuh untuk berburu.

Sumpit juga memiliki nilai pemahaman terhadap kehidupan, yang berarti Suku Dayak dalam menggunakan sebuah sumpit juga dituntut untuk mempelajari alam sekitarnya, misalnya mereka diharuskan untuk mengenal jenis-jenis tanaman atau hewan di hutan yang memiliki racun yang mematikan serta jenis tumbuhan atau hewan yang dapat dijadikan penawar racunnya.

Selain mengenal jenis dan fungsi flora-fauna yang ada di hutan, Suku Dayak juga diharuskan untuk mengerti arah pergerakan angin. Arah angin memiliki pengaruh yang sangat besar bagi senjata sumpit. Angin dapat membantu laju mata sumpit menjadi lebih cepat dan mematikan, juga dapat menahan laju mata sumpit. Untuk itu, sebelum sumpit digunakan, warga Suku Dayak diharuskan mengerti arah angin terlebih dahulu.

Selain itu, keterampilan atau skill yang ada menjadi salah satu nilai luhur dalam sumpit. Yakni, kemampuan seseorang dalam menggunakan sumpit, misalnya kemampuan dalam olah nafas yang menjadi kemampuan utama dalam penggunaan sumpit.

Semakin sering latihan dalam mengolah nafas, semakin jauh pula anak sumpit dapat melesat menuju target sasaran. Namun, tidak hanya keterampilan dalam olah nafas, keterampilan dalam pembuatan sumpit juga menjadi sesuatu yang sangat penting.

Diperlukan keterampilan khusus dalam membuat sumpit agar lubang yang dibuat lurus dan tidak miring ke samping. Semakin sering berlatih dalam melatih olah nafas dan membuat sumpit, semakin ahli pula seseorang dalam penggunaan sumpit.

Sedangkan, nilai sakral dalam senjata sumpit tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Suku Dayak. Karena itulah sumpit memiliki nilai sakral tersendiri. Dari yang awalnya merupakan alat untuk berburu dan berperang, lambat laun sumpit menjadi benda sakral yang sering digunakan dalam upacara adat.

Walaupun masih digunakan sebagai alat untuk berburu, pemburu yang menggunakan sumpit pun diatur tata cara berburunya melalui sebuah aturan adat yang tidak tertulis guna menjaga keseimbangan alam yang ada di hutan. Bahkan waktu serta jenis hewan yang diburupun diatur dalam ketentuan adat tersebut, sehingga pemburu tidak bisa sesuka hatinya berburu.

Pasukan Hantu yang biasa menggunakan sumpit itu adalah sosok manusia yang bersahabat dengan alam, karena menggantungkan hidupnya dengan alam. Tapi, tidak hanya mereka yang menggantungkan hidupnya kepada alam, karena alam juga terjaga kelangsungan hidupnya oleh mereka.

Reporter : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber