• News

  • Singkap Budaya

Kisah Cinta di Gunung Kemukus yang Kini Jadi Tempat Ritual Aneh

Gunung Kemukus
ulinulin
Gunung Kemukus

SRAGEN, NNC - Keberadaan Gunung Kemukus sampai saat ini masih menjadi fenomena dan daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Banyak keindahan dan cerita tentang Gunung Kemukus yang tak lepas dari kisah kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara.

Berbagai cerita tentang keberadaan Gunung Kemukus terus berhembus dari mulu ke mulut. Namun menurut beberapa warga desa yang tinggal di sekitar Gunung Kemukus menyebutkan jika keberadaan Gunung Kemukus tak lepas dari kisah Majapahit, dan ada juga yang mengatakan dari kisah Mataram.

Artinya, gunung Kemukus yang kini menjadi pusat ritual untuk mendapatkan kekayaan dengan jalan melakukan hubungan intim antara para peziarah itu memang memiliki kisah yang sangat unik yang tidak lain dari kisah cinta antara Pangeran Samudro dan Ontrowulan.

Alkisah, seorang pangeran dari dinasti Mataram, Pangeran Samodra namanya, jatuh cinta kepada ibu tirinya. Cintanya pun tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi tentu saja, cinta yang tidak lazim tersebut mendapat tentangan dari sang Raja. Namun, cinta itu buta, kata banyak orang. Maka sang Pangeran pun diusir dari keraton.

Tapi karena kesetiaan cinta, ibu tirinya pun nekad menyusul sang pangeran. Sampailah sang ibu tiri di Gunung Kemukus, tempat pengasingan sang Pangeran. Malangnya, yang dijumpainya tinggal gundukan tanah kuburan. Karena Pangeran Samodra telah keburu wafat. Maka berkatalah Dewi Ontrowulan, sang Ibu Tiri: "Kiranya terbukalah tanah kuburan ini untuk menelan jasadku, biarlah aku dikuburkan bersama kekasihku."

Lalu terdengar suara tanpa rupa, "Sesucikanlah dirimu terlebih dahulu, sebelum aku bersedia menerimamu." Maka Dewi Ontrowulan pun membersihkan dirinya di sebuah sendang (sumur) yang ada di dekat situ.

Hingga saat ini sendang tersebut disebut Sendang Ontrowulan. Konon, setelah sang Dewi selesai sesuci, gundukan tanah kuburan tersebut terbuka, dan menelan jasad Dewi Ontrowulan untuk selamanya.

Sumber: Dari Berbagai Sumber

Editor : Thomas Koten