• News

  • Singkap Budaya

Memikat Hati Gadis Bugis melalui Pa’raga

Ilustrasi permainan pa'raga
Hasbihtc
Ilustrasi permainan pa'raga

JAKARTA, NNC - Lelaki mana yang tidak nelangsa jika pinangannya ditolak sang pujaan hati? Dunia terasa runtuh, harga diri tercoreng. Rasa malu meledek seolah hidup tak ada artinya. Lebih-lebih lagi bila Anda berhadapan soal pinang-meminang dengan gadis Bugis.

Bagi pria Bugis, pinangan ditolak bisa terancam disebut tau de’ gaga siri’na (hilang harga dirinya). Siri’ (harga diri) menempati nilai tertinggi dalam budaya Bugis. Untuk meminang seorang gadis idaman, ia akan siapkan mahar sebagai wujud menjaga siri’.

Di zaman now yang makin hedon ini, mahar ternyata juga tidak menentukan. Biarpun disiapkan mahar senilai mobil Ferrari LaFerrari, namun bila hati sang pujaan tidak ada rasa suka dan cinta, mau apa dikata? 

Namun sebaliknya juga sama saja. Biar pun si gadis sudah ada rasa cinta tapi mahar utamanya tidak bisa Anda penuhi, pinangan pun terancam ditolak. Kalau nekat, lalu kawin lari bagaimana?   

Apalagi yang satu ini, jangan pernah dilakukan, berat hukumnya. Anda akan dianggap menodai harga diri dan semua lelaki keluarga si gadis, punya kewajiban membunuh Anda! Jangan pernah terjadi yang seperti ini. 

Lain bagi lelaki Bugis yang ri pakasiri’ (mendapat malu) karena pinangan ditolak. Biasanya ia akan pergi meninggalkan tempat tinggalnya untuk merantau. Ia pantang mengeluh dan siap bekerja keras sampai buktikan dirinya menjadi manusia berharga diri. Dengan itu ia pulihkan siri’.  

Maka, bagi Anda yang jatuh hati pada gadis Bugis, ada baiknya Anda menelaah salah satu tip berikut. Untuk apa? Tentunya agar tidak menyalahi adat keyakinan orang Bugis, juga agar pinangan Anda bisa diterima.

Salah satu tip yang wajib Anda kuasai adalah dengan menguasai permainan pa’raga. Permainan tradisional pa’raga adalah seni dengan perpaduan ketangkasan, keberanian, kerendahan hati, kegagahan, estetika, kerja sama, dan kekompakan. Dalam seni ini pula ada nilai siri’ yang mau disampaikan. Sebab, siri’ tak lain dan tak bukan adalah sportifitas, tegas, dan menjunjung prinsip nilai-nilai luhur tersebut.

"Pa" artinya pemain atau pelaku, dan "raga" adalah bola yang dibuat dari anyaman rotan (seperti bola sepak takraw) berdiameter sekitar 15 sentimeter. Bola ini dimainkan secara berkelompok dari 5 sampai 7 orang. Gerakan memainkan raga disebut ma’raga.

Jangan lupa, raga tidak boleh asal dibuat. Ada mantra khusus yang hanya dikuasai oleh guru, sesepuh, atau pemain senior pa’raga. Dengan mantra itu, raga akan mempunyai daya magis. Raga yang diberikan mantra khsusus akan ikut menentukan keindahan ma’raga

Pemain akan mengenakan kostum pakaian adat. Jenis pakaian adat pa’raga antara lain, passapu (penutup kepala berbetuk segi tiga), baju tutup (jas tradisional), dan lipa sabbe (sarung terbuat dari kain sutera).

Ma’raga menggerakkan semua organ tubuh, baik kaki, lutut, bahu, maupun kepala. Dalam ma’raga ada unsur beladiri. Atraksi ma’raga, mulai dari duduk, berdiri, sambil memainkan sarung, mengenakan topi, hingga formasi, membentuk tingkatan bersap tiga.

Gerakan bersap tiga dengan badan saling menopang memberikan sensasi pertunjukkan tersendiri. Tak jarang dibumbui atraksi akrobat dengan bumbu lawakan yang mengundang tawa. Tak hanya itu, pa’raga selalu diiringi musik khas, antara lain gendang, gong, dan calong-calong.

Musik pa’raga bertalu-talu mengundang penonton dan menjadi penyemangat pemain. Lekak-lekuk tubuh, atraksi geraknya pun dipengaruhi alunan musik tersebut.

Pa’raga pada mulanya menjadi permainan bangsawan. Setiap pemuda bangsawan wajib mengasah ketangkasan dan kreativitas. Dalam permainan ini, mereka bersaing menunjukkan kedigdayaannya masing-masing.

Pa’raga juga menjadi kontes romantis, yaitu ajang memikat para puteri keraton. Seperti dikisahkan dalam budaya tutur masyarakat di Makassar, Sulawesi Selatan, tentang kehebatan Datu Museng (Kerajaan Gowa) yang memikat Putri Maipa Deapati (Kerajaan Sumbawa) melalui pa’raga di sekitar abad ke-16.  

Dalam perkembangannya, pa’raga tidak hanya dimainkan para bangsawan. Rakyat pun menggandrunginya. Di waktu senggang di sore hari, saat pesta pernikahan, saat pesta sunatan, pa’raga ikut meramaikan suasana.

Dalam ajang itulah, para pemuda di sekitar Makassar, Sulawesi Selatan, sering bersaing memikat hati para putri primadona mereka. 

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber