• News

  • Singkap Budaya

Perempuan Suku Ini Dulu Tak Berbusana, Kini Berhijab

Perempuan Suku Togutil yang kini telah mengenakan
Perempuan Suku Togutil yang kini telah mengenakan

JAKARTA, NNC - Apakah Anda kenal Suku Togutil, sebuah suku di pedalaman Maluku atau Halmahera? Suku Togutil yang dikenal juga dengan nama Suku Tobelo itu, memang dulunya dikenal sangat primitif yang hidup di hutan-hutan Totodoku di Kepulauan Maluku.

Suku Togutil sebenarnya tidak mau disebut “Togutil” karena kata itu bermakna terbelakang. Dikatakan terbelakang karena hidup mereka di hutan-hutan belantara di pedalaman Halmahera bagian Utara dan tengah, dan sangat bergantung pada hasil-hasil hutan.

Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu, bambu, dan beratap daun palem. Selain itu, tempat tinggal mereka juga tidak berdinding dan berlantai panggung.
 
Sehari-hari mereka menggunakan Bahasa Tobelo, sama dengan bahasa yang digunakan penduduk pesisir, orang Tobelo. Bahasa ini sangat khas dan sulit dimengerti oleh masyarakat sekitar Halmahera.

Ada cerita, orang Togutil itu sebenarnya penduduk pesisir yang lari ke hutan karena menghindari pajak. Mereka memang belum mengerti kegunaan pajak yang dipungut oleh pemerintahan Belanda ketika itu.

Pada 1915 Pemerintah Belanda pernah mengupayakan untuk memukimkan mereka di Desa Kusuri dan Tobelamo. Namun, karena tidak mau membayar pajak, mereka kembali masuk hutan dan menetap di hutan.

Suku Togutil dulunya memang dikenal hidup telanjang dan setengah telanjang. Setengah dari tubuh mereka, baik kaum lelaki maupun perempuan, tidak berbusana dan hanya ditutupi dedaunan. Mereka belum mengenal budaya maupun agama.

Meski demikian, ada di antara mereka sesekali keluar hutan menuju permukiman penduduk dan kamp-kamp perusahaan untuk mencari makanan. Tampang yang brewok ditambah rambut gimbal dan panjang, membuat warga berpandangan bahwa mereka orang jahat. Padahal mereka sebenarnya baik.

Ketika melihat warga, mereka lari. Begitu pun sebaliknya, kalau warga melihat Suku Togutil, juga lari. Orang Togutil lari karena takut dan mengira warga hendak mengganggu mereka. Sementara, warga lari karena mengira orang Togutil penjahat, karena tampang mereka yang menyeramkan.

Ada yang berkisah, “Kalau melihat warga di hutan, mereka akan ikuti dari belakang dengan harapan ada jejak sisa makanan. Mereka memang meminta makanan maupun pakaian,” kata sejumlah orang mengisahkan.

Kini, sudah banyak orang Togutil yang dihimpun masyarakat sekitar untuk hidup bersama mereka. Pada awalnya ketika mereka datang, kehadiran mereka dijadikan tontonan warga, karena mungkin terlihat aneh. Hal itu lantaran  mereka telanjang dada atau hanya ditutupi dedaunan, baik laki-laki maupun perempuan.
 
Pada awalnya hanya beberapa orang saja yang dihimpun warga kampung untuk tinggal bersama mereka. Lama-kelamaan, jumlahnya bertambah banyak. Kini jumlah warga Togutil yang hidup di perkampungan seperti masyarakat Halmahera sudah lumayan banyak.
 
Dengan demikian, semakin banyak orang Togutil yang mengalami kemajuan. Banyak yang mulai belajar agama. Bahkan, banyak kaum wanitanya yang dulu telanjang atau hanya ditutupi dedaunan, kini banyak yang mulai mengenakan kerudung atau berhijab dan memeluk agama Islam. Mereka rajin belajar membaca Alquran, salat.

Cerita para warga yang tinggal di perkampungan Halmahera, “Sekarang banyak warga Togutil yang sudah hidup bermasyarakat di Galela (Kabupaten Halmahera Utara), bahkan ada yang mengikuti lomba azan. Setiap dua bulan sekali dikunjungi oleh ustaz dari yayasan pondok pesantren yang ada di Halmahera dan Ternate.”

Namun, sayangnya ada juga dari mereka yang saat ini kembali ke hutan, mungkin karena merasa lebih bebas, tanpa banyak peraturan yang terasa membatasi. Sedangkan, ada warga Togutil yang tinggal di pinggiran hutan Kabupaten Halmahera Timur sudah mulai benar-benar beradaptasi. Di sana mereka terbagi dalam beberapa titik lokasi dan hidup berkelompok.

Sebenarnya warga Togutil tidak terlalu merasa kesulitan dalam hal beradaptasi dengan masyarakat Halmahera lainnya. Itu karena dalam sejarahnya, pada masa lalu mereka memang merupakan masyarakat biasa, seperti orang Halmahera lainnya. Karena tidak mau membayar pajak pada pemerintahan Belanda, mereka lari ke hutan dan beranak cucu di dalam hutan.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari Berbagai Sumber