• News

  • Singkap Budaya

Mengenal Perempuan Minang di Zaman Siti Nurbaya

Ilustrasi peremuan Minangkabau.
Kabar Nagari
Ilustrasi peremuan Minangkabau.

JAKARTA, NNC - Hikayat Siti Nurbaya dengan kisah perjodohan yang dipaksakan, boleh jadi merupakan satu kisah yang melegenda di negeri ini.

Cerita roman atau novel klasik yang merupakan buah pena dari Marah Rusli yang fenomenal itu, memiliki latar belakang kisah percintaan dan kawin paksa dalam balutan budaya Minangkabau di zaman penjajahan Belanda.

Karya sastra ini menjadi rujukan wajib dalam pendidikan formal serta menjadi tonggak sejarah kesusastraan Indonesia yang menandai lahirnya sastrawan era Balai Pustaka, sebuah era bentukan Belanda.

Bahkan hingga kini, istilah “bukan zaman Siti Nurbaya” sudah menjadi istilah umum untuk mewakili sikap penolakkan generasi zaman sekarang terhadap perjodohan yang dipaksakan oleh orangtua, atau kisah pernikahan yang tidak bisa dipaksakan karena keadaan.

Namun, satu hal yang sangat menarik yang dapat kita simak di balik cerita roman klasik itu adalah kita bisa melihat sejauh mana kehidupan kaum perempuan Minangkabau di zaman Siti Nurbaya.

Dari kisah yang dituturkan dalam roman itu memiliki aspek ideologis dan sosiologis, bahkan juga ada aspek psikologis di baliknya. Sekaligus, kita bisa melihat ada gagasan feminisme di dalamnya. Setidaknya ada harkat, derajat, dan martabat perempuan yang tercermin di balik kisah roman Siti Nurbaya.

Setidaknya, itulah yang dilihat sastrawan Sapardi Djoko Damono dan pendiri Yayasan Jurnal Perempuan sekaligus pengajar Filsafat dan Feminisme dari Universitas Indonesia Gadis Arivia.
 
Lagi pula, Marah Rusli sungguh menggunakan model penokohan hitam-putih dalam roman Siti Nurbaya. Tokoh Syamsul Bahri digambarkan menarik secara fisik melalui berpakaian dan berpikir cara Belanda, karena ia mendapat pendidikan Belanda. Demikian pula halnya dengan tokoh Siti Nurbaya. Keduanya ditampilkan sebagai tokoh putih, simbol kebaikan.
 
Sedangkan tokoh hitam, yakni Datuk Maringgih, digambarkan sebagai sosok yang jelek secara fisik dan berperangai jahat. Datuk Maringgih yang sebenarnya mampu membangkitkan semangat perlawanan orang-orang di daerahnya terhadap pemerintah Hindia-Belanda dinilai secara negatif.

Sementara Syamsul Bahri yang digambarkan secara sempurna, baik dari sisi fisik maupun dari sisi wataknya, karena hasil pendidikan Belanda adalah pahlawan yang mampu melakukan segala hal yang baik. Meskipun ia diceritakan pernah mencoba bunuh diri, namun gagal ketika patah hati. Ia adalah pahlawan pemerintah kolonial karena berhasil menumpas perlawanan di kampungnya.

Hal yang sangat menarik dari roman Siti Nurbaya adalah tentang kehidupan kaum perempuan Minangkabau di zaman itu yang sudah terkenal cukup kompleks, baik dalam hal percintaan maupun dalam hal kehidupan sehari-hari. Bahkan, termasuk dalam pengambilan keputusan soal kehidupan dengan balutan adat istiadat yang sangat ketat.

Hal itu seperti dikatakan Gadis Arivia yang mencoba membedah novel ini dari sudut pandang feminis. Siti Nurbaya memiliki tema besar dalam mengedepankan otonomi dan kebebasan manusia.

Pada masa itu, kaum perempuan, seperti halnya dengan laki-laki (dalam sosok Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri), telah memiliki pandangan yang positif tentang pendidikan. Hal itu dipengaruhi oleh pemikiran dan keinginan Belanda yang mulai menggerakkan atau menggalang pendidikan di negeri ini dengan kaca mata Barat.

Hal ini tergambarkan sejak lembaran pertama novel tersebut, di mana keduanya saling tertarik dengan pelajaran sekolah. Akses pendidikan yang sama bagi mereka juga diterjemahkan menjadi kesetaraan di dalam rumah tangga.

Dalan roman itu, jelas dikisahkan bahwa Siti Nurbaya merupakan sosok yang otonom dan pencinta kebebasan. Beberapa keputusan hidupnya dilakukan secara sadar dan atas kehendak sendiri. Itu juga terlihat ketika ia memutuskan menikah dengan Datuk Meringgih. Ia lakukan atas kehendaknya sendiri untuk menyelamatkan ayahnya yang dililit utang.

Siti Nurbaya sadar akan keputusannya dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut. Menurut Gadis Arivia, ciri manusia yang otonom begitu kuat tergambar dalam karakternya. Hal ini terlihat pada saat ia mengusir suaminya.

Menjadi otonom artinya membuat kebijakan sendiri, menjadi mandiri. Saat Nurbaya mempertahankan kemartabatan dirinya, saat itu juga ia menunjukkan siapa yang menentukan hidupnya.

Menurut Gadis Arivia, salah satu isu hak perempuan yang dibahas dalam novel tersebut bisa kita amati untuk melihat kehidupan kaum perempuan Minang di zaman itu adalah masalah poligami. Protes atas poligami diungkapkan Siti Nurbaya.

Sebagian tokoh dalam novel ini menunjukkan sikap menolak tradisi yang membelenggu dan keinginan untuk memperjuangkan kesetaraan perempuan. Itu tentu dipengaruhi oleh pemikiran dan cara hidup Belanda.

Meskipun roman itu terpengaruh dengan pemikiran Barat, namun setidaknya kita bisa mengetahui lebih jelas tentang kehidupan kaum perempuan Minangkabau pada zaman Siti Nurbaya. Terutama tentang kehidupan dan perkawinan, juga tentang harkat dan martabat, serta kesetaraan yang dibalut adat Minang yang menganut paham matrilineal. 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro