• News

  • Singkap Budaya

Mengapa Rumah Joglo Seperti Tubuh Manusia dan Menghadap ke Selatan?

Ilustrasi rumah Joglo.
Rumahjoglonet
Ilustrasi rumah Joglo.

JAKARTA, NNC - Seperti dilansir media situsbudaya.id, 22 Juni 2018, rumah Joglo milik Mulatinah di Mangir Lor, Sendangsari, Pajangan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menghadap ke Selatan. Bangunan warisan kakeknya tersebut sejak awal dibangun sebagai tempat tinggal. Sengaja menghadap ke Selatan karena ada falsafahnya.

Rumah tradisional tersebut dibangun sekitar 1955. Mulatinah yang merupakan pedagang gula di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, menganggap rumah warisan tersebut layaknya tubuh manusia dan menjadi pusaka yang tak ternilai harganya.

Dalam tradisi orang Jawa, rumah laksana tubuh manusia. Selain itu, saat membangun juga wajib memperhatikan arah mata angin. Asal-usul penentuan arah tersebut sudah berlaku sejak zaman Kesultanan Mataram dan hingga kini masih tetap terjaga sebagai tradisi luhur.

Joglo dalam falsafah Jawa
Rumah merupakan salah satu unsur penting bagi orang Jawa. Memiliki rumah atau wisma adalah tolok ukur keberhasilan. Unsur lain yang wajib diupayakan untuk dimiliki  adalah curiga (senjata pusaka), turangga (kuda), kukila (burung peliharaan), dan wanita (istri).

Selain itu, orang Jawa juga memandang penting untuk menyelaraskan hidupnya dengan kekuatan alam. Hidup harus harmonis dengan alam semesta. Dalam hal ini, rumah Joglo diharapkan menjadi tempat yang nyaman dan harmonis untuk menjalani hidup di dunia.

Ukuran dan bentuk rumah Joglo melambangkan kedudukan sosial pemiliknya. Mulanya, joglo diperuntukkan hanya bagi kaum bangsawan. Untuk orang Jawa dari kalangan jelata umumnya menggunakan bentuk srotongan atau trojongan.

Tipologi rumah Joglo memiliki konstruksi atap brunjung yang menjulang tinggi di atas atap tumpang sari. Ciri lainnya dapat dikenali dari penopangnya yang terdiri dari empat tiang utama yang disebut saka guru.

Bahan utama saka guru biasanya adalah kayu jati yang bernilai tinggi. Jenis kayu ikut menentukan tinggi rendahnya status sosial pemiliknya.

Perlu diketahui pula bahwa bagian saka guru dan tumpang sari adalah bagian penting. Bagian ini biasanya dipenuhi ukiran. Semakin indah ukiran, juga mempengaruhi status sosial pemiliknya.

Rumah joglo bagian depan disebut juga pendapa. Bagian ini biasanya dijadikan sebagai tempat pertunjukan seni, seperti wayang, tarian, atau hiburan lainnya. Pendapa juga biasanya dipakai untuk acara pertemuan warga.

Sebagai personifikasi, rumah Joglo terdiri dari tiga bagian, yaitu kaki, badan, dan kepala. Bagian kaki menunjuk pada pondasi dan lantai. Bagian tubuh menunjuk pada dinding. Sedangkan bagian kepala menunjuk bagian atap rumah. Ketiga bagian itu juga mengandung arti perjalanan hidup, dari lahir, hidup, hingga mati.

Bagian atap yang dominan menunjukkan bahwa tradisi Jawa sangat mengutamakan pikiran dan ide atau akal budinya. Dengan akal budinya, seseorang bisa mempersiapkan dirinya menyatu dengan penguasa alam semesta.

Simbol berikutnya yang mengandung makna adalah segala hal terkait interior Joglo. Semakin kaya interior di bagian “badan” atau wilayah ruangan tempat hidup penghuninya, adalah semakin baik. Hal itu melambangkan bagaimana upaya penghuninya untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Biasanya menghadap ke Selatan
Dalam legenda Jawa, sekitar abad ke-16, Resi Projopati, berhasil mendirikan Kerajaan Mataram. Ia dinobatkan Sunan Kalijaga sebagai raja pertama dengan gelar Panembahan Senapati. 

Sebelum membangun Istana Mataram di Hutan Mentaok, ia bertapa dan bertiwikrama di pantai Selatan Jawa. Karena kesaktiannya, ia berhasil memaksa penguasa laut Selatan, yaitu roh Dewi Sri atau Ratu Kidul sehingga mau membantu membangun istana. Bahkan, kemudian dipersunting.

Sejak saat itu, Ratu Kidul yang dipercaya tidak akan mengalami kematian, akan selalu menjadi istri setiap keturunan Panembahan Senapati. Propaganda tentang mitos mengenai perkawinan Raja Mataram dan Ratu Kidul semakin menjadi-jadi justru pada masa pemerintahan Sultan Agung (1593-1645).

Rakyat jelata pun meyakini mitologi tersebut hingga kini. Konon, sebagai bentuk penghormatan kepada Ratu Kidul, rakyat Mataram wajib membangun rumah menghadap ke Selatan. Bila dilanggar, akan mendatangkan malapetaka bagi penghuninya.

Bagaimana kalau menghadap arah mata angin lainnya? Arah lain yang biasanya ditoleransi adalah menghadap ke Utara. Mengapa? Konon, Ratu Kidul juga menguasai Gunung Merapi. Gunung ini berada di sebelah Utara dari Keraton Mataram.

Maka, rakyat masih diperbolehkan membangun rumahnya menghadap ke Utara. Namun tetap ada syaratnya, yaitu agar di sisi rumah bagian Selatan, tetap diberikan pintu. Hal ini juga sebagai bentuk penghormatan bagi Ratu Kidul.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro