• News

  • Singkap Budaya

Barongan Ponorogo, Mengapa Kepala Harimau Ditunggangi Seekor Merak?

Kesenian Reog Ponorogo.
Youtube
Kesenian Reog Ponorogo.

JAKARTA, NNC - Kabupaten Ponorogo terletak di Provinsi Jawa Timur. Ponorogo berasal dari kata “pono” yang berarti melihat dan “rogo” yang berarti badan atau diri sendiri. Dengan demikian Ponorogo dapat diartikan sebagai “dapat melihat diri sendiri atau mawas diri”.

Dalam kisah Babad Ponorogo, kota ini didirikan oleh Bhatoro Katong, putera kelima Raja Majapahit yang bergelar Brawijaya V. Setelah membabat hutan, ia mendirikan pemukiman yang selanjutnya menjadi wilayah Kadipaten Ponorogo.

Pada 11 Agustus 1496, Bathoro Katong dinobatkan menjadi Adipati pertama Kadipaten Ponorogo. Hingga kini, tanggal tersebut dijadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Ponorogo. Selama berdiri hingga kini, daerah ini menyimpan kekayaan budaya adiluhung, salah satunya adalah Reog Ponorogo.

Reog berhasil menjadi simbol identitas Ponorogo. Mencermati seni budaya tersebut, terdapat keunikan tersendiri. Barongan yang digunakan dalam Reog Ponorogo bercirikan kepala harimau yang ditunggangi burung merak. Sebenarnya apa arti simbol tersebut?

Asal usul Reog Ponorogo
Seperti dipaparkan oleh tim penyusun “Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Ponorogo” (2018), dijelaskan bahwa sebenarnya, hingga kini belum ada penelitian konprehensif yang mengungkap secara persis kapan Reog dilahirkan. Semua masih bersumber dari tradisi lisan.

Dalam catatan Purwowijoyo berjudul “Babad Ponorogo” (1985), dikisahkan bahwa kesenian ini tak bisa dilepaskan dari keberadaan seorang tokoh bernama Ki Ageng Kutu Suryongalam.

Ia adalah seorang Demang Surukubeng yang dipercaya sakti mandraguna. Setiap hari, ia mengumpulkan kaum lelaki di desanya untuk diajarkan ilmu bela diri. Setiap kali diadakan latihan, selalu diiringi alunan musik terompet, genderang, ketipung, seruling, ketuk, dan kempul.

Kebiasaan tersebut kemudian menjadi cikal bakal kesenian Reog Ponorogo. Dalam perkembangannya, musik dan pemain beladiri mengenakan kostum dan peralatan khusus.

Tahun 1235 M,  peralatan Reog mulai dari busana, musik, tokoh pemeran, dan bentuk penyajiannya sudah mirip Reog yang kini kita kenal. Reog pada masa ini disebut  sebagai "Reog Tempo Doeloe". Lalu pada abad ke-14, Reog sudah menggunakan gamelan berbahan logam kuningan dan tembaga.

Ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa Reog lahir berkaitan dengan adanya ritual mengusir bahaya dan wabah penyakit. Sering disebut juga sebagai tradisi tolak bala atau tradisi bersih desa.

Dalam tradisi Jawa, unsur animisme dan dinamisme yang berpadu dengan budaya Hindu-Budha masih cukup kental. Masyarakat percaya bahwa roh orang atau binatang yang sudah mati bisa dipanggil atau didatangkan kembali ke dunia.

Dalam kesenian Reog, ada tradisi memanggil roh harimau. Konon, roh harimau adalah roh yang paling kuat dalam menjaga keselamatan dan mengusir kekuatan jahat, yang berupa penyakit atau bahaya musibah lainnya.

Alat politik untuk mengkritik Pemerintahan Majapahit
Dari sekian versi tentang asal-usul Reog Ponorogo, ada satu versi yang ternyata bersifat politis. Konon pada abad ke-15, ada seorang tokoh bernama Ki Ageng Kutu Suryongalam, ia adalah seorang pujangga besar di Keraton Majapahit.

Suatu ketika, ia berseberangan dengan Raja Majapahit yang bernama Bhre Kertabhumi. Ia pun memutuskan meninggalkan Majapahit dan memilih menyingkir ke daerah Surukubeng, wilayah Wengker, yang sekarang disebut dengan Desa Kutu, Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo.

Ia kemudian mendirikan padepokan dan menciptakan sebuah seni pertunjukan yang ditujukan untuk menyindir penguasa Kerajaan Majapahit yang telah rapuh. Ia menggambarkan Bhre Kertabhumi sebagai kepala harimau dalam barongan yang ia ciptakan.

Namun uniknya, barongan kepala harimau ini ditaklukkan oleh kekuatan lain. Kekuatan penakluk tersebut adalah seekor burung merak yang menungganginya. Ekspresi burung saat menunggangi kepala harimau digambarkan sedang mengembangkan semua bulu ekornya.

Lalu apa artinya? Artinya, Ki Ageng Kutu Suryongalam sebenarnya ingin menunjukkan kepada rakyat Ponorogo tentang keberadaan Raja Bhre Kertabhumi yang kala itu tak lagi bergigi. Ia sebenarnya hanyalah boneka istri atau permaisuri yang bernama Ratu Dwarawati.

Ki Ageng berpendapat bahwa kekuatan Kerajaan Majapahit tidak lagi berada di tangan Bhre Kertabhumi, tetapi berada di bawah perintah istrinya. 

Selain itu, Ki Ageng Kutu Suryongalam juga mengkritik lemahnya pasukan Majapahit yang digambarkan dalam bentuk tarian prajurit berkuda yang lemah gemulai. Sedangkan Ki Ageng Kutu Suryongalam digambarkan dalam sosok Pujangganong.

Arti dari Pujangganong sebenarnya berasal dari istilah "Pujangga Anom" yaitu jabatan Suryongalam saat ia masih di Keraton Majapahit. Pujangganong selalu bertingkah jenaka namun sakti mandraguna dan selalu menggoda Singo Barong.

Simbol dan pesan terakhir adalah melambangkan pengaruh Islam terhadap seni Reog Ponorogo yang dimulai sejak adanya Bhatoro Katong, yang telah bergama Islam. Nama Bhatoro Katong diberikan oleh Raden Patah, Sultan Demak.

Raden Patah dan juga direstui oleh para Wali Sanga, menyetujui penyebaran Islam melalui budaya untuk menggeser sisa-sisa pengaruh Hindu-Budha. Nuansa Islam dalam Reog Ponorogo disimbolkan berupa untaian manik-manik yang menggantung di paruh burung merak.

Kaki burung merak yang mencengkeram erat kepala harimau mengandung arti kemenangan Islam atas Budha-Hindu. Iringan gamelan masih tetap sama namun tanpa gong, karena gong diidentikkan dengan alat membakar semangat berperang.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro