• News

  • Singkap Budaya

Ini yang Terjadi Bila Pemuda Suku Bentong Tak Menikah dengan Sesama Suku

Ilustrasi Suku Bentong.
GuruPendidikan
Ilustrasi Suku Bentong.

JAKARTA, NNC - Suku Bentong biasa juga disebut sebagai Suku Tobentong. Mereka tinggal di wilayah Bulo-Bulo, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan. Mereka tinggal terisolir di daerah perbukitan dengan hutan dan sebagian sudah diolah menjai lahan pertanian.

Letak geografis daerah tempat tinggal Suku Bentong berada di ketinggian sekitar 400-500 meter di atas permukaan laut. Di daerah itu, belum ada fasilitas jalan yang cukup memadahi. Untuk menuju perkampungan yang satu dengan yang lain harus ditempuh dengan jalan kaki.

Suku Bentong menganut sistim perkawinan endogami kelompok. Artinya, adat mereka mengatur bahwa perjodohan yang direstui adalah perkawinan antarkerabat. Pasangan pengantin bisa berasal dari antarsepupu yang masih memiliki satu keturunan dari pihak ayah atau dari pihak ibu.

Namun, bila ada pemuda Suku Bentong yang tetap ingin menikahi gadis dari luar kelompok Suku Bentong, tetap diperkenankan. Syaratnya cukup unik. Sebelum menikahi gadis dari luar kelompok, si pemuda itu harus lebih dahulu menikahi salah satu gadis dari Suku Bentong.

Aturan adat seperti itu tentu ada maksudnya dan bukan berarti mereka menjadi pendukung poligami. Dengan cara itu, generasi Suku Bentong yang jumlahnya relatif kecil itu, berharap tetap bisa bertahan dan mempunyai keturunan yang murni berdarah Suku Bentong.

Pernikahan dari sesama Suku Bentong dipercaya akan lebih memungkinkan untuk melestarikan budaya, adat, tradisi, kepercayaan, dan sistem nilai kelompok mereka. Oleh karena kesadaran itulah, maka kebanyakan pemuda Suku Bentong memilih menikahi gadis dari suku mereka.

Untuk jenis maskawin yang diberikan pihak laki-laki kepada pihak perempuan, biasanya berupa kain adat dan ladang. Setelah pengantin dinikahkan secara adat oleh para sesepuh, pasangan pengantin bebas memilih untuk tinggal bersama keluarga dari pihak laki-laki maupun pihak perempuan.

Menurut kajian Dr Zulyani Hidayah dalam “Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia” (2015), pada 1975 populasi Suku Bentong terdiri dari 123 keluarga atau 934 jiwa. Diperkirakan pada 2018, jumlah mereka sudah mencapai lebih dari dua kali lipatnya.

Namun, bila dibandingkan dengan keseluruhan jumlah masyarakat yang tinggal di Kecamatan Tanete Riaja, jumlah suku Bentong tergolong sebagai kelompok minoritas.

Mereka tersebar di sejumlah perkampungan kecil di wilayah Kecamatan Tanete Riaja. Nama perkampungan mereka antara lain Kamboti, Tabalaka, Panggalungan, Rumbia, Ketopok, dan Taipabalarasa.

Dalam sistem tradisi lisan yang diceritakan turun-temurun, mereka meyakini sebagai keturunan dari perkawinan Raja Bone dengan Putri Raja Tanete. Mereka kemudian hidup memisahkan diri dari kelompok atau suku-suku lainnya.

Sehari-hari, Suku Bentong menggunakan campuran Bahasa Bugis dan Makassar. Mereka bertahan hidup dengan berladang secara berpindah-pindah atau sistem tebang-bakar. Jenis tanaman pangan yang mereka budidayakan adalah padi, ubi kayu, jagung, dan sayur-sayuran.

Tempat tinggal mereka berupa rumah panggung yang cukup sederhana. Ketinggian rumah panggung sekitar satu meter dari permukaan tanah. Dinding menggunakan anyaman bambu, lantai dari kayu bulat atau bambu, dan atap terbuat dari daun nipah.

Rumah dibangun tanpa kamar, hanya memiliki satu pintu, dan biasanya tidak mempunyai jendela. Di rumah itu, bisasanya tersimpan peralatan sehari-hari, seperti piring dari tempurung kelapa, piring keramik, bakul dari anyaman bambu, tempat air dari kulit labu, dan lain-lain.

Teknologi untuk mengolah hasil panen padi masih menggunakan alat tradisional yaitu semacam lesung dan alu. Padi ditumbuk dengan alat itu untuk memisahkan beras dari kulitnya.

Untuk menghadapi bahaya, mereka memiliki sejumlah senjata yang dibuat sendiri dengan menggunakan sistem teknologi yang telah mereka kuasai. Senjata itu antara lain berupa keris, perisai, dan tombak. Senjata berupa tombak biasaya juga dipergunakan untuk berburu ikan.

Selain dengan tombak untuk berburu ikan di sungai, orang Bentong juga memiliki peralatan berupa bubu dari anyaman bambu. Alat itu biasanya dipakai untuk menjebak ikan.

Sedangkan alat musik yang bisanya dimainkan di sela-sela kesibukan sehari-hari adalah berupa semacam kecapi yang terbuat dari kayu. Alat musik lainnya adalah seruling bambu.

Untuk sistem kepercayaan yang dianut Suku Bentong, sangat diwarnai dengan sistem pemujaan terhadap roh nenek moyang dan pemujaan terhadap kekuatan di balik suatu benda. Nasib tidak baik dipercaya sebagai wujud kutukan dari roh leluhur.

Untuk menghindari dari malapetaka dan nasib sial, setiap orang wajib melakukan upacara menghormati arwah leluhur atau biasa disebut juga sebagai Upacara Arajang.  Ritual tersebut sekaligus menjadi semacam doa permohonan keselamatan.

Selain itu, senjata berupa keris, tombak, perisai, dan payung pusaka, dipercaya memiliki kekuatan gaib. Untuk itu, secara rutin diberikan semacam sesaji.

Pada masa tertentu, dilakukan upacara atau ritual khusus untuk menghormati dan membersihkan senjata tersebut. Benda keramat juga selalu dikeluarkan saat ada acara pelantikan pimpinan adat, acara perkawinan, dan peristiwa penting lainnya.

Dalam perkembangannya, Suku Bentong juga mengalami sentuhan budaya dengan kelompok dari luar. Hal ini bisa dilihat dari perubahan sistem kepercayaan mereka. Sebagian telah menganut agama Islam walau adat dan sistem kepercayaan lama belum sepenuhnya ditinggalkan.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber