• News

  • Singkap Budaya

Suku Polahi Punya Tiga Tuhan?

Suku Polahi
RTI.DE
Suku Polahi

JAKARTA, NNC - Nusantara memang sangat unik dalam hal suku dengan budaya dan adat istiadatnya yang beraneka ragam. Berkisah tentang keragaman Nusantara tak ada habisnya, bagaikan cerita yang tidak ada ujungnya.

Keragaman budaya tersebut memiliki daya tarik dan pesona yang tak terhingga. Sebuah kekayaan Nusantara yang tak terbatas nilainya bagi bangsa Indonesia sendiri, bahkan juga dunia.

Apabila ditelusuri ke seluruh pelosok negeri, akan ditemukan begitu banyak keunikan yang belum banyak dieksplorasi. Apalagi jika kita telusuri hingga ke pedalaman Nusantara, di mana di sana masih banyak suku-suku terpencil di Indonesia yang hidup di bawah tatanan hukum tradisional yang masih belum terjamah oleh masyarakat luar.

Mencari benang sejarahnya mungkin bisa dikatakan sulit. Pasalnya, beberapa suku primitif tersebut memang menutup diri rapat-rapat dari jamahan eksternal yang dibaluti modernisasi yang digiring oleh kemajuan teknologi informasi yang semakin memintal dunia.

Salah satu suku yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang banyak di negeri ini, yakni Suku Polahi, salah satu suku di Gorontalo, Sulawesi.
Suku Polahi masih tergolong primitif dengan adat istiadat yang belum terjamah oleh peradaban modern, sehingga boleh dikatakan unik.

Keunikan itu bukan hanya dalam hal melaksanakan hukum adat tradisional, namun suku ini juga masih mempertahankan tradisinya untuk melakukan perkawinan sedarah atau inses (incest). 

Hal ini tentu sangat kontroversial, karena oleh banyak suku di Nusantara perkawinan sedarah adalah tabu. Bahkan semua agama, terutama agama Ibranimic, seperti Yahudi, Kristen, dan Islam, menentangnya.

Penentangan itu lebih karena banyak bukti bahwa anak atau keturunan dari orang tua sedarah, mengalami cacat fisik atau mental. Anehnya, hal itu tidak ditemukan pada keturunan Suku Polahi yang sudah ratusan tahun melaksanakan perkawinan inses.

Masyarakat Suku Polahi mengenal adanya tiga Tuhan. Kok bisa? Keanehan ini sama halnya dengan kita bertanya tentang Suku Polahi yang mempunyai tradisi kawin inses itu sendiri. Lalu, bagaimana dengan tiga Tuhan itu?
 
Tiga Tuhan tersebut adalah Pulohuta, Lati, dan Lausala. Penemuan akan ketiga Tuhan dalam Suku Polahi ini pernah diungkap oleh Marahalim Siagian, antropolog Indonesia yang telah meneliti langsung kelompok kecil orang Polahi yang dipimpin Tahilu di hutan Suaka Margasatwa Nantu.

Siagian menjelaskan bahwa orang Polahi mengenal tiga sosok Tuhan, yaitu Pulohuta, Lati, dan Lausala. Masing-masing memiliki ruang dan kekuasaan tersendiri.

Pulohuta digambarkan sebagai sosok yang hidup dan memiliki kuasa atas tanah. Konsepnya berasal dari nenek moyang. Disebutkan, Pulohuta adalah sepasang suami istri.

Bila orang Polahi hendak membuka hutan, mereka meminta izin dahulu kepada Pulohuta. Membuka hutan untuk ladang tanpa izin Pulohuta dipercaya akan mendatangkan celaka.

Oleh karena itu, dalam ritual membuka hutan, Suku Polahi mengucap mantera sebagai cara untuk meminta izin kepada Pulohuta. Selain memegang kuasa atas tanah, Pulohuta juga disebutkan memegang kuasa atas hewan di hutan.

Bentuk penghormatan orang Polahi kepada Pulohuta, misalnya jika mereka mendapat hewan buruan, bagian tertentu dari tubuh hewan itu, seperti kuping, mulut, dan lidah, dipotong dan diletakkan di tunggul kayu.

Hal itu dilakukan karena orang Polahi secara konseptual mengakui adanya hak Pulohuta pada hewan buruan yang mereka peroleh.

Selain itu, Lati sebagai sosok Tuhan yang kedua ini digambarkan sebagai sosok hidup yang menghuni pohon-pohon besar dan air terjun. Ukuran tubuhnya digambarkan kecil seukuran boneka dan dalam jumlah banyak.

Lati merupakan pemegang kuasa atas pohon. Bila orang Polahi ingin menebang pohon besar atau mengambil madu lebah hutan yang terdapat di atasnya, mereka membakar kemenyan, mengucap mantera dengan tujuan meminta Lati untuk pindah ke pohon lain.

Jika cara ini tidak ditempuh, pohon atau madu di atas pohon tersebut, berdasarkan pengalaman hidup mereka, tidak bisa ditebang atau diperoleh. Namun, pohon tersebut dapat dibakar untuk mengusir Lati, sebab disebutkan bahwa Lati takut pada api.

Terakhir, sosok Tuhan ketiga yaitu Lausala. Dalam narasi Polahi digambarkan bahwa Lausala sebagai tokoh antagonis yang haus minum darah. Sosok Lausala ternyata bukan hanya dideskripsikan sebagai tokoh laki-laki, sebab ada juga perempuan tua yang disebut-sebut sebagai Lausala. 

Orang dari Suku Polahi dapat membuat beberapa gambaran untuk meyakinkan bahwa Lausala itu benar-benar ada. Meskipun mereka sendiri belum pernah secara langsung kontak fisik dengan sosok Lausala ini.

Orang Polahi menjelaskan, Lausala memiliki mata merah, membawa pedang yang menyala, dan dapat berpindah dengan cepat dari bukit ke bukit yang lain. 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber