• News

  • Singkap Budaya

Ketika Musik Campursari Menaklukkan Keangkeran Gua Tabuhan

Sejumlah musisi memainkan musik Campursari di Gua Tabuhan
Pacitanku
Sejumlah musisi memainkan musik Campursari di Gua Tabuhan

PACITAN, NNC - Semua orang Jawa pasti mengenal musik Campursari. Musik ini tergolong dalam genre kontemporer atau alunan musik campuran budaya Jawa dan moderen. Artinya, Campursari adalah hasil modifikasi musik gamelan, seperti gong, kenong, kempul, dan lain-lain, serta dipadu dengan alat musik moderen seperti keyboard.

Musik Campursari mengalami kejayaan di era tahun 2000an dengan seniman penggagasnya yaitu Manthous. Melalui grup Maju Lancar, ia berhasil merevitalisasi musik dan lagu tradisional Jawa seperti “Nyidam Sari”, “Caping Gunung”, “Anting-Anting”, “Kutut Manggung”, dan “Gandrung”.

Kreativitas para seniman Jawa dalam membangkitan kembali budaya tradisional dengan disesuaikan pada kondisi zaman, ternyata tidak hanya dengan menambahkan unsur Barat atau moderen. Di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, budaya tradisional berhasil dikemas dengan memanfaatkan potensi alam yang ada di daerah itu.

Para pegiat seni musik di Pacitan berhasil mengubah batu-batu stalaktit dan stalakmit (batu gua yang menjulur dari atap dan dasar gua) menjadi alat musik layaknya musik gamelan. Warga Pacitan sangat paham bahwa Kota Pacitan yang terkenal dengan banyaknya gua, bisa menjadi perhatian wisatawan jika mampu dikemas dalam budaya Jawa.

Menaklukkan keangkeran
Wilayah Pacitan yang berupa bukit kapur atau karst menyebabkan kota ini memiliki gua alami yang sangat banyak. Jumlahnya mencapai tak kurang dari 105 buah. Itu sebabnya, kota ini sering dijuluki sebagai kota 1001 gua.

Dari sekian banyak gua, ada satu gua yang terkenal sebagai destinasi wisata unik, karena dari dalam gua tersebut selalu mengalun musik Campursari. Gua tersebut bernama Gua Tabuhan. Kata Tabuhan berasal dari kata “tabuh” yang artinya “dipukul”.

Batu stalaktit dan stalakmit yang dipukul para seniman secara ritmis dengan menggunakan palu kayu, menghasilkan bunyi yang bergema dan terdengar enak di telinga. Bunyi inilah yang dianggap sebagai musik semacam gamelan batu gua.   

Dalam tradisi lisan yang beredar, Gua Tabuhan konon ditemukan pertama kali oleh Kyai Santiko. Kala itu, ia sedang mencari sapi peliharaannya. Saat ditemukan, sapi itu ternyata sedang meminum air yang ada di dalam gua.

Gua ini pernah menjadi lokasi pertapaan sejumlah tokoh penting dalam sejarah Jawa, antara lain Sentot Prawirodirdjo (tokoh penting dalam Perang Diponegara, 1825-1830) dan RM Said atau Pangeran Sambernyawa (raja pertama Mangkunegaran).

Dalam mitologi Jawa, seseorang yang ingin memperoleh kesaktian diharuskan mengasingkan diri ke tempat yang sepi, berpuasa, dan bertapa di lokasi yang dipercaya memiliki energi gaib. Tempat itu biasanya dikenal angker dan terdapat beragam roh halus. Maka dipastikan, gua tabuhan juga merupakan lokasi yang wingit atau angker.

Ada banyak kisah mengenai gua sebagai tempat bertapa. Dalam kisah "Babad Tanah Jawa", sebelum mendirikan Kerajaan Mataram, konon Panembahan Senopati juga bertapa di sebuah gua di Pantai Selatan. Ia kemudian berhasil menaklukkan roh halus, penguasa Laut Selatan.

Sementara dalam "Babad Diponegoro", setelah bertapa di Gua Langse, Pantai Parangtritis di Selatan Yogyakarta, Pangeran Diponegoro konon juga ditemui oleh Ratu Kidul, roh halus penguasa Laut Selatan. Roh itu sempat menawarkan bantuan gaib untuk melawan Belanda, namun Pangeran Diponegoro menolak secara halus.

Kembali pada kisah tentang Gua Tabuhan, gua ini memang sempat bertahun-tahun dianggap sebagai tempat yang angker. Namun, sekitar tahun 1936, seorang Wedana Punung bernama Kertodirodjo berhasil membuat gua ini tidak ditakuti.

Ia mengajak sejumlah warga lain memainkan batu-batu stalaktit dan stalakmit menjadi alat musik layaknya gamelan. Sejak itu, keangkeran gua ini seolah sirna dan berubah menjadi objek wisata yang menarik para pengunjung.

Alunan musik batu penghibur wisatawan
Tembang-tembang Jawa dengan model Campursari mengalun dari dalam Gua Tabuhan untuk menghibur para wisatawan yang berkunjung. Beberapa orang bertugas memukul batu gua yang menjulur dan dimainkan laksana gong. Dua hingga tiga sinden bernyanyi dengan sesekali disusul suara senggakan dari para waranggono atau penabuh gamelan batu.

Para penabuh gamelan batu dan sinden ternyata merupakan anak dan cucu yang dahulu dihimpun oleh Wedana Punung. Mereka mewarisi budaya Gua Tabuhan dan tak rela bila seni Gua Tabuhan sirna dan tinggal kenangan.

Dalam tempo sekitar 20-30 menit, beberapa lagu telah selesai dimainkan. Wajah para pengunjung terkesima dengan sensasi gamelan batu yang telah disuguhkan. Mereka kemudian merogoh sejumlah rupiah untuk diberikan kepada para pemain musik dan penyanyi tersebut.

Banyak pengunjung merasa takjub karena tak menyangka bahwa batu-batu Gua Tabuhan bisa menghasilkan musik yang unik dan tak kalah indahnya. Keunikan itu tercipta karena bunyi menyusup ke lorong-lorong gua yang seolah menjadi semacam studio musik.

Para penabuh gamelan batu dan para sinden menyadari bahwa dengan cara seperti itulah, Gua Tabuhan bisa tetap dikenal dan menjadi objek wisata yang memiliki ciri tersendiri. Kualitas bermain musik batu dan mengolah suara harus terus dirawat.

Oleh karena itu, saat tidak ada wisatawan, mereka berlatih untuk terus memodifikasi agar musik dan nyanyian tidak membosankan. Di sisi lain, sejumlah warga juga bertugas mengembangkan keahliannya dengan menjadi pemandu wisata yang ramah dan mengesankan.

Setelah pengunjung diajak menikmati alunan musik gamelan batu, mereka akan dipandu menyusuri gua hingga ke lorong paling ujung. Di lorong paling dalam, terdapat ruangan khusus berukuran sekitar satu meter persegi. Konon dahulu kala, di tempat itulah Sentot Prawirodirdjo bertapa.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber