• News

  • Singkap Budaya

Bukan ‘Kumpul Kebo‘, Ini ‘Kebo-Keboan‘

Ritual Kebo-Keboan.
Banyuwangi Bagus
Ritual Kebo-Keboan.

JAKARTA, NNC - Istilah “kumpul kebo” sudah terlanjur salah kaprah dalam masyarakat. Walaupun secara tata bahasa tidak benar, namun istilah itu masih tetap saja digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Istilah “kumpul kebo” sebetulnya berasal dari kata “koempoel gebouw” yang diplesetkan pada zaman Hindia Belanda dan digunakan untuk menggantikan istilah berbahasa Belanda yaitu samenleven. Gebouw artinya bangunan atau rumah. Jadi, “koempoel gebouw” artinya berkumpul di bawah satu atap rumah.

Dalam bahasa Indonesia yang benar seharusnya “kumpul kerbau”. Namun, bunyi dari istilah itu menjadi sedikit menjauh dari bunyi aslinya. Mungkin karena itu, istilah “kumpul kebo” tetap saja digunakan untuk menunjuk pasangan laki-laki dan perempuan yang hidup serumah, layaknya suami-istri namun tidak berada dalam ikatan pernikahan secara resmi.

Di kota-kota besar, praktik “kumpul kebo” bukanlah hal yang aneh. Mereka biasanya memanfaatkan tempat tinggal seperti apartemen. Mengapa di apartemen? Karena kebanyakan dari mereka merasa privasinya lebih terjamin dan tidak terlalu disorot oleh tatapan khalayak banyak.

Di pedesaan, praktik “kumpul kebo” justru jarang terjadi. Sistem nilai, kesusilaan, adat, dan norma yang berlaku di desa biasanya membuat praktik hidup semacam itu sulit dilakukan.

Memakai kata “kebo” tetapi berbeda konotasi
Hati-hati dengan istilah yang agak mirip, namun berbeda artinya. Sama-sama menggunakan kata “kebo”, namun yang satu ini merupakan budaya lokal yang tidak mengandung konotasi negatif.

Di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat ritual atau tradisi yang menggunakan kata “kebo” yaitu ritual “Kebo-Keboan”.

Ritual “Kebo-Keboan” justru merupakan tradisi luhur di Jawa Timur yang patut dilestarikan. Tradisi ini merupakan ritual menghormati Dewi Sri sebagai lambang kesuburan. Dewi Sri dalam mitologi Jawa, dipercaya sebagai pelindung tanaman padi.

Saat panen tiba atau saat akan memulai tanam padi, masyarakat di Jawa melangsungkan acara doa bersama dan ungkapan rasa syukur. Acara tersebut dimaksudkan juga sebagai ritual permohonan keselamatan (tolak bala), dijauhkan dari kekuatan jahat, dan disucikan kembali.

Ada banyak istilah yang digunakan untuk upacara tersebut. Ada yang menyebut “Bersih Desa” (di daerah Jawa bekas wilayah Mataram atau Mataraman), “Sedekah Bumi” (di daerah non-Mataraman), “Kebo-Keboan”, dan “Seblang” (Suku Using atau penduduk asli di Banyuwangi).

Perempuan jelita sebagai lambang sosok Dewi Sri
Sebelum ritual “Kebo-Keboan” diselenggarakan, para pemuda desa biasanya mengadakan kerja bakti membersihkan lingkungan. Sementara kaum perempuan akan menyiapkan beragam sesaji, seperti sejumlah tumpeng, beras, air kendi, kinang ayu, aneka jenang, inkung ayam, dan lain sebagainya.

Para petani di desa itu juga menyiapkan beragam hasil bumi seperti pisang, tebu, ketela pohon, jagung, bibit padi, dan lain-lain. Semua hasil bumi itu akan ditata sedemikian rupa di sepanjang jalur yang akan dilewati kirab atau arak-arakan ritual. Sementara bibit padi akan digunakan dalam prosesi di lahan persawahan.

Hal terakhir yang disiapkan, sesepuh desa akan memilih seorang perempuan yang akan melambangkan sosok Dewi Sri. Biasanya, gadis yang dipilih adalah salah satu bunga desa yang tercantik.

Sebelum ritual dimulai, perempuan cantik jelita yang dipilih untuk melambangkan sosok Dewi Sri akan didandani dengan riasan khas adat Using. Setelah ritual dibuka dengan sambutan para sesepuh dan doa pembukaan, perempuan itu dipikul oleh delapan orang dengan semacam tandu yang sudah dihias.

Uniknya, delapan orang yang memikul sang Dewi Sri, selalu mengenakan kostum seperti kerbau atau kebo dalam bahasa Jawa. Oleh sebab itu, ritual ini disebut sebagai “Kebo-Keboan” yang artinya meniru seperti kerbau yang sehari-hari sangat membantu pak tani di sawah.

Dengan menggunakan kostum, dirias, dan dibalut lumpur kehitaman, delapan “manusia kerbau” akan memikul Dewi Sri, mengelilingi desa dengan diiringi musik hadrah, jenis alat musik khas masyarakat Banyuwangi. Tak lupa terdapat barisan pembawa sesajen, sesepuh desa, pemain barongan, dan disusul warga desa ikut mengarak.

Dalam ritual ini semua warga desa terlibat dan mengikuti dengan khusyuk. Oleh karena itulah, ritual ini menjadi sangat menarik sekaligus memberikan kesan mistis yang sangat kuat.

Sepanjang acara, sosok Dewi Sri yang diperankan perempuan jelita, menjadi pusat ritual dari mulai awal hingga akhir prosesi. Ini melambangkan bahwa melalui sesaji, mantra, angan, dan dambaan para petani sejak mengolah lahan, menanam padi, tumbuh hingga padi hamil, sampai dengan masa menuai, sangat menghormati Dewi Sri, sang pelindung padi.

Tatapan, lirikan, dan senyuman Sang Dewi kepada petani memiliki artinya masing-masing. Amarah Sang Dewi pertanda malapetaka bagi kaum tani. Malapetaka itu bisa berupa gagal panen, panen tapi padi tidak berisi penuh, hingga adanya serangan hama.

Kegagalan panen yang terjadi artinya petani telah ditinggalkan Dewi Padi. Hal itu disebabkan oleh suatu tindakan, perilaku, dan hal lain yang pernah diperbuat para petani yang membuat Sang Dewi tidak berkenan.

Ritual berlangsung dari pagi hingga siang
Ritual “Kebo-Keboan” biasanya berlangsung dari pagi sekitar pukul 8.00 hingga tengah hari. Seperti telah disinggung di atas, setelah pembukaan seluruh peserta kirab akan mengelilingi desa yang sebenarnya menunjukkan penghormatan kepada semua arah mata angin.

Setelah itu, arak-arakan menuju ke salah satu sumber mata air yang biasanya berupa semacam bendungan. Secara simbolis, bendungan itu akan dibuka agar air mengalir ke  persawahan. Arak-arakan kemudian menuju area persawahan.

Di lahan sawah, para lelaki berkostum kerbau memperagakan layaknya kerbau yang sedang membajak hingga berkubang di lumpur sawah. Sementara itu, sejumlah perempuan akan turun ke sawah untuk menanam padi.

Bersamaan dengan itu, para warga akan turun ke sawah untuk berebut bibit padi. Bibit tersebut dipercaya sebagai bibit unggul dan akan memberikan keberkahan dalam panen di masa mendatang.

Namun, saat warga akan mengambil padi, tiba-tiba para manusia kerbau bertingkah laksana kerbau sedang mengamuk. Mereka mengejar dan menghalangi petani mengambil bibit padi.

Dalam adegan ini, seringkali lelaki berkostum kerbau akan mengalami kesurupan atau trance. Tingkahnya menjadi ganas. Namun, ada sesepuh dan pawang yang bertugas menyadarkan mereka, sehingga aksinya tidak membahayakan para petani.

Setelah semua prosesi selesai, seluruh warga akan berkumpul di pusat desa. Pada bagian ini, biasanya dihadiri tamu undangan. Bersama sesepuh dan seluruh warga desa, mereka akan menyantap makanan berupa tumpeng yang telah disiapkan sebelumnya. Tentu ditutup dengan doa bersama.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro
Sumber : Dari berbagai sumber