• News

  • Singkap Budaya

Pria dan Wanita Jawa yang Ingin Bersetubuh Wajib Memperhatikan Pesan Ini

Ilustrasi pernikahan menurut adat dan budaya Suku Jawa
mahligai-indonesia.com
Ilustrasi pernikahan menurut adat dan budaya Suku Jawa

Yogyakarta, NNC - Semua orang Jawa wajib menghormati pesan leluhur yang biasanya tercermin dalam budaya Jawa. Melalui budaya tersebut, para leluhur mengarahkan agar semua generasi dapat hidup dengan baik dan benar.

Salah satu budaya penting dalam budaya Jawa adalah tentang siapa yang boleh melakukan hubungan badan atau bersetubuh. Dan jawabannya adalah jelas. Mereka yang boleh bersetubuh adalah pasangan lelaki dan perempuan yang telah dinyatakan menikah secara resmi dan sah.

Bercinta atau bersetubuh bagi suami istri adalah sebuah kewajiban. Mengapa? Karena salah satu tugas suci pernikahan adalah untuk mendapatkan keturunan.  Satu-satunya cara yang dibenarkan secara kodrati adalah dengan ritual bersetubuh antara suami dan istri.

Memang, selain untuk mendapatkan keturunan, berhubungan intim juga merupakan bagian mempererat kesatuan dan tali cinta antara suami dan istri. Bahkan, persetubuhan antara suami dan istri adalah bagian dari doa memuliakan Tuhan dalam bingkai mahligai rumah tangga.

Sulit rasanya apabila hubungan cinta antara suami dan istri bisa dipertahankan jika tidak ada lagi rasa saling cinta di antara keduanya. Dan bersetubuh adalah salah satu wujud cinta. Cara bercinta yang hambar antara suami-istri dapat membuat hubungan menjadi kering kerontang dan hampa.

Tujuan persetubuhan antara suami istri untuk mendapatkan keturunan juga dianjurkan oleh semua agama. Persetubuhan bukan dijadikan sekadar mengumbar hawa nafsu. Bahkan, setiap agama juga melarang persetubuhan di luar hubungan suami istri.

Menariknya, larangan persetubuhan bagi orang yang bukan suami dan istri itu bukan saja terdapat dalam ajaran agama-agama. Dalam peradaban kuno juga sudah mengenal larangan tersebut.

Salah satunya adalah ajaran moral yang dikedepankan oleh budaya Jawa. Ajaran kuno masyarakat Jawa tertuang dalam suatu kitab yang biasa disebut Primbon Jawa.

Primbon Jawa bahkan tidak hanya melarang persetubuhan di luar suami dan istri tetapi juga mengatur tentang bagaimana tatacara yang baik bagi suami dan istri saat melakukan persetubuhan.

Dalam hal tertentu, suami istri juga dilarang melakukan hal itu. Berikut adalah daftar larangan bersetubuh bagi suami dan istri seperti dimuat dalam Primbon Jawa. Semua orang Jawa sebaiknya wajib mengetahuinya.

1. Dilarang menggunakan obat-obatan

Menggunakan obat-obatan untuk merangsang persetubuhan menunjukkan sikap hati dan pikiran setiap suami dan istri bahwa seolah bersetubuh hanyalah persoalan nafsu dan kepuasan seksual. Padahal yang utama adalah dilandasi rasa cinta dan kasih sayang.

Dengan menggunakan obat-obatan, misalnya obat kuat, akan dapat memunculkan  angkara murka. Oleh sebab itu, sebaiknya tidak memakai obat kuat. Mengapa?

Penggunaan obat kuat akan memunculkan nafsu-nafsu “liar” untuk selalu bersetubuh dengan cara-cara lain yang tidak lagi dilandasi rasa cinta. Artinya, bisa merusak mental.

Selain itu, menggunakan obat-obatan bisa berdampak mengganggu kesehatan tubuh dan otak. Bagi lelaki, obat-obatan akan mempengaruhi cairan sperma tidak sebagaimana mestinya.

Sementara energi yang dikeluarkan sebenarnya tidak sepadan dengan kekuatan alamiah yang ada dalam dirinya. Bila digunakan, secara perlahan akan mempengaruhi fisik suami dan istri.

2. Dilarang bersetubuh saat kesehatan terganggu

Saat mengalami sakit dan jiwa terganggu, hindari melakukan persetubuhan. Mengapa? Sebab, jika persetubuhan itu mengakibatkan sel sperma membuahi sel teluar, dikawatirkan terjadi tidak sempurna. Akibatnya akan berdampak buruk bagi calon keturunan.

3. Dilarang bersetubuh di siang hari

Saat siang hari, kualitas sel sperma dan sel telur kurang baik. Istilahnya “biji dalam keadaan cair”. Dan waktu yang paling baik melakukan persetubuhan adalah antara pukul 24.00 hingga pukul 02.00 dini hari.

Menurut Primbon Jawa, saat itu, kondisi fisik, hati, dan jiwa pasangan antara suami dan istri sedang berada di puncak ketenangan dan ketenteraman sehingga mempermudah konsentrasi.

Selain itu, rentang waktu itu, kelembaban udara sedang berada pada situasi yang tepat untuk proses pembuahan.

4. Dilarang bersetubuh saat istri sedang haid

Untuk larangan ini, kiranya sudah sangat jelas. Suami dan istri harus berpuasa melakukan persetubuhan saat istri sedang haid atau menstruasi. Saat haid organ persetubuhan kaum perempuan sedang dalam kondisi tidak mendukung.

Bersetubuh saat istri haid dapat menimbulkan penyakit bagi pihak suami maupun istri. Selain itu, pada masa haid, pihak istri tidak akan dapat merasakan kenikmatan.

5. Setelah bersetubuh dilarang langsung mencuci kemaluan

Mencuci kemaluan istri dengan air maupun alat pembersih lainnya dapat menyebabkan tidak terjadinya proses pembuahan. Tunggulah beberapa saat.

Selain itu, membersihkan dengan benda yang tidak bersih bisa memicu kanker dan bila menghasilkan keturunan dengan kemampuan di bawah rata-rata (dungu).

6. Dilarang bersetubuh pada saat malam tanggal satu atau akhir bulan

Suami dan istri dilarang melakukan persetubuhan di tanggal satu atau akhir bulan dalam setiap penanggalan Jawa atau Hijriah. Konon, jika hubungan badan dilakukan bisa menghasilkan anak yang terganggu kejiwaannya.

7. Jangan bersetubuh pada saat akan bepergian atau berada di perantauan

Konon, bila larangan ini dilanggar, bisa menghasilkan anak yang berwatak pemboros. Anak tersebut saat dewasa bisa menghabiskan harta benda orang tuanya.

8. Dilarang bersetubuh di tempat sampah

Tempat sampah penuh kuman penyakit. Bila persetubuhan dilakukan di tempat pembuangan sampah  bisa menghasilkan anak durjana.

9. Dilarang bersetubuh sambil telanjang bulat

Larangan yang satu ini memang rasanganya berbau “usang” dan kurang mengakomodit aspirasi zaman. Namun perlu diketahui, menurut Primbon Jawa, hubungan badan dengan kondisi telanjang bulat dapat menghasilkan anakyang tidak punya rasa malu.

10. Dilarang bersetubuh sambil melihat kemaluan

Larangan ini juga agak melawan “arus”. Namun menurut Primbon Jawa, hubungan badan tersebut bisa menghasilkan anakyang buta mata atau pikirannya (bodoh).

11. Larangan lainnya

Sebenarnya masih banyak larangan bersetubuh yang diatur dalam Primbon Jawa dan patut dicermati oleh semua orang Jawa yang sudah menikah.

Namun bila dicermati, inti yang mau disampaikan adalah “Jangan sampai persetubuhan melupakan hakikat mulia dari tugas umat manusia yaitu menjaga keturunan. Jangan sampai persetubuhan hanya berhenti pada persoalan memuaskan hawa nafsu.”

Beberapa yang bisa ditambahkan di sini seperti diatur dalam Primbon Jawa adalah larangan bersetubuh dengan membelakangi pasangannya karena anak yang dihasilkan bisa bodoh tidak bisa membedakan salah dan benar.

Kemudian larangan bersetubuh dalam posisi miring karena bisa menyebabkan anak yang dihasilkan memiliki sifat jahil dan suka memfitnah. Juga ada larangan bersetubuh dengan posisi berdiri karena bisa menghasilkan anak dengan sifat sombong, pemarah, dan suka mengambil barang orang lain.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?