• News

  • Singkap Budaya

Inilah 8 Tradisi Natal yang Unik dan Hanya Ada di Indonesia

Tradisi Kunci Taon di Manado
faktanews
Tradisi Kunci Taon di Manado

JAKARTA, NNC - Natal merupakan peristiwa yang sangat istimewa bagi seluruh umat Kristiani di dunia. Natal merupakan perayaan hari kelahiran Yesus, Sang Juru Selamat bagi seluruh umat manusia.

Meskipun perayaan itu dilakukan secara serempak di seluruh dunia, tetapi masing-masing suku bangsa di dunia memiliki tradisi yang berbeda-beda.

Keanekaragaman terjadi karena masing-masing suku bangsa dan masing-masing daerah memiliki budaya yang berbeda-beda.

Indonesia memiliki ribuan suku, sehingga perayaan Natal juga berbeda-beda dan masing-masing memiliki keunikan yang begitu warna-warni. Berikut adalah 8 tradisi unik perayaan Natal di Indonesia.

1. Rabo-rabo di Jakarta

Di daerah Kampung Tugu, Semper Barat, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, warga di daerah ini merayakan Natal dengan tradisi Rabo-rabo. Kampung Tugu sendiri merupakan tempat pemukiman warga keturunan Portugis.

Sebelum melakukan Rabo-rabo, mereka akan berziarah ke makam. Rabo-rabo diselenggarakan dengan bermain musik keroncong dan menari bersama sambil keliling kampung untuk mengunjungi sanak saudara.

Uniknya, setiap penghuni rumah yang dikunjungi wajib mengikuti rombongan sampai ke rumah terakhir yang dikunjungi.

Puncak tradisi Rabo-rabo ini adalah melakukan “mandi-mandi”. Warga berkumpul bersama sanak saudaranya, lalu saling mencoret-coret muka satu sama lain dengan bedak putih.

Hal ini menjadi simbol penghapusan kesalahan dan permintaan maaf menjelang tahun baru.

2. Pagelaran Wayang Kulit di Yogyakarta

Perayaan Natal di Yogyakarta sungguh sarat dengan budaya Jawa.

Pada perayaan Natal, tak jarang pastor atau pendeta akan memimpin ibadah dengan menggunakan pakaian adat Yogyakarta yaitu beskap dan blangkon serta menggunakan bahasa Jawa halus.

Ada juga yang menyelenggarakan pertunjukan wayang kulit dengan tema seputar “Kelahiran Yesus Kristus”. Sama seperti Lebaran, pada hari Natal pun ada tradisi silahturahim saling berkunjung ke keluarga dan tetangga.

3. Marbinda di Sumatera Utara

Masyarakat Batak di Sumatra Utara memiliki tradisi Natal yang disebut “Marbinda”.  Dalam tradisi ini, umat yang merayakan Natal akan bersama-sama menyembelih seekor hewan.

Hewan kurban ini merupakan hasil patungan atau tabungan selama beberapa bulan sebelumnya.

Jika jumlah peserta patungan banyak, mereka bisa menyembelih hewan yang cukup besar seperti kerbau atau sapi. Namun, jika jumlah peserta patungan sedikit, biasanya yang disembelih adalah babi.

Daging hewan kurban ini kemudian dibagi-bagikan sama rata kepada peserta patungan. Tradisi Marbinda ini bertujuan untuk mempererat tali silahturahim dan solidaritas di antara warga dan umat beragama.

4. Kunci Taon di Manado

Ternyata Manado yang mayoritasnya masyarakat beragama Nasrani (Kristen Protestan dan Katolik) ini, memiliki tradisi perayaan Natal yang unik. Uniknya, orang Manado sudah merayakan Natal sejak pada tanggal 1 Desember.

Jadi, sejak tanggal 1 Desember, lagu-lagu Natal sudah berkumandang di setiap tempat, mulai dari mall, toko, warung pinggir jalan, bahkan hingga angkot, dan di berbagai tempat umum lainnya.

Selain itu, anak muda sangat antusias dalam melakukan pawai Sinterklas. “So, we will dress up like Santa Claus,” kata anak muda Manado.

Nah, setelah itu, Sinterklas akan datang ke rumah-rumah untuk membagikan nasihat dan hadiah-hadiah ke anak-anak.

Kegiatan ini biasanya dijalankan dari awal Desember hingga awal Januari.

Tradisi Kunci Taon sendiri biasanya diselenggarakan pada hari Minggu di bulan Januari, sekaligus untuk menutup rangakaian perayaan Natal di bulan Desember.

Biasanya akan ada pawai keliling kota dengan kostum yang lucu-lucu seperti santa Claus dalam aneka model.

 5. Ngenjot dan Penjor di Bali

Masyarakat Bali yang merupakan mayoritas beragama Hindu dan Budha, ternyata memiliki tradisi Natal yang sangat unik, yang disebut tradisi Ngejot.

Dalam tradisi ini masyarakat Bali merayakan Natal dengan melakukan masak-memasak khas Bali.

Masakan itu lalu dibagi-bagikan kepada masyarakat yang beragama lain, seperti Hindu, Budha, dan juga saudara-saudara Muslim.

Tradisi Ngejot ini juga biasanya dilakukan saat umat Hindu merayakan Galungan.

Adapun tujuan dari Ngejot dan Galungan adalah satu, yakni ingin membangun toleransi di antara umat yang berbeda agama dan keyakinan di Pulau Dewata ini.

Nah, selain membagikan makanan, Penjor atau hiasan janur juga dipasang saat perayaan Natal tiba. Sehingga, suasana damai dan harmomis terasa sangat kental.

 6. Lovely December di Toraja

Lovely December merupakan acara tahunan yang dibuat sama pemerintah daerah Toraja sebagai Festival Budaya dan Pariwisata.

Festival ini akan dibuka dengan pemotongan kerbau belang pada awal Desember, kemudian dilanjutkan dengan berbagai acara, seperti lomba. Pada 2014 lalu, festival ini mengangkat  tema “I Love Bamboo.”

Dengan demikian, lombanya terdiri dari rakit tradisional, lomba tangkap ikan, dan lomba permainan rakyat. Tidak hanya lomba, festival ini juga ada pameran kuliner, kerajinan daerah, dan bamboo.

Kemudian, festival ini akan ditutup dengan prosesi Lettoan, yaitu mengarak babi sebagai simbol tiga dimensi kehidupan manusia.

7. Bakar Batu di Papua

Di Papua, setelah merayakan ibadat Natal atau Perayaan Ekaristi Natal, maka warga akan melakukan tradisi barapen atau bakar batu, yaitu suatu ritual memasak sayuran dan daging babi untuk kemudian disantap bersama.

Disebut bakar batu karena mereka memasak dengan menggunakan batu yang dibakar dengan kayu.

Di Papua, mereka tidak menggunakan korek api untuk menyalakan api. Api dinyalakan dengan cara menggesekkan kayu terus-menerus sehingga menghasilkan panas.

Para ibu akan menyiapkan daun-daunan, seperti petatas, kangkung, pakis, singkong, bayam, dan pepaya. Sementara bapak-bapaknya akan membuat lubang untuk memasukkan batu panas yang membara.

Daging babi dan dedaunan akan dimasukkan ke dalam lubang tersebut, lalu kembali ditutup dengan batu panas. Susunan ini dibuat hingga tiga tingkat. Untuk memasak daging babi hingga matang, dibutuhkan waktu sekitar setengah hari.

Tradisi bakar batu ini menjadi ungkapan syukur, membangun kebersamaan, menjalin rasa saling berbagi, dan mengasihi yang ditandai dengan makan daging babi bersama-sama.

Selain di hari Natal, bakar batu juga diadakan pada perayaan-perayaan besar lainnya.

8. Membunyikan Meriam Bambu di Flores

Di bulan Desember, ada tradisi membangun kandang Natal di setiap komunitas basis di Flores. Kandang natal tersebut nantinya akan dinilai oleh tim pastoral.

Selain membuat kandang Natal, tradisi Natal lainnya di Flores adalah membunyikan meriam bambu.

Jika Anda berkunjung ke Flores di bulan Desember, bersiaplah untuk mendengar suara dentuman-dentuman di mana-mana.

Abu dapur dan minyak tanah dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dipahat rapi, lalu nyala api dimasukkan ke dalam lubang kecil pada bambu. Dan suara dentuman meriam bambu pun akan terdengar keras.

Tradisi meriam bambu ini terjadi secara merata di Pulau Flores, mulai dari Flores Timur hingga Flores Barat.

Berdasarkan budaya Flores, terutama di Manggarai, Flores Barat, meriam bambu sebenarnya menandakan bahwa ada orang yang meninggal dunia.

Karena jarak antar kampung cukup jauh dan medannya berat, maka warga menggunakan meriam bambu untuk mengabarkan bila ada tokoh masyarakat yang meninggal.

Belakangan, selain bila ada tokoh masyarakat yang meninggal, meriam bambu juga dibunyikan pada masa Adven, Natal, dan Tahun Baru. Tradisi meriam bambu ini menjadi ungkapan kegembiraan atas kelahiran Yesus Kristus.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?