• News

  • Singkap Budaya

Kisah Batu Cinta di Titik Nol, Simbol Teguh-Kukuh Cinta Suami-Istri

Batu Termanu di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur
harianpost.co
Batu Termanu di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur

KUPANG, NNC - Masing-masing daerah dan masing-masing  suku di Nusantara memiliki budaya tutur atau budaya lisan. Kisah itu biasanya diwariskan secara secara turun-temurun.

Tak jarang, kisah para leluhur dikemas dalam bentuk legenda. Di dalamnya sarat dengan simbol dan pesan tentang nilai-nilai dan kearifan yang wajib diperhatikan setiap generasi.

Namun, jika kita melihat kisah itu hanya mengandalkan pada rasionalitas dan harfiahnya saja, bisa jadi kita tidak akan menangkap pesan apa-apa.

Kisah legenda yang diwariskan para leluhur harus dibaca dengan mata hati. Barulah kita akan tahu bahwa cerita legenda itu sengaja dikemas dengan cara yang menarik dan memiliki tujuan tertentu.

Salah satu kisah legenda unik dan menarik itu adalah legenda tentang sepasang batu cinta yang melambangkan cinta kasih sepasang lelaki dan perempuan di Pulau Rote, tepatnya adalah di Tanjung Pole, Desa Dodaek, Kecamatan Rote Selatan, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Daerah ini biasa disebut juga sebagai daerah Titik Nol wilayah bagian Selatan Indonesia. Di sinilah terdapat sepasang “batu cinta” dan biasa disebut  Batu Termanu. Batu tersebut selalu setia laksana cinta suami-istri yang teguh dan kukuh walau selalu diterjang ombak.

Layaknya sepasang suami istri, Batu Termanu juga terdiri dari dua buah batu. Batu pertama bernama “Suelai” yang berkelamin perempuan dan batu kedua bernama “Hun” yang berkelamin laki-laki.

Batu Hun terletak sekitar 300 meter dari bibir pantai. Sedangkan Suelai berada tepat di pesisir pantai. Kedua batu ini sebenarnya sangat tinggi. Maka  bila Anda berlayar dari arah Pulau Timor, batu ini sebenarnya sudah terlihat dari jarak 30 mil.

Batu Termanu memiliki asal usul. Konon, dahulu kala, kedua batu itu terapung-apung dan berkelana ke sana kemari untuk mencari tempat yang cocok. Mereka mengarungi berbagai pulau dan lautan. Tak peduli hujan dan badai. Batu itu terus saja mencari tempat yang menurutnya teduh.

Pulau Ambon mereka lewati. Pulau Sabu, Pulau Alor, juga dilewati. Tempat yang dikehendaki belum juga ditemukan. Dan akhirnya, saat melewati Pulau Rote, masyarakat suku Rote berhasil menghentikannya.

Saat berhenti di Pulau Rote, kedua batu itu merasa cocok. Batu itu menemukan yang mereka cari. Sejak itu, sepasang batu itu menetap di Pulau Rote hingga kini.

Apa artinya? Legenda Batu Termanu ingin menggambarkan bagaimana perjuangan sepasang suami istri mencari arah dan tujuan hidup dengan penuh kesetiaan dan kebersamaan. Tak peduli panas, hujan dan segala rintangan.

Dan ketika apa yang ingin dituju sudah ditemukan, mereka akan menjalani hidup bersama dengan pujaan hati sampai waktu yang tak dibatasi, kecuali oleh mati.

Oleh karena itu, dalam sistem kepercayaan masyarakat Suku Rote,  Batu Termanu dianggap sebagai batu keramat. Tempat ini dipercaya sangat baik bagi pasangan muda mudi.

Mereka yang berkenan berwisata mengunjungi tempat itu, diyakini  akan menguatkan cinta, sehingga diharapkan bisa langgeng-bahagia sampai akhir hayat.

Selain itu, masyarakat Rote di Nusak Termanu khususnya, juga sering menyelenggarakan upacara adat di tempat ini. Upacara dipimpin oleh Mane Leo (tokoh adat/kepala suku).

Kepala suku ini merupakan bagian dari rumpun keluarga “Suelai Batuhun”. Upacara adat ini dimaksudkan untuk memohon turunnya hujan.

Kesakralan Batu Termanu juga tergambar dalam kisah warga yang berulang kali pada malam hari melihat lidah api di puncak Batu Hun. Padahal, batu itu tinggi menjulang, lincin, curam, dan tidak mungkin didaki. Namun begitulah kepercayaan warga.

Selain legendanya yang unik, di lokasi Batu Termanu, ternyata juga menyajikan panorama alam yang sungguh cantik dan eksotik. Keindahan Batu Termanu yang kokoh terlihat seolah menyambut ramah siapapun yang berkunjung ke tempat itu.

Guratan-guratan batuan bumi akibat abrasi air laut tampak begitu jelas di sana-sini. Guratan di bagian tepi Batu Termanu atau “batu cinta” ini juga terlihat unik. Sementara itu, tampak juga dua buah batu yang berdiri kokoh, seakan menantang keangkuhan Samudera Indonesia.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?