• News

  • Singkap Budaya

Kampung Kumuh di Bantaran Kali Ini Disulap sehingga Mengundang Decak Kagum Wisatawan

Kampung Jodipan di Malang, Jawa Timur
dakatour
Kampung Jodipan di Malang, Jawa Timur

MALANG, NNC - Setiap desa di mana pun di negeri ini, memiliki keunikannya masing-masing. Bila hanya dilihat sambil lalu, mungkin terlihat hampir sama antara desa yang satu dengan desa lainnya. Tetapi apabila dikerling secara saksama, pasti ada keunikan dan perbedaannya.

Karena keunikan-keunikan itu desa tertentu akan memiliki daya tarik tersendiri. Sebagian desa bahkan menjadi sangat terkenal berkat keunikannya.

Salah satunya adalah Desa Jodipan, yaitu sebuah desa di pinggir Sungai Brantas, Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Desa Jodipan terkenal karena warna-warninya yang indah dan sangat menyolok.

Pada tataran dunia, mungkin Anda  pernah mendengar tentang kawasan Santorini yang sangat melegenda. Kawasan tersebut dikenal sebagai sebuah kawasan yang penuh  warna dan biasa disebut sebagai negeri para dewa-dewi, Yunani.

Mungkin terlalu muluk bila Desa Jodipan disamakan dengan kawasan Santorini namun konsep desa ini bisa dibilang menyerupai kawasan itu dan telah menambang daya tarik wisata di Kota Malang. Lalu bagaimana asal mula Desa Jodipan yang penuh warna itu?

Desa Jodipan atau desa warna-warni ini dahulu merupakan “permukiman kumuh” yang kemudian berhasil disulap menjadi desa yang indah dan banyak dikunjungi wisatawan. Tiap akhir pekan, jumlah pengunjung yang datang mencapai ratusan orang.

Para pengunjung akan berkeliling memasuki gang-gang sempit di dalam kampung yang berada di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Sementara warga di lokasi itu akan tetap beraktifitas seperti biasa. Sesekali para wisatawan mengambil foto suasana kampung ataupun selfie.

Sementara wisatawan lainnya, selain menelusuri permukiman, biasanya akan berfoto di atas jembatan dengan latar belakang desa atau perkampungan  Jodipan.

Banyak pengunjung mengagumi keindahan rumah yang dicat berwarna-warni. “Indah dan rapi, tak menyangka rumah ini ada di tepi sungai dan sangat menarik,” kata seorang Pengunjung dari Pasuruan kepada sebuah media di Malang.

Warga Desa Jodipan sendiri tidak menyangka bahwa kampung halamanya ternyata bisa disulap disulap menjadi obyek wisata alternatif. Lebih aneh lagi, para pengunjung itu bukan hanya berasal dari daerah sekitar Malang dan Jawa Timur, tetapi ada juga yang berasal dari mancanegara.

Desa warna-warni memiliki satu RW (Rukun Warga) dan tiga RT (Rukun Tetangga), yakni RT 06, 07, dan 09, dan RW 02. Pada mulanya terdiri dari 107 rumah yang dicat dengan 17 warna.

Rumah-rumah itu dilukis oleh Komunitas Mural sebagai kreatornya, yang terdiri dari delapan mahasiswa Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Komunitas mural melibatkan para seniman lukis dan 30 tukang cat. Warga setempat juga ikut berpartisipasi. Hal itu dilakukan dengan tujuan utama adalah untuk mengubah wajah kampung kumuh Jodipan menjadi sebuah perkampungan yang menarik dan unik.

Dalam perkembangannya, tak disangka Desa Jodipan berkembang menjadi sebuah obyek wisata alternatif di Malang.

Kreasi itu ternyata berawal dari tugas praktikum mata kuliah Public Relation dan Event Management. "Meski praktikum, kliennya harus nyata," terang Nabila Firdausiyah, Ketua Pelaksanaan kegiatan kepada wartawan beberapa waktu lalutembok. Nabila dan tujuh temannya adalah adalah mahasiswa semester enam.

Nabila menceritakan embrio klien yang dibidiknya adalah perusahaan cat “Indana Paint”. Sebelum mengajukan proposal, Nabila dan teman-temannya melakukan riset terlebih dahulu demi kelancaran kerja dan tercapainya sasaran yang dituju.

"Sempat juga ditanya proposalnya," ungkap Nabila, mahasiswa asal Probolinggo ini. Setelah bertemu dengan manajemen pabrik cat ini, ternyata mereka memiliki CSR yang biasanya diaplikasi dalam kegiatan pengecatan, misalkan di sekolah-sekolah.

Untuk mencari objeknya, tim kemudian jalan-jalan ke sejumlah kawasan. Akhirnya, Jodipanlah yang disepakati untuk menjadi sasaran sesuai dengan ide mereka. Mereka kemudian menemui Ketua RW 02, Pairin yang kemudian menyambut ide tersebut.

"Pak RW senang karena ada perbaikan kampung," tutur Dinni, salah satu rekan Nabila.

Kawasan di bantaran Sungai Brantas itu sempat disebut sebagai salah satu kampung kumuh di Malang. Citra sebagai kawasan kumuh itu mungkin terjadi karena cara hidup masyarakatnya yang saat itu masih agak primitif.

Dahulu, warga membuang hajat dan sampah ke sungai, karena tidak ada wc dan tempat pembuangan sampah. Namun kebiasaan itu kemudian diubah.

Dengan mengusung konsep "Decofresh Warnai Jodipan", menyebabkan warna-warni atap rumah dan tembok-tembok Desa Jodipan berbeda jauh dengan desa lain di sekitarnya. Apalagi lokasinya unik yaitu  di bantaran sungai.

Rumah-rumah berdiri sesuai kontur tanah sehingga seperti bersusun. Hal ini menjadi data tarik karena view-nya bisa dinikmati masyarakat yang melewati jembatan Buk Glodok.

Banyak wisatawan lokal dan asing kemudian berdatangan. Mereka masuk ke kampung itu untuk mencari spot selfie.

Proyek Nabila dan teman-temannya berhasil dengan sangat memuaskan. Pemerintah daerah Kota Malang juga mengapreasiasi karya mereka. Sementara masyarakat sekitarnya terpesona dengan hasil sulapan kawasan, dari kawasan kumuh menjadi kawasan yang sangat indah itu.

Pada 4 September 2016, Kampung Wisata Jodipan diresmikan langsung oleh Walikota Malang, H. Mochamad Anton dan didampingi Forkopimda Kota Malang, Ketua TP PKK Kota Malang, serta Sekretaris Daerah Kota Malang.

Selain itu hadir juga Vice President PT  Indana Paint, Steven A Sugiharto serta GuysPro, selaku pencetus kampung warna-warni.

Itulah kisah unik tentang lahirnya Desa Kodipan di Malang, Jawa Timur. Perkampungan kumuh berhasil disulap menjadi sebuah perkampungan yang unik, menarik, elegan, dan patut menjadi contoh untuk kawasan kumuh lainnya, terutama yang berada di bantaran kali.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?