• News

  • Singkap Budaya

Anda Ingin Menikah dengan Gadis Aceh, Inilah Syaratnya!

Duta wisata dari Aceh sedang berpose
klikkabar.com
Duta wisata dari Aceh sedang berpose

BANDA ACEH, NNC - Tidak salah bila Anda ingin menikah dengan gadis berdarah Aceh. Suku Aceh memiliki budaya luhur sehingga mempengaruhi kepribadian setiap wanita dalam suku tersebut.

Oleh karena itu, tidak salah bila ada yang berpendapat bahwa lelaki yang memiliki istri dari suku Aceh, ibaratnya seperti memiliki surga. Dan Anda yang ingin menikah dengan gadis Aceh, sebaiknya mengetahui mengapa ada pendapat seperti itu.

Laksana Bidadari Turun dari Khayangan

Semua perempuan Aceh itu cantik. Mereka bagaikan bidadari yang turun dari khayangan. Perempuan Aceh memiliki tipikal berkulit kuning langsat, bersih, dengan hidung agak mancung.

Bila ditelusuri asal-usul nenek moyangnya, bisa jadi mereka juga memiliki darah campuran dengan berbagai suku bangsa di dunia. Sebab, sejak dahulu Aceh  disinggahi para pendatang dari berbagai daerah yang kemudian menikah dan beranak-pinak dengan warga setempat.

Bangsa-bangsa yang pernah datang, berinteraksi, dan melakukan asimilasi dengan penduduk Aceh antara lain dari bangsa Eropa, Gujarat, dan China. Hal ini menyebabkan sebagian wanita Aceh memiliki mata berwarna biru.

Solehah

Cantik penting, tapi yang tak kalah penting dan menjadi keistimewaan dari gadis Aceh adalah bagaimana sikapnya terhadap agama yang dianut. Aceh, seperti diketahui bersama adalah daerah yang kental sekali dengan Islam.

Semua panorama lingkungannya sangat Islami dan diatur berdasarkan hukum Islam. Sehingga, rata-rata perempuan Aceh itu sangat taat terhadap agamanya.

Ini tentu jadi aspek yang sangat penting bagi para pria yang mencari jodoh. Perempuan yang taat kepada agamanya, selalu akan bisa membahagiakan.

Mereka tahu hukum dan cara berbakti kepada suaminya. Mereka juga pasti mengerti cara membekali anak-anaknya dengan pendidikan agama. Itulah modal utama seorang istri sekaligus ibu bagi anak-anak.

Baik dan Sopan

Tak hanya cantik dan kuat agamanya, sikap dan perilaku juga jadi poin plus seorang perempuan Aceh. Sejak kecil mereka selalu diajarkan untuk bisa menghormati dirinya sendiri dengan tidak melakukan hal-hal di luar batas.

Soal pendidikan sikap, orang-orang Aceh memang terkenal cukup keras. Tapi, hal ini akhirnya membentuk karakter yang baik. Apalagi perempuan Aceh terkenal sangat terbuka. Karena itu mereka tidak sulit dalam membangun mahligai rumah tangga.

Berdarah Pejuang

Selain kelebihan-kelebihan di atas, gadis atau perempuan Aceh memiliki naluri seorang pejuang yang gigih. Sejarah mengisahkan banyak pahlawan nasional perempuan dari Tanah Rencong ini. Cut Nya Dien, Cut Mutiah, dan lain-lain, sekadar contoh.

Naluri pejuang inilah yang menjadi modal dalam membangun keluarga, terutama di saat-saat sulit. Karena naluri pejuang identik juga dengan keuletan dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian dan tantangan hidup.

Jarang terdengar seorang istri suku Aceh meninggalkan anak dan suami hanya tidak sanggup hidup dalam keterbatasan. Dalam prinsip hidup perempuan Aceh, miskin bukan berarti harus terhina.

Makanya perempuan di Aceh juga sangat mengerti cara menjaga kehormatan tidak hanya kerhormatan diri tapi juga keluarga. Kesetiaan juga menjadi sifat asli perempuan Aceh.

Syarat Meminang Gadis Aceh

Bukankah suatu yang berkualitas dan bernilai tinggi selalu mahal harganya? Maka, untuk mempersunting gadis Aceh tentu tidak mudah. Maharnya sangat tinggi apabila dibandingkan dengan mahar para gadis dari suku-suku lain di negeri ini.

Di Aceh, biasanya mahar yang diberikan dalam bentuk emas. Hitungannya pun bukan dalam bentuk gram melainkan mayam.

Satu mayam senilai dengan 3,3 gram. Pernah satu mayam menyentuh harga 1,8 juta rupiah, tetapi rata-rata,  harga emas satu mayam berkisar antara 1,6 hingga 1,7 juta rupiah.

Nah, kisaran mahar di Aceh dimulai dari tiga hingga 25 mayam. Bahkan bisa di atas angka tersebut, tergantung siapa gadis yang hendak dilamar.

Kalau menikahi seorang gadis dengan mahar 10 mayam maka setidaknya uang yang harus disiapkan sebesar 16 hingga 18 juta rupiah. Itu baru mahar, ya!

Bayangkan saja jika yang dinikahi itu maharnya 20 atau 30 mayam. Untuk mahar saja bisa menghabiskan biaya 30 hingga 40 juta rupiah.

Biasanya penentuan mahar sangat tergantung dari asal gadis tersebut. Beda daerah beda pula adat dan budayanya.

Adat di Aceh Besar tentu berbeda dengan di Aceh Utara. Aceh Barat juga punya budaya yang berbeda dengan Aceh Tengah.

Di  Aceh ada 23 Kabupaten kota yang masing-masing memiliki adat yang masih dijunjung tinggi. Terkadang, tingkat pendidikan dan pekerjaan si gadis, serta tingkat ekonomi keluarga kerap menjadi indikator dalam penentuan besaran mahar.

Sebelum menikah, sebagian keluarga ada yang menggelar acara tunangan. Jika dilaksanakan prosesi ini, maka calon mempelai laki-laki juga turut menyerahkan sebuah cincin emas sebagai ikatan.

Selain cincin juga turut dibawa seserahan seperti bahan pakaian dan makanan. Namun jumlah seserahan ini biasanya hanya simbolis dengan jumlah yang terbatas. Cincin emas sudah dihitung sebagai bagian dari mahar.

Selain biaya untuk membeli cincin tunangan dan mahar, masih ada biaya lain yang harus dipersiapkan.

Beberapa daerah di Aceh ada yang memberlakukan adat yang disebut “uang hangus” dan “isi kamar”. Ini artinya si calon suami menyerahkan sejumlah uang “bantuan” untuk resepsi di tempat calon istri termasuk perabotan rumah tanggu, khususnya untuk kamar tidur.

Ketika acara antat linto, atau mengantar mempelai laki laki ke rumah dara baro (mempelai wanita), maka linto harus membawa seserahan.

Seserahan ini terdiri dari bahan pakaian seperti kain renda (brokat), batik dan songket. Bahan pakaian juga sering digabung dengan tas dan sepatu. Biasanya dipadankan dengan warna yang sama. 

Perlu dicatat tentang penggunaan mahar ini. Prinsipnya, mahar adalah sepenuhnya milik istri. Suami tidak boleh mengganggu gugat. Namun hebatnya perempuan Aceh, dalam kondisi suami sedang sulit, dia rela menjual emas tersebut untuk membantu meringankan beban suaminya.

Makanya tidak jarang ada yang menjual maharnya untuk membantu modal bisnis suami. Ada pula untuk membeli tanah atau membangun rumah. Tapi yang jelas mahar tidak diberikan jika suami berencana menikah lagi 

Karena itu, perlu dicatat bahwa meski maharnya tinggi, tetapi kesetiaan, kekuatan, dan kehormatan perempuan Aceh tatkala menjadi istri sang pendamping suami, tentu akan jauh lebih mahal bukan?

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber