• News

  • Singkap Budaya

Belum Ada Youtube, Inilah Tontonan Digital Orang Jawa Tempo Dulu

Pertunjukan wayang beber
waybemetro
Pertunjukan wayang beber

JAKARTA, NNC - Alat musik mulai mengalun mengiringi Sang Dalang berkisah tentang isi gulungan bergambar yang ia mainkan. Para penonton pun merapat dan memusatkan perhatian ke arah panggung.

Pertunjukan wayang beber pada Senin malam (11/3/2019) digelar di Lobby Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM),  Cikini Raya 73, Jakarta Pusat. Kali ini Sang Dalang memainkan lakon berjudul "Meraba-raba".

Pertunjukkan tersebut merupakan salah satu rangkaian acara bertema “Di Balik Setiap Pintu” yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Kedutaan Besar Hongaria. Acara berlangsung mulai 11-17 Maret 2019.

Pertunjukan wayang beber adalah tontonan kuno yang dahulu pernah digandrungi orang-orang Jawa. Namun seiring berkembangnya beragam jenis pertunjukkan, wayang beber seolah tenggelam di tengah hingar-bingar zaman digital.

Padahal, di zaman kejayaannya, wayang beber menjadi tontonan idola dari mulai anak kecil, dewasa, hingga orang tua. Namun kini, anak-anak sepertinya lebih menggandrungi sajian-sajian youtube.  

Budayawan Taufik Rahzen dalam sambutannya di Bentara Budaya Pacitan beberapa waktu lalu mengatakan “Pada zaman dulu, wayang beber yang Anda lihat, setara dengan tontonan digital (zaman sekarang).”

Rasanya memang tepat pernyataan tersebut. Pada abad ke-9 hingga abad ke-17, wayang beber pernah populer di masa kerajaan Hindu-Budha hingga era Islam.

Jejak wayang beber dapat dilihat dari ukiran-ukiran pada dinding relief candi-candi yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam Serat Sastramiruda ada tertulis sengkalan gambaring wayang wolu, yang berarti 861 Saka atau 939 Masehi.

Pada masa Kerajaan Panjalu dan Jenggala sekitar abad ke-13, wayang beber telah sempurna dan mendekati sama seeperti model pertunjukan saat ini. Hanya saja, pada masa itu, gambar dituliskan pada daun siwalan atau daun lontar.

Di era kekuasaan Prabu Suryahamiluhur sebagai Raja Jenggala, ia pernah membangun keraton baru di wilayah Pajajaran, Jawa Barat. Perpindahan ini ikut membawa seni wayang beber ikut tersebar di wilayah Jawa Barat, melalui media kertas yang terbuat dari kulit kayu.

Dan dimulailah babak baru. Wayang beber menggunakan media kertas dan menggantikan daun lontar. Tentu, jenis kertas saat itu belum seperti kertas di era modern. Kertas kuno itu masih berwarna kekuningan yang biasa disebut dlancang gedog.

Wayang beber terus bertahan menjadi pertunjukkan populer hingga masa Kerajaan Majapahit berjaya. Sekitar tahun 1316 Masehi, wayang beber sudah menggunakan kertas wayang yang ujung pinggirnya diberikan tongkat kayu panjang sebagai penggulung.

Saat dimainkan, gulungan kertas dibuka dan tongkat kayu dipegang dengan tangan sementara sang dalang bercerita tentang isi gambar. Di masa inilah kemungkinan muncul istilah “wayang beber” yaitu menggelar gambar pada gulungan kertas dan Sang Dalang membeberkan isi gambar dengan diiringi musik.

Mendekati masa akhir Kerajaan Majapahit, yaitu pada masa Raja Brawijaya V, sekitar 1378 Masehi memerintahkan anaknya yang ke tujuh, yaitu Raden Sungging Prabangkara agar berguru dan menguasai seni wayang. Sang Raja juga memberikan mandat agar putranya mengembangkan model yang baru.

Maka lahirlah wayang beber dengan beberapa macam warna gambar. Bila sebelumnya hanya berwarna hitam-putih, gambar dalam gulungan kertas kemudian berubah menjadi berwarna.

Warna mengandung arti tertentu untuk membedakan tokoh-tokoh yang diceritakan. Warna tokoh bangsawan (raja-raja) akan berbeda warnanya dengan para tokoh yang berasal dari punggawa dan rakyat jelata.

Di era ini, lahir juga tiga cerita wayang beber yang biasanya dimainkan sebagai lakon cerita. Ketiganya berisi cerita tentang “Panji di Jenggala”, “Jaka Karebet di Majapahit”, dan  kisah tentang ”Damarwulan”.

Kemudian majapahit tenggelam dan lahirlah era peradaban Islam di Jawa dengan ditandai berdirinya Kerajaan Demak. Sejak sekitar tahun 1518 Masehi, kehidupan masyarakat Jawa berubah coraknya menjadi Islam. Maka, seni pun mengalami perubahan.

Di masa ini wayang beber tidak diberangus karena keberadaannya dianggap penting sebagai media syiar Islam. Namun, karena dalam ajaran Islam ada hal-hal tertentu yang bertentangan dengan gambar-gambar pada wayang beber, maka dibuatlah modifikasi bentuk wayang tersebut.

Para wali penyebar agama Islam juga mengembangkan cerita panji yang sebelumnya murni Hindu-Budha, kemudian ditambahkan unsur Islami. Lahirlah model wayang  baru yang bernama wayang gedog.

Bentuk wayang yang semula realistis berubah menjadi simbolik. Gambar anatomi tubuh dan wajah wayang tidak lagi sama seperti anatomi tubuh manusia asli atau sewajarnya. Model inilah yang kemudian menjadi prototype pewayangan hingga sekarang.

Di masa Kerajaan Mataram hingga Mataram ditakhlukkan Belanda sekitar abad ke-17 hingga abad ke-18, wayang beber tetap masih digemari rakyat Jawa. Di masa ini, lahir kisah wayang beber baru antara lain lakon "Joko Kembang Kuning" dan "Remeng Mangunjaya".

Tak ingin wayang beber hanya tinggal menjadi kenangan, di era modern yang serba digital ini, muncul banyak komunitas pegiat seni daerah menggeliat dan berusaha memajukan wayang beber agar mampu menghadapi tantangan zaman.

Wayang beber alternatif dan kontemporer pun lahir dengan menawarkan perspektif baru, baik dalam hal visualnya maupun dalam bentuk pertunjukannya.

Instrumen musik yang mulanya hanya gong, kenong, gendang, dan rebab,yang berlaras pelog dan slendro, kini ditambah instrumen modern seperti keyboard lengkap dengan beberapa penyanyi sebagai sinden dan penyanyi latar.

Di Pacitan, di Wonosari Gung Kidul, bahkan di Jakarta, mulai lahir generasi-generasi baru pegiat seni pertunjukan wayang beber modern. Mereka inilah generasi penyelamat dan penerus warisan luhur para leluhur bangsa Indonesia dari tantangan zaman digital.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber