• News

  • Singkap Budaya

Ternyata, Kembang dan Bakar Kemenyan Bukan untuk Mengusir Hantu

Kembang setaman dalam tradisi Jawa
budayajawa.id
Kembang setaman dalam tradisi Jawa

YOGYAKARTA, NETRALNEWS - Anda yang berasal dari suku Jawa, pasti tidak asing dengan “kembang” dan “kemenyan”. Dalam ritual dan tradisi Jawa, dua benda tersebut banyak dijumpai, terutama dalam acara perayaan atau ritual adat perkawinan, kelahiran, kirim doa di makam, dan lain-lain.

Seringkali orang salah mengira dan menganggap kembang dan kemenyan itu identik dengan upacara menyembah roh atau sebaliknya, untuk mengusir roh halus. Padahal, para leluhur Jawa, menggunakan kembang dan kemenyan ada maksudnya.

Kembang dan kemenyan adalah simbol para leluhur Jawa untuk menyampaikan suatu pesan. Disarikan berdasar kajian Sri Wintala Achmad, dalam Asal-Usul Orang Jawa dan Sejarah Orang Jawa (2017: 160-162), kembang dan kemenyan merupakan sarana utama orang Jawa berdoa.

Pendapat serupa juga diungkap oleh Capt RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa (2009). Kembang dan kemenyan digunakan sebagai media orang Jawa dalam menjalankan ritual memohon keselamatan.

Kemenyan dan kembang biasa disebut juga ubarampe. Dahulu, orang Jawa selalu menggunakannya dalam acara semacam kenduri, selamatan desa, selamatan keluarga, dan lain-lain. Namun seiring perkembangan zaman, ubarampe ini kadang tidak digunakan lagi.

Filosofi kembang

Kembang yang digunakan untuk ritual ada beberapa jenias, antara lain: kembang setaman, kembang telon, kembang boreh, dan kembang tujuh rupa. Masing-masing memilki filosofinya masing-masing.

Kembang setaman biasanya digunakan untuk kegiatan ritus dan spiritual yang terdiri dari bunga mawar merah, mawar putih, bunga melati, bunga kanthil, dan bunga kenanga.

Bunga mawar mengandung arti mawi arsa yang arinya manusia harus berkehendak untuk menghayati nilai-nilai yang luhur. Sementara kata mawar mengandung arti awar-awar atau ben tawar, yaitu menjalani sesuatu harus tulus (tawar) atau tanpa pamrih.

Mawar merah bagi orang Jawa mengandung arti rahim ibu atau menandakan proses kelahiran manusia. Saat lahir, darah tertumpah di bumi pertiwi.

Sedangkan mawar putih melambangkan sosok ayah yang mencurahkan benih ke rahim ibu. Ketika benih ayah bercampur dengan benih ibu (sel telur) maka proses penciptaan manusia terjadi.

Kembang melati memiliki makna keploke lathi lan ati. Artinya, agar diingat bahwa apa yang terucap oleh mulut, hendaklah selaras dengan apa yang ada di hati.

Berikutnya adalah kembang kanthil. Maknanya adalah kanthi laku tansah kumanthil. Artinya, hanya dengan usaha, segalanya baru bisa diraih.

Sedangkan bunga kenanga bermakna kenanga atau capailah ajaran-ajaran luhur dari para leluhur yang telah hidup di masa silam. Dari mereka, kita bisa belajar dan mendapat hikmah kehidupan.

Untuk kembang telon biasanya terdiri dari tiga macam bunga yaitu mawar putih, merah, dan kanthil. Bisa juga diganti bunga mawar, melati, dan kenanga atau mawar, melati, dan kanthil.

Kembang boreh atau putihan juga terdiri dari tiga macam bunga. Biasanya menggunakan jenis bunga kanthil, melati, mawar putih, dan ditambah boreh dlingo dan bengle. Bunga boreh memiliki filosofi agar segala sesuatu didasari oleh niat suci.

Berikutnya adalah kembang tujuh rupa, yaitu perpaduan tujuh jenis bunga. Perpaduan itu melambangkan agar kehidupan manusia senantiasa mendapatkan pitulungan(pertolongan) dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Filosofi kemenyan

 Kemenyan yang dibakar dan mengepulkan asap berbau khas, memiliki makna talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos.

Artinya, bahwa hajat, ritual, atau acara yang diselenggarakan, hendaknya selalu untuk meningkatkan keimanan manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam arti tertentu, kemenyan yang dibakar dan asap yang mengepul seperti “mengamini” setiap harapan-harapan bersifat baik dari acara yang diselenggarakan.

Dalam acara kenduri atau permohonan keselamatan keluarga, keselamatan desa, dan lain-lain, biasanya juga menyinggung bara api yang membakar kemenyan.

Hal itu digambarkan sebagai urubing cahya kumara (serupa api yang  membara) melambangkan bara semangat dan harapan di hati manusia untuk mewujutkan cita-cita yang diinginkan.

Sedangkan asap kemenyan dimaknai sebagai simbol agar permohonan atau doa manusia diantar, sampai, dan didengar oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jadi, kembang dan bakar kemenyan sebenarnya tidak digunakan untuk keperluan memberi makan roh halus atau hantu. Namun, tidak dimungkiri, memang ada sebagian orang yang menyalahgunakan untuk kepentingan yang menyimpang.

Editor : Taat Ujianto