• News

  • Singkap Budaya

Jika Ada Tahanan Perempuan Berlenggak-Lenggok di Atas Catwalk, Jangan Heran!

Dewi Kartika, tahanan perempuan di Lapas II-A Surabaya sedang mengikuti lomba fashion
foto: Jawa Pos
Dewi Kartika, tahanan perempuan di Lapas II-A Surabaya sedang mengikuti lomba fashion

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Tanggal 21 April kembali tiba. Hari Kartini sebagai perayaan kebangkitan kaum perempuan, mengingatkan rakyat Indonesia kepada pentingnya kaum wanita bagi kemajuan bangsa.

Di berbagai sudut dan pelosok negeri, biasanya merayakan Hari Kartini dengan aneka rupa kegiatan. Ada yang mengangkat tema keragaman busana adat, ada yang mengangkat tema ke-Indonesia-an di mata kaum perempuan, ada cerdas cermat di sekolah, dan sebagainya.

Di setiap sekolah, biasanya mewajibkan peserta didik mengenakan pakaian adat sesuai suku bangsanya masing-masing. Pihak sekolah biasanya menjadikan momen Hari Kartini sebagai kesempatan untuk menanamkan kesadaran atas keberagaman budaya bangsa Indonesia.

Busana daerah adalah salah satu cermin bagaimana Indonesia memang memiliki keberagaman dan keunikan yang tak bisa diseragamkan. Masing-masing menjadi identitas daerah yang dipersatukan di bawah payung falsafah dan spirit Bhineka Tunggal Ika.

Dan ada juga model perayaan Hari Kartini yang sangat menarik. Beberapa tahun terakhir, perayaan Hari Kartini dimeriahkan oleh sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan, di antaranya pernah digelar oleh Lapas kelas II-B Sukabumi (tahun 2013), Lapas II-A Wirogunan Yogyakarta (tahun 2016), dan Lapas II-A Surabaya (tahun 2018).

Para tahanan perempuan diajak mengikuti acara fashion show. Para tahanan wanita diberikan kesempatan untuk berlenggak-lenggok di atas catwalk dengan mengenakan pakaian tradisional yaitu kebaya, dan disaksikan para tahanan lain dan tamu undangan.

Selesai fashion show, para tahanan perempuan diajak mengikuti lomba tentang pengetahuan seputar tokoh Kartini.

Tentu saja, materi lomba juga disesuaikan dengan tujuan panitia dalam rangka membangun kesadaran dan jatidiri para tahanan sehingga saat keluar dari lapas tumbuh semangat baru (kebangkitan) dalam berkarya kembali di tengah masyarakat.

Cara tersebut sangatlah menarik. Sebab, para tahanan perempuan juga membutuhkan suasana yang kondusif selama menjalani kehidupannya dalam penjara. Masing-masing memiliki trauma, luka batin, dan kecenderungan negatif lain, akibat tindak pidana yang pernah dilakukan.

Dan momen Hari Kartini adalah waktu yang tepat untuk digunakan para petugas lapas dalam membina para tahanan sehingga mampu memperbaiki sisi-sisi gelap pengalaman hidup mereka.

Tentu saja, latar belakang para tahanan perempuan beraneka ragam. Ada yang terjerat akibat kasus narkoba, penipuan, perdagangan manusia (anak), pencurian, bahkan hingga pembunuhan.

Dengan mengenali nilai-nilai yang pernah diperjuangkan dan dicita-citakan Kartini bagi kaum perempuan Indonesia, diharapkan, masa lalu yang gelap ditinggalkan dan digantikan dengan komitmen membangun hidup yang berguna bagi masyarakat.

Dengan wawasan yang lebih luas, kaum perempuan ini diajak untuk bangkit dari keterpurukan. Dan memang, bila kita menyimak nilai-nilai luhur mendiang Raden Ajeng Kartini, setiap tahanan perempuan dipastikan akan menemukan betapa kaya cakrawala hidup tokoh emansipasi wanita kita.

Beban masa lalu tidak akan mudah dihapus dalam memori para tahanan perempuan. Walaupun sudah memiliki wawasan luas dan tumbuh keinginan untuk bangkit, ia masih membutuhkan lingkungan baru yang kondusif saat ia keluar dari lapas.

Melalui fashion show, para tahanan bisa belajar untuk semakin percaya diri. Saat keluar dari lapas, ia juga harus yakin dan memiliki tekat yang kuat untuk merubah arah hidupnya.

Dengan demikian, sebenarnya model-model acara perayaan Hari Kartini seperti dilakukan Lapas Sukabumi dan Wirogunan bisa dijadikan sebagai semacam tradisi rutin dan patut ditiru oleh lapas-lapas tahanan perempuan lainnya.

Adapun nilai-nilai luhur yang spesifik bisa dijadikan tema bagi perayaan Hari Kartini. Nilai-nilai luhur itu bisa dilacak dalam tulisan RA Kartini seperti dimuat dalam buku "Door Duisternis tot Licht" atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Berikut adalah beberapa contohnya.

Ajakan Kartini untuk selalu menjaga sikap dan bagaimana manusia harus terus memperbaiki diri tercermin dalam pesan, "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri."

Kita sering mengeluhkan bahwa kita tidak pernah minta dilahirkan, namun mengapa kita harus bertanggung-jawab atas hidup kita?

Pergulatan batin seperti ini tercermin dalam pesan Kartini yaitu, "Jangan mengeluhkan hal-hal buruk yang datang dalam hidupmu. Tuhan tak pernah memberikannya, kamulah yang membiarkannya datang."

Setiap orang, khususnya kaum perempuan juga harus memiliki impian yang wajib diperjuangkan. Pesan Kartini, "Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”

Mengenai semboyan hidup, kita semua juga bisa meneladani Kartini. Katanya, "Tahukah engkau semboyanku? 'Aku mau!' Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata 'aku' tiada dapat melenyapkan rasa berani. Kalimat 'Aku mau!' membuat kita mudah mendaki puncak gunung."

Selanjutnya tentang bagaimana kaum perempuan harus mampu meninggalkan adat dan tradisi masa lalu yang meminggirkan kaum perempuan, misalnya kawin muda, perempuan tidak perlu pendidikan tinggi, perempuan hanya tugasnya “di dapur, di sumur, dan di kasur”.

Menanggapi tradisi kuno, pesan Kartini adalah "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya."

Untuk suskses, para tahanan perempuan harus mampu mengatasi masalah sesulit apapun. Pesan Kartini, "Terkadang, kesulitan harus kamu rasakan terlebih dulu sebelum kebahagiaan yang sempurna datang kepadamu."

Para tahanan penempuan harus mampu bangkit dan tidak boleh menyerah seperti pesan Kartini, "Jangan pernah menyerah jika kamu masih ingin mencoba. Jangan biarkan penyesalan datang karena kamu selangkah lagi untuk menang."

Kaum perempuan harus berdikari dan jangan hanya menyandarkan hidupnya kepada kaum lelaki sebab, "Adakah yang lebih hina, daripada bergantung kepada orang lain?"

Kaum perempuan atau siapapun hidup di alam nyata yang terus berubah. Tak ada yang abadi, sebab, "Tiada awan di langit yang tetap selamanya. Tiada mungkin akan terus-menerus terang cuaca. Sehabis malam gelap gulita lahir pagi membawa keindahan. Kehidupan manusia serupa alam."

Harapan akan menuntut setiap orang agar mampu melangkah melewati hari demi hari ke arah yang semakin lebih baik. Manusia yang tidak memiliki harapan, ibarat mayat berjalan.

Dan semua orang akan mati untuk digantikan generasi baru. Justru karena kita sadar bahwa kelak pasti akan mati, maka gunakanlah masa hidup kita sebaik-baiknya.

Pesan Kartini, "Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbulah angan-angan lain, yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah."

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?