• News

  • Singkap Budaya

Tradisi Kerokan Ternyata Bisa Memengaruhi Hasrat Seks dan Rasa Bahagia

Kerokan adalah salah satu terapi kesehatan tradisional
foto- cantik.tempo.co
Kerokan adalah salah satu terapi kesehatan tradisional

SURAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kerokan diakui sebagai salah satu budaya masyarakat Jawa yang sudah ada sejak masa Kerajaan Hindu-Budha. Hingga kini, tradisi kerokan ternyata mampu bertahan dari derasnya arus zaman.  

Kerokan tergolong sebagai tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan tradisional. Bisa pula digolongkan sebagai terapi kesehatan. Terapi ini digemari oleh khalayak umum karena menurut sebagian orang dianggap manjur dan tanpa mengeluarkan biaya.

Ada pula kepercayaan bahwa kerokan bisa menyembuhkan seseorang dari gangguan guna-guna atau gangguan roh halus. Kepercayaan ini juga ada hubungannya dengan jenis koin kuno (biasanya disebut uang benggol) yang digunakan. Koin dari bahan tertentu konon bisa mengusir roh halus.

Orang yang sedang sakit parah ditandai dengan warna merah kehitaman. Bila guratan itu keluar, si penderita akan merasa lega dan merasa yakin pasti akan segera sembuh.

Penting pula dicatat, tradisi kerokan sebenarnya tidak hanya ada di Jawa. Beberapa negara di Asia sebenarnya juga memiliki kebiasaan ini, antara lain di Vietnam (cao giodi) dan Kamboja (goh kyol). Untuk model kerokan di Tiongkok (gua sha), selain memakai koin, biasanya memakai batu giok.

Terlepas dari kepercayaan keampuhan kerokan dan sebagai tradisi leluhur, ternyata ada satu hal menarik lainnya. Konon, kerokan bisa juga membantu mengatur pertumbuhan hormon seks yang tentunya juga bisa memengaruhi hasrat seksual seseorang.

Menyitir hasil kajian tim Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa ITB Tahun 2018 yang dipublikasikan dalam Perpustakaan Digital (budaya-indonesia.org), disebutkan bahwa “kerokan bisa mengatur hormon pertumbuhan dan seks, mengendalikan rasa nyeri, mengendalikan perasaan stress, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh”.

Kesimpulan ini diperoleh berdasarkan kajian yang dilakukan seorang guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yakni Prof Didik Gunawan Tamtomo. Sepanjang tahun 2003-2005, ia mekakukan survey kuantitatif dan kualitatif terhadap 390 responden.

Dari hasil kuesioner yang diisi oleh mayoritas kaum perempuan berusia 40 tahun ke atas (terdiri dari kaum pekerja), 90 persen mengaku selalu kerokan bila sedang ”masuk angin”. Dalam kedokteran, istilah “masuk angin” sebenarnya tidak dikenal.

Bila dirunut gejalannya, maka yang dimaksudkan para responden ternyata adalah gejala perut kembung, kepala pusing, demam ringan, dan otot nyeri. Ketika diteliti secara lebih jauh, ditemukan fakta bahwa kerokan memang terbukti berdampak positif mengatasi masalah-masalah tersebut.

Kerokan tidak mengakibatkan kerusakan kulit dan tidak menyebabkan pembuluh darah pecah. Dari hasil uji laboratorium di UNS, hanya ditemukan bahwa pembuluh darah orang yang dikerok melebar.

Kondisi itu berdampak positif sebab bisa membuat aliran darah lancar sehingga pasokan oksigen dalam darah semakin meningkat. 

Prof Didik Gunawan Tamtomo juga berhasil memperoleh kesimpulan lain bahwa kerokan terbukti bisa meningkatkan endorfin. Maksudnya, kadar endorfin semua responden yang telah menjalani kerokan naik signifikan.

Endorfin adalah zat kimia yang diproduksi oleh tubuh manusia dan dapat menimbulkan efek mengurangi rasa sakit, memicu perasaan senang, tenang, atau bahagia. Jadi, peningkatan endorfin dengan sendirinya membuat badan seseorang merasa lebih segar dan lebih bersemangat.

Di sisi lain, korokan bisa membuat kadar prostaglandin mengalami penurunan. Prostaglandin adalah senyawa asam lemak yang berfungsi menstimulasi kontraksi rahim dan otot polos lain. Hal ini juga menjadi salah satu bukti bahwa kerokan ikut mempengarui organ reproduksi kaum wanita.

Selain itu, kerokan bisa juga membantu menurunkan tekanan darah, mengatur sekresi asam lambung, suhu tubuh, dan memengaruhi kerja sejumlah hormon.

Prof Didik juga menyarankan bahwa kerokan yang baik diawali dari atas ke bawah di sisi kanan dan kiri tulang belakang, dilanjutkan dengan garis-garis menyamping di punggung bagian kiri dan kanan.

Dan seperti halnya obat, kerokan baik bila tidak dilakukan secara berlebihan. Kerokan yang terlalu sering bisa menimbulkan efek ketagihan. 

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber