• News

  • Singkap Budaya

Menyedihkan, Budaya Ini Pernah Ditunggangi Praktik Pelacuran Kaum Buruh

Ilustrasi Ronggeng Melayu
Foto: analisadaily.com
Ilustrasi Ronggeng Melayu

MEDAN, NETRALNEWS.COM - Tahukah Anda bahwa ronggeng sebagai peninggalan budaya tempo dulu, tidak hanya ada di Jawa? Ronggeng juga pernah berjaya di Deli, Sumatera. Mari kita tengok bersama keberadaan seni budaya luhur tersebut.

Di Jawa Tengah, ronggeng diperkirakan sudah ada sejak zaman Hindu-Budha abad ke-8. Hal ini bisa dilihat dari relief Karmawibhanga yang berada di dinding candi Borobudur. Relief tersebut menggambarkan adegan perjalanan rombongan hiburan dengan musisi dan penari wanita.

Ronggeng di masa itu termasuk dalam seni pertunjukkan rakyat jelata. Pertunjukkan ronggeng digelar dari desa ke desa.

Setiap rombongan terdiri dari beberapa pemain musik rebab dan gong, serta seorang penari yang menjadi bintangnya. Sosok perempuan penari itu biasa disebut juga “ronggeng”.

Bila pertunjukkan digelar, penari ronggeng akan melayani para lelaki yang akan menari bersamanya. Para lelaki itu akan memberikan sejumlah uang kepada sang penari. Perilaku ini dinamakan “sawer”.

Sayangnya, gerakan tari ronggeng konon sering terlalu erotis dan mengundang birahi kaum lelaki. Ronggeng dicitrakan sebagai seni yang kurang sopan dan tidak memenuhi standar keraton. Muncul pula reputasi negatif bahwa ronggeng  hanyalah kedok dari praktik prostitusi terselubung.

Citra kehidupan ronggeng digambarkan oleh Ahmad Tohari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.  Novel itu mengisahkan kehidupan seorang penari ronggeng di daerah Jawa Tengah. Ia bersedia “dipakai” oleh para lelaki yang menghendaki dan mampu membayarnya.

Selain di Jawa Tengah, ronggeng juga berkembang di tanah Pasundan, Jawa Barat. Di daerah ini, seni ronggeng juga memberikan pengaruh yang besar terhadap seni tari jaipongan.

Lain lagi dengan Ronggeng di Deli, Sumatera. Dalam perjalannya, biasa disebut sebagai ronggeng Melayu. Ronggeng ini baru berkembang dan berjaya sekitar abad ke-19 hingga 20.

Ronggeng di tahun 870 (foto: tropenmuseum)

Ronggeng Deli dilahirkan oleh seniman dari Jawa yang saat itu dipekerjakan oleh mandor-mandor atau tandil perkebunan tembakau Deli yang berasal dari suku Jawa.

Seni ini sengaja dibiarkan berkembang oleh tuan-tuan perkebunan untuk menghibur para buruh atau para kuli dari Jawa. Sayangnya, di era ini ada sejumlah mandor yang memanfaatkan ronggeng sebagai cara mengeruk harta dengan mengabaikan etika.

Dalam catatan residen Sumatera Timur P.J. Kooreman tahun 1903 seperti dikutip Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli, Politik Kolonial pada Awal Abad Ke-20 (1997), dikisahkan bagaimana mandor perkebunan dari Jawa memanfaatkan ronggeng sebagai kedok pelacuran.

Sebagian penari ronggeng ternyata merupakan buruh perempuan di perkebunan tembakau. Mereka diorganisir oleh seorang germo yang biasanya merupakan mandor dari Jawa. Germo menggelar pertunjukkan ronggeng begitu tiba hari gajian bagi para buruh dari Jawa.

Dengan menjadi penari ronggeng, kuli perempuan Jawa bisa mendapatkan tambahan penghasilan. Saat menari, para lelaki akan maju dan ikut menari kemudian akan menyelipkan uang di antara buah dadanya. Perilaku ini dinamakan “sawer”.

Kisah kehidupan ronggeng di perkebunan tembakau Deli juga tergambar dalam roman Buya Hamka yang berjudul Merantau.

“Dan yang asyik menonton ronggeng itu pun, bila sudah bersangatan asyiknya, ada yang tampil ke muka, sama-sama menari dengan sehelai selendang bersama perempuan ronggeng itu, sama-sama berbalas pantun! Demikianlah kehidupan di perkebunan, kehidupan dalam lingkungan Punale Sanctie,” demikian salah satu petikan roman Merantau.

Karya Buya tersebut memberi penanda khusus yang menjadi pembeda seni ronggeng antara renggong yang ada di Deli dengan ronggeng di Jawa.

Ronggeng Deli memiliki kekhasan yakni menggunakan seni berbalas pantun. Isi pantun pun beragam, mulai dari soal nasihat, percintaan, hingga doa-doa kepada Tuhan.

Penanda lainnya dapat dilihat dari alat musik yang digunakan yaitu terdapat biola dan akordion. Unsur Portugis juga memberikan pengaruh di masa-masa selanjutnya.

Ronggeng Melayu, biasanya terdiri dari lima orang pemain musik dan tiga pasang penyanyi yang sekaligus menjadi penarinya.

Seni budaya Melayu ini mengalami puncak kejayaan sekitar tahun  1920-an. Kala itu, ronggeng tidak hanya digelar di perkebunan tembakau tetapi berhasil memasuki istana Kesultanan Deli Serdang, bahkan sering diundang juga oleh para pejabat Belanda.

Konon, saat memasuki lingkup istana, Sultan Serdang memberikan penghargaan khusus kepada para penari ronggeng. Ia pernah membagi-bagikan lahan kepada seniman dan memelihara kesenian ronggeng sebagai budaya istana Deli.

Sejumlah pengamat budaya menyatakan bahwa cikal bakal tari Serampang Dua Belas, tari tradisional khas Deli, sebenarnya mengadopsi gerakan-gerakan elok dan liukan tubuh para penari ronggeng.

Tidak hanya itu. Bagi sejumlah tokoh agama Islam, ronggeng justru digunakan sebagai alat syiar. Dalam hal ini, ronggeng berusaha meninggalkan citra buruknya yang pernah dianggap sebagai seni pertunjukkan yang dijadikan sebagai kedok praktik pelacuran.

Citra ronggeng mulai digeser menjadi seni budaya umat muslim. Dan hal ini yang kemudian coba terus dijaga dan dibangun para seniman Ronggeng Melayau dewasa ini.

Revitalisasi Ronggeng Melayu

Di masa pendudukan Jepang, citra buruk penari ronggeng lebih menonjol. Setiap pertunjukan ronggeng Melayu digelar, sering disusupkan unsur prostitusi untuk menghibur para serdadu Jepang.

Anggapan bawa ronggeng identik dengan penari seronok, erotis, tidak mengindahkan kesopanan, dan mengabaikan nilai agama, kembali menguat. Dan ini sangat disayangkan.

Nasib kurang beruntung pernah dialami para seniman ronggeng Melayu yang kebanyakan tinggal di permukiman Sungai Deli. Tahun 1980, permukiman mereka digusur oleh pemda. Akibatnya para seniman ronggeng hidup terpencar-pencar, namun tetap berusaha mempertahankan seni tersebut.

Sekitar tahun 1992, seni ronggeng Melayu di Medan sempat mengalami matisuri. Seperti yang sudah-sudah, penyebabnya adalah munculnya perilaku buruk yang rentan mengiringi pertunjukkan ronggeng.

Kala itu, ronggeng Melayu terkontaminasi oleh budaya mabuk-mabukan. Kadang, ada perempuan “titipan” yang ikut dalam pertunjukkan yang bisa diajak kencan oleh penonton yang bersedia membayarnya. Hal ini sangat merugikan bagi keberadaan seni tersebut.

Berkat sejumlah seniman yang cinta seni ronggeng Melayu, budaya ini mampu bertahan dari arus zaman. Para seniman terus berusaha merevitalisasi ronggeng Melayu agar menjadi salah satu ikon budaya masyarakat Medan, Sumatera Utara.

Editor : Taat Ujianto