• News

  • Singkap Budaya

Sembarangan Masuk Dapur Ternyata Bisa Membuat Perilaku Seks Menyimpang

Suku Bugis dengan pakaian adat mereka
foto: makassar-terkini.id
Suku Bugis dengan pakaian adat mereka

MAKASSAR, NETRALNEWS.COM - Anda pasti pernah mendengar lagu berjudul “Kucing Garong” karya Usin Indra yang tenar saat dinyanyikan Dede S. Berikut cuplikan lirik lagu tersebut. 

Kelakuan si kucing garong, ora kena ndeleng sing mlesnong ... Sin dadi modal andalan, kucing ngedengi duit atusan. Yen bli kuat nahan iman, bisa-bisa jadi berantakan.

(Kelakuan kucing yang suka mencuri, tidak tahan bila melihat perempuan cantik ... Yang jadi modal andalan adalah uang ratusan ribu. Bagi yang tidak tahan iman, bisa membuat berantakan).

Isi lirik lagu itu sebenarnya ingin memberi pesan agar hati-hati terhadap lelaki yang memiliki kelakuan gemar “bermain perempuan”. Perilakunya seperti kucing garong yang sering keluar masuk dapur untuk mencuri makanan.

Lelaki seperti itu adalah lelaki yang memiliki perilaku seks menyimpang. Ia tidak tahan keluar masuk dapur untuk mencuri makanan (menggoda perempuan). Padahal dapur merupakan tempat terhormat di mana harkat martabat perempuan berada.

Kira-kira begitulah hubungan lagu “kucing garong” dengan falsafah “ruang dapur”. Hubungan ini bukan mengada-ada, sebab dalam budaya Nusantara, ada suku tertentu yang sangat menghargai ruang dapur sebagai lambang harkat dan martabat keluarga atau seseorang.

Dapur di sini meliputi bangunan, ruang, tempat menyimpan peralatan memasak, dan juga sebagai tempat untuk menikmati aneka masakan.

Keberadaan dapur  juga erat dengan perapian. Dahulu menggunakan tungku, tetapi sekarang sudah digantikan oleh kompor.

Bila kita ingin melihat bagaimana nyala api kehidupan keluarga, kita sebenarnya bisa melihat aktivitas di dapurnya. Hal inilah yang membuat suku Bugis di Makassar sangat memperhatikan keberadaan dapur.

Bila dapur tidak lagi berasap, keluarga tersebut patut dicurigai. Bisa jadi sedang dilanda masalah sehingga nyala kehidupannya terganggu.

Dapur dalam tradisi Bugis, berbentuk segi empat, sesuai falsafah yang mereka anut yakni sulapa eppa yang artinya “yang dianggap paling sempurna adalah yang bersegi empat”.

Di dalam dapur terdapat tungku. Formasi tungku tradisional suku Bugis bisa berlantai dua. Bagian atas untuk mengeringkan kayu bakar dan menyimpan peralatan dapur. Sedang bagian bawah digunakan untuk memasak.

Tungku asli suku Bugis menggunakan tiga batu yang diletakkan di atas lantai. Jumlah tungku dalam setiap dapur bisa sampai tiga buah. Bila masih kurang, orang Bugis akan membuat tungku yang terpisah dari dapur utama, namanya dapo (Bugis) atau palu (Makassar).

Sebenarnya, di Sulawesi ada beberapa model tungku. Ada yang berbentuk seperti perahu dengan tiga tatakan. Model ini biasanya dipakai orang Sulawesi bagian Selatan.  Untuk Sulawesi bagian Utara, lebih sering menggunakan model tiga batu, silinder, dan dua besi panjang sejajar.

Bila dapur masih kurang luas, biasanya akan menambah ruang tambahan di belakangnya. Seluruh bangunan dapur ini biasa disebut Jongke atau Bola Dapureng. Fungsinya untuk semua kegiatan menyangkut penyediaan makanan dan minuman keluarga.

Bila dirinci secara detail, fungsi dapur sebenarnya cukup banyak, antara lain untuk tempat mengolah makanan dan minuman, menyimpan peralatan, mencuci, tempat pembuangan, tempat sosialisasi kaum perempuan, tempat usaha (produksi), dan sebagainya.

Hanya saja, suku Bugis memiliki norma-norma tertentu dalam memperlakukan dapur. Salah satunya sudah di singgung di atas, bahwa dapur merupakan tempat terhormat. Tidak semua orang boleh keluar masuk sembarangan ke dapur.

Ketika ada tamu berkunjung, maka ia tidak etis bila melebihi batas ruang tamu, apalagi nylonong masuk ke ruang dapur. Dapur merupakan simbol rahasia kehidupan keluarga. Yang boleh masuk hanyalah kerabat dekat saja.

Orang Bugis percaya bahwa siapapun yang tidak menghormati norma-norma tentang penghargaan terhadap ruang dapur, maka hidupnya akan mengalami malapetaka. Minimal, hidupnya akan menyimpang dari ketentuan pada umumnya.

Untuk itulah, beberapa larangan atau biasa disebut pemmali atau pemali (kadang ditulis pamali). Larangan-larangan itu antara lain:

1.  Dilarang menginjak tungku

Barang siapa menginjak tungku, ia akan menjadi seseorang yang menyerupai kucing garong. Ia akan menjadi pribadi yang memiliki kelainan perilaku seks atau perilaku seks yang menyimpang. Artinya, ia akan terbiasa melanggar norma-norma kesusilaan di bidang seksualitas.

2.  Dilarang menyanyi di depan dapur

Larangan ini ditujukan secara khusus bagi kaum perempuan Bugis. Konon, perempuan yang bersenandung di dapur maka akan bersuamikan lelaki yang sudah tua atau lelaki yang sudah memiliki istri.

3.  Perapian harus menyala

Api tungku tidak boleh padam ditujukan terutama bagi keluarga nelayan. Saat melaut, api di tungku dapur harus tetap menyala. Ini merupakan ungkapan permohonan agar saat mencari ikan diberikan keselamatan dan mendapat rejeki yang berlimpah.

4.  Dilarang membagi api ke tetangga

Larangan ini berlaku di musim mengolah lahan tanah atau ladang. Istri dilarang membagikan api dari tungku dapur kepada keluarga tetangga. Konon, bila dilanggar, maka padi yang ditanam bisa diserang hama tikus atau hama ulat.

5.  Kaum laki-laki dilarang bekerja di dapur

Larangan ini memang sedikit kuno. Dahulu orang Bugis menganggap bahwa pekerjaan di dapur sepenuhnya menjadi tanggung jawab kaum perempuan. Lelaki yang bekerja di dapur, derajatnya dianggap turun.

6.  Kaum lelaki dilarang memegang alat masak

Ini juga adat lama di mana kaum lelaki harus mempercayakan persoalan memasak kepada istrinya. Bila dilanggar, itu pertanda sang suami tidak percaya lagi kepada istrinya.

7.  Tidak boleh memukul dengan alat memasak

Apapun alasannya, saat marah tidak boleh memukulkan alat memasak ke badan seseorang. Orang Bugis percaya bila itu dilakukan maka bisa menyebabkan seseorang (terutama anak) menjadi bodoh atau berpikir lambat.

8. Tidak boleh duduk mengangkang

Bagi anak perempuan yang bekerja di dapur, dilarang duduk mengangkang, terutama saat mencuci bahan makanan. Bila norma ini dilanggar, dipercaya apapun yang dimasak bisa akan cepat membusuk atau basi.

9. Membaca solawat nabi

Sebelum memasak ikan atau daging, kaum perempuan harus mencucinya sambil melafalkan Solawat Nabi atau membaca surah pendek. Ini penting agar daging benar-benar bersih dari darah yang masih menempel pada daging hewan.

10. Dilarang makan dengan menggunakan alat penutup makanan

Larangan ini terutama berlaku bagi lelaki yang belum menikah. Ia tidak boleh menggunakan alat apapun yang digunakan sebagai penutup makanan untuk dijadikan sebagai tempat menaruh makanan yang hendak ia santap.

Ini melambangkan pesan agar ia tidak menjadi lelaki "penutup malu". Artinya, saat kelak menikah, diharapkan bukan karena disebabkan hanya untuk menutupi aib sang gadis yang dipinang. Bila menikah, seharusnya dilandasi kasih sayang yang tulus dan bukan karena terpaksa.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?