• News

  • Singkap Budaya

Tak Ada di Arab, Ini Sistem Pengobatan Islam Tradisi Jawa

Ilustrasi suwuk
Foto: antronesia.com
Ilustrasi suwuk

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Orang Jawa tak akan asing dengan kata “suwuk”. Kata itu bukan menunjuk tempat, bukan pula menunjuk orang. Kata itu merupakan istilah sistem pengobatan tradisional yang sejak dahulu berkembang di pesantren-pesantren di Jawa.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata ini memang tidak ditemukan. Kata yang mendekati adalah “sembur” yakni “apa yang disemburkan dari mulut (obat-obatan yang dikunyah).

Walau tidak ditemukan dalam KBBI, suwuk dijamin sudah akrab dengan masyarakat Islam tradisi Jawa atau umat muslim yang masih memegang teguh tradisi leluhur suku Jawa.

Dikatakan “Islam tradisi Jawa” karena suwuk tidak akan ditemukan di tanah Arab sebagai daerah cikal bakal ajaran Islam. Suwuk lahir dan hanya ada di Jawa.

Dahulu kala, ketika ada orang sakit, maka pertama-tama yang dilakukan oleh masyarakat Jawa adalah meminta suwuk dari seorang kiai. Selain karena kurangnya tenaga medis, dahulu kala, suwuk dianggap lebih manjur dibanding pengobatan modern.

Suwuk adalah perpaduan pengobatan tradisional dan doa-doa tertentu untuk maksud tertentu pula. Masyarakat Jawa meyakini suwuk bisa mengatasi masalah kesehatan baik untuk anak, dewasa, maupun untuk kalangan orang tua.

Begitu ada keluarga yang anaknya rewel, menangis terus, batuk, tak mau makan, demam, mencret, maka orang tuanya akan segera lari mencari kiai atau dukun untuk minta disuwuk.

Di era milenial, para peminat suwuk memang sempat mengalami penurunan. Pengobatan modern mulai menggeser keyakinan tersebut. Tetapi, ada juga ahli pengobatan Jawa yang memadukan suwuk dengan sistem pengobatan herbal.

Perkembangan teknologi dan sistem informasi ikut menjadi penyebab menurunya peminat suwuk. Mungkin, generasi tua saja yang masih mengenal dan menggunakannya. Sementara itu, generasi milenial banyak yang sudah asing dengan tradisi ini.

Bila membandingkan suwuk dengan ajaran Islam, ada beragam pendapat. Sebagian memercayai bahwa suwuk bukanlah tergolong sebagai syirik. Mereka meyakini bahwa suwuk adalah tradisi pengobatan dengan pendekatan Islam, supranatural (mistis), bahkan bisa juga ilmiah.

Sebagai contoh, bila Anda sakit gigi dan menghadap seorang kiai, Anda akan diminta membaca ayat Alquran tertentu (tergantung Sang Kiai). Terkadang, ayat itu diminta rutin dibaca misalnya saat setelah salat Subuh.

Anda kemudian diajak untuk menumbuhkan keyakinan dan memohon kesembuhan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Kiai hanyalah perantara, bukan penentu kesembuhan.

Sementara Anda diminta rutin berdoa, kiai juga memberikan ramuan obat tertentu yang dipakai untuk kumur atau dipakai sebagai pasta gigi (terkadang, ramuan obat kumur antara kiai yang satu berbeda dengan kiai yang lain).

Setelah beberapa hari, ternyata praktik yang dijalankan itu menghasilkan kesembuhan. Pertanyaannya, yang menjadi penyebab utama sehingga Anda sembuh dari sakit gigi?

Jawaban yang diharapkan adalah bahwa kesembuhan adalah nikmat atau berkah dari Yang Maha Kuasa melalui obat ramuan yang diberikan oleh kiai, serta niat Anda yang memang ingin sembuh dengan menjalankan doa dan kumur atau gosok gigi.

Jawaban dari rangkaian menuju kesembuhan itu tidak boleh dipotong. Jawabannya adalah keseluruhan proses itu. Pertanyaan selanjutnya adalah ramuan obat apa yang sesungguhnya diberikan oleh kiai? Jawabannya pun tidak sederhana. Ramuan herbal ada kajiannya sendiri.

Suwuk terkadang berkonotasi negatif karena dalam perjalanan sejarah kehidupan masyarakat Jawa, tidak bisa dipungkiri, pernah ada sejumlah kasus dukun dadakan yang menyalahgunakan suwuk, bahkan ada pula yang sambil mempraktikkan ajaran sesat.

Hal inilah yang membuat suwuk mengalami konotasi buruk. Praktik suwuk menjadi bermakna sempit dan identik dengan praktik pengobatan seorang dukun atau orang pintar melalui guna-guna atau kekuatan mistis. Padahal, seharusnya tidak seperti itu.

Mengenai pendekatan berbau supranatural, memang harus diakui pula bahwa dalam budaya Jawa, unsur itu tidak bisa dilepaskan. Hampir semua dimensi kehidupan, diterjemahkan oleh sistem budaya Jawa dengan penuh simbol dan bersifat supranatural.

Orang Jawa yang paham hakikat budaya tersebut, dipastikan memahami bahwa suwuk yang sesungguhnya merupakan perpaduan utuh antara interaksi dengan dirinya sendiri, antara manusia dengan alam semesta, interaksi dengan sesama, dan interaksi dengan Tuhan.

Seperti contoh suwuk untuk mengobati sakit gigi di atas. Suwuk harus mampu membawa si pasien melakukan olah rasa, olah batin, olah laku atau tindakan, olah spiritual, dan olah sosial. Ujungnya adalah mengajak pasien bersatu dengan kehendak Tuhan, Sang Penguasa Alam Semesta.

Bila dikaitkan dengan ajaran Islam, dalam hal ini sebenarnya suwuk tidak termasuk syirik. Oleh sebab itu, di dalam dunia pesantren, suwuk tidak dilarang, bahkan menjadi salah satu sistem pengobatan mandiri atau swadesi.

Bagi orang Islam, Alquran adalah “obat” kehidupan manusia. Para kiai sangat menyadari hal itu. Maka, setiap kali suwuk  dilakukan, ayat suci Alquran akan menjadi pijakan pertama, disusul kemudian pemberian ramuan-ramuan herbal.

Mengutip salah satunya asy-Syifa disebutkan,  Allah berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Alquran) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang beriman” (Q.S Yunus [10]: 57).

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber