• News

  • Singkap Budaya

Ini Bukan Lebaran: Usai Menangis Darah, Warga Saling Memaafkan

Tradisi Dhukutan di Karanganyar, Jawa Tengah
Foto: Radar Solo
Tradisi Dhukutan di Karanganyar, Jawa Tengah

KARANGANYAR, NETRALNEWS.COM – Upacara adat ini rutin diselenggarakan di sejumlah desa di Karanganyar, Jawa Tengah. Namanya “upacara dhukutan”.

Saking uniknya, tradisi ini selalu mengundang wisatawan berdatangan untuk sekadar menyaksikannya. Salah satu tempat yang biasa digunakan adalah di Situs Menggung, Kampung Wisata Nglurah, Kecamatan Tawangmangu.

Sejak dahulu, upacara dhukutan diadakan untuk mengingat pentingnya mempertahankan ikrar damai antar warga. Damai itu indah dan jangan biarkan direbut oleh pihak manapun.

Mereka saling maaf-memaafkan, namun bukan karena sedang merayakan hari Lebaran atau Idul Fitri. Ini adalah tradisi kuno atau budaya Jawa yang dirawat oleh masyarakat di sekitar Karanganyar.

Sebelum upacara dimulai, panitia sudah menyiapkan aneka rupa sesaji (tumpengan) sehari sebelumnya. Dan selama semalam suntuk, diselenggarakan ritual doa sambil bersemedi.

Esok paginya, para pria mengenakan udeng, rompi, dan batik menjadi peserta tawur, berdatangan memenuhi situs Menggung. Sementara itu, kaum perempuan mengenakan seragam gamis berwarna merah.

Mereka kemudian mengarak sesaji dari pendapa mengelilingi area situs. Para sesepuh selanjutnya memimpin doa sebelum tawuran dimulai.

Aneka rupa makanan yang terbuat dari bahan jagung, sayur, dan buah pisang, dan sebagainya diperebutkan peserta upacara. Mereka saling melempar menguji ketepatan ke arah sasaran.

Bila dilihat sekilas, prosesi dhukutan terlihat ekstrim. Warga berhamburan saling melemparkan aneka rupa sesaji.

Suasana area Situs Menggung yang menjadi salah satu Cagar Budaya di Karanganyar, berubah laksana sedang terjadi tawuran.

Situs yang menyimpan punden berundak setinggi 20 meter dengan arca Aerlangga di sebuah pohon Panggang, dikerubungi ratusan orang.

Setiap kali seseorang melempar sesaji, mereka berteriak “hore”. Tawuran itu bukan karena melampiaskan kemarahan, tetapi ternyata justru melampiaskan kegembiraan.

Konon, tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-14. Tradisi ini merupakan simbol perdamaian antara leluhur Desa Nglurah Lor dan Nlurah Kidul.

Dahulu, warga antar kedua wilayah selalu mengalami perselisihan dan konflik yang memicu pertengkaran. Sampai akhirnya, terjadilah peristiwa yang menyentuh hatiseluruh warga.

Pasalnya, pempimpin Desa Nglurah Lor yang disebut sebagai Kyai Menggung dan pemimpin Desa Nglurah Kidul yang bernama Nyai Rasa Putih menangis darah atau keluar luh getih.

Peristiwa itu membuat warga sedih. Warga semakin terketuk hatinya ketika kedua pemimpin tersebut memutuskan bersatu dan menikah menjadi pasangan suami istri.

Mereka melakukan itu karena ingin agar pertengkaran bisa diakhiri. Ternyata, usaha kedua pemimpin tersebut tidak sia-sia.

Menurut cerita lisan, peristiwa ikrar damai itu terjadi pada hari Selasa Kliwon dengan jumlahnya 36, menurut kalender atau Wuku Jawa.

Puncak dari upacara tersebut, biasanya ditutup dengan pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk atau ketoprak di pendapa.

Pertunjukkan ini digelar juga sekaligus sebagai media menyampaikan permohonan berkah keselamatan bagi seluruh penghuni Desa Nlurah.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber

Apa Reaksi Anda?