• News

  • Singkap Budaya

Tahukah Anda, Makanan Tradisi Arab Pernah Dianggap Aib bila Dijual?

Komunitas Arab-Betawi di Batavia tahun 1910
Netralnews/ dok.KITLV
Komunitas Arab-Betawi di Batavia tahun 1910

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ramadan tiba. Di sore hari para penjaja makanan berderet di sepanjang gang dan jalan-jalan utama untuk melayani warga yang ingin berbuka puasa. Pemandangan khas ini tidak hanya ada di daerah pelosok, tetapi juga terjadi di Jakarta.

Pernahkah Anda mengamati perubahan jenis-jenis makanan yang dijajakan di sepanjang gang dan jalan raya selama bulan Ramadan, dari masa ke masa? Bila Anda mampu mengingatnya, pasti akan menemukan kesan dan kenangan yang menarik dan unik.

Di manapun, perubahan jenis makanan, relatif semakin beragam dan kaya rasa. Ini pula yang pernah digali oleh Zeffry Alkatiri melalui bukunya Pasar Gambir, Komik Cina, dan Es Shanghai: Sisik Melik Jakarta 1970-an (2010: 105-114).

Secara cukup detail, Alkatiri merunut perubahan jenis makanan dari era Batavia (Kolonial Belanda), era kemerdekaan, hingga tahun 1970-an. Keragaman jenis makanan itu disebabkan oleh latar belakang warga Jakarta yang beragam etnis, budaya, suku, dan agama.

Alkatiri secara khusus menyebutkan bahwa tahun 1970-an, orang Arab di Jakarta tidak hanya mengenal nasi kebuli saja. “Mereka juga mengonsumsi makanan tradisional yaitu asid (aside), halawa (kue yang lebih manis daripada asid), roti maryam (roti konde), nasi kapsah (mirip nasi kebuli), surbah (bubur sereal), gule kambing, sambel goreng kambing, acar, madu, kurma, ka’ak, geplak, dan samboza,” tulis Alkatiri.

Ia juga menambahkan bahwa makanan seperti itu akan selalu muncul dalam acara-acara orang Arab, seperti hajatan, Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Atau paling tidak, selalu disediakan untuk teman minum kopi di rumah mereka.

“Dulu, makanan itu tidak dijual atau dijajakan, tetapi hanya bisa dipesan. Pada mulanya seperti ada konvensi bahwa makanan tradisi Arab aib untuk dijual. Tetapi sekarang, ragam makanan seperti itu sudah banyak yang menjualnya, juga dari kalangan Arab sendiri,” tandasnya.

Seiring kemajuan zaman, rupanya antar kelompok etnis di Jakarta semakin terbuka, tidak eksklusif, dan berbaur. Perubahan makanan tradisi Arab yang awalnya dilarang atau dianggap aib bila dijual, kemudian bisa diperdagangkan secara umum, adalah salah satu buktinya.

Jenis makanan tradisi Arab yang dijajakan saat bulan Ramadan hanyalah salah satu kelompok. Ada jenis-jenis makanan lain yang bisa dikelompokkan berdasarkan etnis antara lain makanan khas Betawi, Cina, Sunda (Bandung, Citrebon), Palembang, Medan, Jawa (Solo, Malang, Semarang), dan lain-lain.

Di tahun 1970-an, sudah ada banyak sekali jenis makanan yang dijajakan di berbagai pusat belanja dan pusat keramaian. Situasi ini berbeda sekali dengan era “zaman normal” atau di masa Jakarta masih bernama Batavia.

Makanan khas Jakarta yang populer di kala itu adalah gado-gado yang dijual dengan cara dipikul berkeliling dan tentunya dijajakan oleh kaum laki-laki. Sekarang gado-gado banyak dijual dengan gerobak dan menetap di pangkalan tertentu.

Ada pula jenis gado-gado siram di kala itu. Penjualnya encim-encim Tionghoa.

Selain gado-gado, makanan khas Batavia adalah asinan, ketupat sayur, toge goreng, troktok, dan ketoprak Betawi dan ketoprak Cirebon. Asinan yang terkenal di masa itu adalah asinan bang Mian dan Bu Gaya yang dahulu mangkal di daerah Taman Sari, Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Untuk jenis ketoprak Betawi yang terkenal di masa itu, biasa dijual di Jalan Karet Tanah Abang, belakang Hotel Sahid Jaya. Penjualnya hanya melayani malam hari saja.

Toge goreng juga ada dua yaitu model Betawi dan Bogor. Toge Betawi, ada potongan oncom sebelum disiram kuah tauco sedangkan model Bogor tidak ditaburi oncom.

Ketika Indonesia merdeka, terutama memasuki tahun 1950-an, kaum urban berdatangan ke Jakarta. Mereka ini datang dengan membawa budaya mereka masing-masing, termasuk tradisi makanan khas mereka.

Pasar pun bermunculan. Setiap ada permukiman kaum urban baru, maka pasar tradisional juga akan terbentuk. Di pasar itulah, para penjaja makanan khas daerah beraksi memperkenalkan dagangannya.

Sekitar tahun 1959, seiring meredanya PRRI Permesta, banyak orang dari Sumatera berdatangan ke Jakarta. Mereka inilah yang kemudian membuka rumah makan Padang di berbagai jalan utama di Jakarta.

Sementara kaum urban dari daerah Pantura, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, juga mulai tak terhitung jumlahnya. Lahirlah model warung makan Tegal atau Warteg, terutama untuk melayani kaum urban yang menjadi pekerja proyek pembangunan kota.

Sementara orang-orang dari daerah lain juga tak mau kalah. Mereka memperkenalkan makanan khasnya masing-masing yang kemudian bertahan hingga kini seperti lumpia (Semarang), bakwan (Malang), somay (Bandung), srabi (Solo), bandeng asap (Sidoarjo), bika Ambon, pempek (Palembang), dan sebagainya.

Keragaman jenis makanan (dan minuman) bisa ditengok dari model masakan nasi yang kini sudah begitu banyak jenisnya, seperti nasi gudeg, liwet, gule, langi, ulam, jamblang, lengko, timbel, uduk, hainan, tim, nasi goreng, kebuli, dan sebagainya.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?