• News

  • Singkap Budaya

Kitab Suci Ini Terbesar di Dunia, Dibuat Berkat Mimpi

Alquran Raksasa di kota Palembang
Foto: Grand Malaka Ethical Hotel Palembang
Alquran Raksasa di kota Palembang

PALEMBANG, NETRALNEWS.COM - Bangsa Indonesia wajib mengucapkan terima kasih kepada putra Palembang. Salah satu karya budayanya berhasil membuat kota pempek (Palembang) menjadi kota terkenal, khususnya bagi umat muslim di seluruh dunia.

Benda itu adalah Alquran Al-Akbar atau Alquran terbesar di dunia yang tersimpan di Museum Alquran Raksasa. Lokasi persisnya berada di Jalan M Amin Fauzi, Soak Bujang, Kelurahan Ganus, Palembang, Sumatera Selatan.

Museum ini diresmikan mantan presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono bersama tokoh Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 30 Januari 2012. Hingga kini museum selalu dikunjungi turis lokal maupun turis mancanegara.

Sesuai namanya, di dalam museum terdapat Alquran Raksasa yang dipahat dengan media kayu tembesu yang terdiri dari 315 papan, dicat warna coklat, dan pahatan ayat Alquran dicat dengan warna emas.

Satu kepingan papan kayu memiliki berat sekitar 50 kilogram. Sedangkan total halaman di museum ini mencapai 630 halaman, lengkap dengan tajwid serta doa khatam Alquran.

Masing-masing papan berukuran panjang 166 centimeter, lebar 140 centimeter serta tebal 2,5 sentimeter. Bentuknya sangat unik karena kedua sisinya dihias dengan ukiran cukup rumit.

Pertanyaannya, siapakah pembuat Alquran raksasa tersebut? Ia bernama Sofwatillah Mohzaib atau biasa dipanggil Opat. Ia adalah pemuda yang sangat mencintai seni kaligrafi.

Menurut pengakuannya, Alquran raksasa dibuat setelah ia mengalami mimpi saat ia sedang kelelahan mengukir kalirafi ornament pintu di Masjid Agung Palembang.

Mimpi yang dialaminya sangat unik. Ia merasa mendapat isyarat agar membuat Alquran terbesar di dunia. Mimpi itu kemudian diwujudkan secara bertahap dengan perencanaan yang matang.

Ia memulai karyanya dengan memahat isi surat Al-Fatiha. Pahatan itu kemudian dipamerkan di Masjid Agung Palembang. Ia berharap ada donatur yang terketuk hatinya dan mau membantunya dalam mewujudkan impiannya. Harapannya tidak sia-sia, Bantuan pun mengalir.

Dalam suatu acara peringatan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1423 atau 15 Maret 2002, Sofwatillah Mohzaib  berhasil memamerkan keseluruhan Alquran raksasa yang melibatkan 35 orang. Mereka terdiri dari 5 orang menjadi pengukir dan 30 orang lainnya sebagai pemahat.

Walaupun bekerja bersama 35 orang, jangan dibayangkan pekerjaan itu bisa berlangsung dengan cepat. Pembuatan Alquran Raksasa itu baru selesai setelah melalui tujuh tahun kerja keras dan memakan biaya hingga sekitar Rp1,2 Miliar.

Proses pembuatan yang memakan waktu lama disebabkan karena keterbatasan dana. Sofwatillah Mohzaib harus terus-menerus menggalang dana, sementara pembuatan terus berlangsung setahap demi setahap.

Di sisi lain, bahan baku tembesu juga tidak berlimpah. Harga kayu tidak stabil, bahkan terus naik. Mulanya hanya Rp2 juta per kubik, terus naik harganya hingga Rp10 Juta per kubik.

Dengan kesabaran dan bantuan para donatur, semua akhirnya bisa dilalui.  Alquran Raksasa itu pun akhirnya selesai. Jerih payah Sofwatillah Mohzaib dan kawan-kawannya serta berkat bantuan para donatur tidak sia-sia.

Sebagai gambaran cara pembuatannya, seperti dikisahkan Sofwatillah Mohzaib, sebelum memahat, tulisan ayat Alquran ditulis terlebih dahulu di atas karton kemudian dijiplak ke dalam kertas minyak.

Pekerjaan ini harus dilakukan dengan penuh ketelitian agar tidak ada satu goresan pun yang mengalami kesalahan. Bila sudah yakin benar, kertas minyak itu menjadi panduan bagi tim pemahat memainkan alat pahat mereka.

Goresan demi goresan pun selesai. Setelah itu dilakukan pewarnaan. Hasilnya pun sempurna dan begitu indah. Siapapun yang berkuncung dan melihatnya akan berdecak kagum.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber